Loading…

Tentang Isyana Sarasvati

Teman-teman dekat saya sudah ndak heran lagi dengan kebiasaan saya yang satu ini, kalau ada artis pendatang baru terusan cakep langsung saya menderita halusinasi, mirip kena waham kalau saya adalah belahan jiwa artis pendatang baru tersebut. Korbannya mulai dari kakak Raisa Andriana yang dulu sering bikin melting tetapi sekarang sudah tidak lagi karena pacaran sama Keenan Pearce, adik Pevita Pearce yang uwel-uwel-able, dan ayang Chelsea Islan yang … *ah sudahlah ndak usah dibahas lagi.

Kali ini korban baru halusinasi saya adalah ayang Isyana Sarasvati.

Isyana Sarasvati

Kebiasaan lama saya yang lain adalah tahu duluan perempuan itu cantik dan ndak memikirkan apa profesinya, terkenal atau ndak. Cantik, enak dipandang, pencet tombol follow, selesai perkara. Seperti cinta pada pandangan pertama yang ndak mandang latar belakang. Hal ini juga berlaku pada mbak @rarasekar yang ternyata vokalisnya Banda Neira. Saya suka nama Rara Sekar, iseng mencari di Instagram. Cantik, kebetulan bisa menyanyi dan sialnya suaranya lembut.

Seperti itu juga cara saya bertemu ayang Isyana Sarasvati.

***

Baik, saya ndak akan menuliskan puisi rayuan gombal cinta untuk memuja-muja kecantikan ala Kahlil Gibran. Saya cuma ingin mereview ala-ala pengamat musik kelas profesional padahal buta nada ­čśÇ seorang Isyana Sarasvati tentang sepak terjangnya sebagai pendatang baru di dunia tarik suara.

Buat yang ngerasa Isyana Sarasvati punya suara yang biasa-biasa aja kudu lihat video ini!

Masih kurang skillful main pianonya? Harus banget lihat yang ini!

Apa komentar sampeyan? Bakalan sama seperti saya pastinya, cantik (banget), memiliki skill bermain piano dan kualitas vokal yang di atas rata-rata. Mengapa saya bilang “masih di atas rata-rata”? Karena menurut saya Isyana Sarasvati masih belum punya ‘signature voice’ yang begitu kita denger langsung ‘klik’ menyala di kepala, “Oh itu suaranya Isyana Sarasvati.” Tapi yakinlah, Isyana sudah punya modal berharga mengarungi kerasnya dunia tarik suara Indonesia.

Jadi ceritanya Isyana Sarasvati sudah bernaung dibawah Sony Music Indonesia, sudah mengeluarkan single berjudul Keep Being You (2014) dan Tetap Dalam Jiwa (2015). Begini penampakan salah satu videonya.

Bagaimana pendapat sampeyan? Secara subyektif saya akan berpendapat lagu yang ia tulis sendiri ini biasa-biasa saja dari segi kualitas dan teknik vokal. Begitu juga dengan permainan piano, terdengar sangat biasa jika dibandingkan dengan demo tiga video di atas. Lagu seperti ini bukan kelasnya Isyana. Ia sudah memiliki modal akademis yang cukup baik di bidang seni. Saya yakin, lulusan Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura dan Royal College of Music, Britania Raya ini akan bisa menulis lagu yang tidak kacangan dan menyanyikannya dengan jauh lebih baik andai ia mau lebih membuka jiwanya.

Saya membayangkan Isyana menarikan jari pada tuts pianonya dengan nada dan tempo yang merambat naik perlahan. Tarikan vokalnya yang khas warna opera, naik turun membakar jiwa menghipnotis pendengarnya, dan para penonton di setiap konsernya akan terdiam, mematung dan bertanya-tanya, “Keajaiban dari Tuhan mana lagi yang kamu sangsikan di depan matamu?”

Wuih!
Ia bisa lebih dari sekadar diva. Isyana masih sangat muda, 22 tahun. Masih banyak waktu untuk mengasah naluri seorang pekerja seni yang bisa menulis lagu dan menyanyikannya dengan jiwa. Juga perlu produser yang jeli melihat bakat seorang Isyana Sarasvati dari sisi ini, bukan hanya sekadar mengeksploitasi dari segi kecantikan dan produksi lagu-lagu yang terkesan seadanya. Sayang sekali jika modal kecantikan, bakat, skill dan latar belakang akademis yang luar biasa ini terbuang sia-sia hanya untuk memenuhi target penjualan single atau album.

Isyana Sarasvati bisa lebih dari itu, mungkin ia bisa berguru pada @sudjiwotedjo untuk membuka selubung jiwa seni yang hari ini belum tersingkap seutuhnya.

Leave a Reply