Loading…

Tua Bangka

Sebut saja ia Tua Bangka, kawan saya menjulukinya demikian. Tak perlu kita tahu nama aslinya, darimana asalnya, dan apa tujuan hidupnya karena memang tidak terlalu penting. Ia tak lebih dari seorang Tua Bangka yang tak suka dibantah. Kawan saya sang pemberi julukan, yang saya tahu paling keras kepala pun akhirnya diam jika antara mereka saling berdebat. Bukan apa-apa, hanya malas melanjutkan jika yang terjadi hanya debat kusir tak berujung.

Ia seorang Tua Bangka, berkata-kata seperti suatu ketika seorang pastor bersabda, seringkali dengan bonus air ludah yang muncrat kemana-mana. Ucapannya hampir selalu bernada tinggi. Manakala titahnya dibahasakan tulis, maka tanda seru di belakang kalimat selalu nyaris ada. Ia pastor nyentrik yang tak pernah bisa tidur awal, selalu tidur pagi, bangun lewat tengah hari.

Malam tadi ia berkata, “Jaman sekarang sudah canggih! Sudah tidak ada rumus rejeki habis dipatok ayam kalau kau bangun siang. Orang bisa cari rejeki malam hari!”

Tetap saja ia seorang Tua Bangka yang keras kepala. Jika di bawah hidungnya kita sudah berkata A, maka tak bisa berubah menjadi B. Jangankan B, menjadi A’ (baca : A aksen) pun ia tak akan sudi menerimanya dengan beribu alasan yang membuat A bergeser menjadi A aksen.

***

Tua Bangka itu berkata dalam hidupnya ia percaya segalanya manusia yang menentukan, Tuhan yang merencanakan. Tunggu! Kurang tepat. Tuhan yang merencanakan terlebih dahulu, manusia menentukan kemudian.

“Kalaulah Tuhan merencanakan saya jadi orang baik, masuk surga, lalu saya menginginkan jadi orang jahat dan masuk neraka, lantas Tuhan mau apa?!”

Begitu titahnya ketika mengomentari berita malam yang mengabarkan sebuah ormas melakukan pengrusakan tempat hiburan berkedok razia penyakit masyarakat.

“Tuhan dan Nabi saja tidak pernah memaksakan seseorang untuk ikut agamanya. Hanya kasih perintah untuk ikut satu agama, kan?! Lalu kenapa manusia-manusia ini mesti melakukan pengrusakan untuk memaksa orang ikut pendapat mereka kalau tempat-tempat hiburan itu buruk?! Emangnya yang mereka lakukan itu baik?!”

***

Tua Bangka punya anak perempuan. Mau tahu apa yang ia wejangkan pada mereka?

“Nak, kau bebas melakukan apa saja! Apapun asal kau tidak terlibat narkoba dan kau tidak hamil!”

Kawan-kawannya berkata padanya. “Gila kau!”

Ia berkilah, “Hei! Jaman saya dulu muda juga sudah banyak rusak anak mudanya! Apalagi jaman sekarang?! Ngelarang-larang anak bikin anak stres, orangtuanya makin stres! Jadi buat apa saya larang-larang?! Terserah dia mau melakukan apa saja, asal tidak terlibat narkoba dan tidak hamil!”

***

Tua Bangka suka bertaruh. Ia bilang dalam sepuluh perintah Tuhan tidak ada larangan bertaruh. Begitu pun untuk minum-minuman keras. Yang ada hanya larangan untuk mabuk.

“Kalau kau minum sampai mabuk, berarti kau sudah melanggar sepuluh perintah Tuhan! Kalau kau minum, lalu tidur, bangunmu segar, lalu kau merasa lebih sehat bukannya minum kau itu jadi obat!”

Meskipun demikian, ia tak suka minum-minuman keras. Andai diminta memilih, ia lebih suka wanita. Ia tak pernah peduli tipe wanita ideal.

“Kalau kau buat tipe-tipe wanita ideal, yang kau suka karena rambutnya panjang, kulitnya putih, tinggi dan langsing sama saja buat kau menanam bibit impotensi di dalam diri kau! Secara tidak sadar kau akan impotensi!

“Begini, kau kawin sama perempuan pilihanmu karena sesuai dengan tipe ideal kau. Lalu barang kau bisa berdiri, kau bisa puas bersetubuh. Lantas jika istri kau menjadi tua, keriput, dan gembrot, secara bawah sadar barang kau juga akan memilih-milih kapan waktunya berdiri! Itu awal dari semua impotensi! Pilih-pilih wanita sesuai tipe ideal dan barangmu baru bisa berdiri kalau sesuai tipe!

“Kalau saya? Semua saya hantam! Mau tua muda kurus gendut hitam putih saya tak pernah pusingkan!”

“Yang penting ada lubang, dan ia bisa ngangkang kan Pak?!” sambut kawan saya.
Ia tergelak.

***

Ia pernah berkata, “Orang jujur dengan orang bodoh itu beda tipis. Orang jadi bodoh kalau terlalu pakai hati, orang jadi kejam kalau terlalu pakai otak. Seimbangkan dulu kalau kau lihat sesuatu, dari mata naik ke kepala, turun ke hati, baru naikkan lagi ke kepala.”

Berceritalah kawan saya yang menemukan sebuah ponsel kala ia mengambil uang di ATM. Ia serahkan ponsel itu pada satpam penjaga ATM, berharap yang punya mencari dan satpam penjaga ATM akan mengembalikannya pada si empunya ponsel.

“Itu jujur atau bodoh Pak?” tanya kawan saya.

“Perbuatanmu itu baik, kau jujur tetapi kau bodoh! Itu contoh yang tadi kubilang, jujur dengan bodoh beda tipis!”

Saya memikirkan hal yang sama, mungkin kalau saya yang menemukan ponsel tersebut akan saya tunggu si empunya ponsel menelepon, janjian bertemu di satu tempat dan mengembalikannya pada si empunya. Bukannya diberikan kepada satpam yang entah mengembalikannya atau tidak.

Tua Bangka berkata, “Kalau saya yang menemukan ponsel itu, bakalan saya lepas kartunya, saya jual dan uangnya saya pakai senang-senang. Saya tidak pusing!”

Ia tertawa sambil lalu, menuju mobil, menstarter dan mengarahkannya keluar pagar, meninggalkan kami yang terheran-heran dengan isi kepala Tua Bangka satu itu.

Leave a Reply