Loading…

Sikat Gigi

image

“Kamu tampan kalau sedang menyikat gigi.” Aku hampir ingat pernah mendengar penggalan kalimat itu entah di mana. Diucapkan oleh seorang perempuan pada lelakinya. Ah! Kalimat itu terucap dari bibir Rana kepada Ferre di salah satu bagian novel Supernova : Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.

Aku berjongkok menatap keramik lantai yang berwarna putih bersemu merah jambu. Tangan kiri memegang sikat gigi berjenis bulu medium. Tidaklah aku terbiasa menggunakan tangan kiri, tetapi khusus untuk aktifitas rutin dua kali sehari ini aku menggunakan tangan kiriku. Semua karena siaran televisi yang beberapa bulan lalu kutonton.

“Untuk keseimbangan fungsi otak, jangan melulu gunakan tangan dominanmu, berdayakan tangan lainnya untuk melakukan beberapa hal. Pengguna tangan kanan dapat menggunakan tangan kirinya untuk misalnya menyikat gigi atau memegang gayung mandi.”

Ya, kurasa Tuhan menciptakan manusia kedua belah tangan untuk digunakan bekerja sama bersama-sama. Aku sadar benar diciptakannya tangan kiriku tidak melulu digunakan untuk cebok. Sejak itu aku mulai menggunakan tangan kiriku untuk menyikat gigi.

***

Kulepehkan busa di dalam mulut, meleleh di lantai bercampur ludah. Kubayangkan penampilanku sekarang dan bertanya pada diri sendiri, “Tampan darimananya? Hih!” Iklan-iklan pasta gigi di televisi tak pernah merelakan model tampannya menyikat gigi dengan penuh busa berleleran di sudut bibir. Hanya model berupa gigi-gigian atau telur yang dicelup larutan asam dengan dua variabel : satu tanpa pasta gigi sebagai variabel bebas, satu dengan pasta gigi sebagai variabel kontrol. Dan lihat, mana yang hancur keropos diterpa badai asam, entah asam klorida entah peroksida air.

Tak ada cermin di kamar mandi rumah kontrakanku untuk melihat wujudku sekarang, pun wastafel. Jadilah aku telanjang bulat, berjongkok, melamun memandangi lantai kamar mandi. Kulayangkan pandang ke sudut bawah tembok yang berkerak kuning. Mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali kubersihkan.

Tujuh minggu lalu kubersihkan tembok kamar mandi ini, kusikat bersih semua kotoran kuning-kuning yang melekat di tembok kamar mandi. Kotoran entah cipratan sisa air kencing, entah air sabun yang membawa daki di badan, dan bukan mungkin kotoran tinja. Mengapa lantas aku ingat? Karena tepat tujuh minggu lalu pacarku datang, dan kita bercinta.

Ya, buatku perkara menyikat kamar mandi lebih dari sekadar menjaga gengsi. Tak mungkin kubiarkan pacarku mandi di kamar mandi yang penuh dengan bekas kuning cipratan air kencing di temboknya. Hidupku bolehlah berantakan, tetapi setidaknya jagalah kebersihan, lalu kerapian nomor sekian. Toh pada akhirnya pacarku yang datang ke rumah kontrakanku sore hari tujuh minggu lalu dalam kondisi berpakaian rapi, kubuat berantakan dengan kemeja yang tercecer di lantai, rok yang terlempar di meja, dan pakaian dalam yang bertebaran entah dimana. Malam harinya sewaktu pacarku hendak pamit pulang setelah mandi, ia bertanya padaku kemana aku melempar bra dan celana dalamnya.

“Aku lupa, nafsu membuatku buta,” kujawab saja demikian sambil melangkah gontai ke kamar mandi.

***

Ya, kerapian memang nomor sekian dan pagi ini isi kepalaku berantakan. Waktu menyikat gigi kulampiaskan pada dendam lamunan yang tak kunjung tuntas. Orang biasa melamun dan menemukan ide segar pada saat buang air besar. Aku tak ingin, tak bisa mengeluarkan tinja dari dalam usus besar.

Kugerakkan sikat gigi dalam-dalam, agar kepala sikat dapat menjangkau gigi paling belakang, geraham bungsu yang sebentar lagi lahir. Gusi belakangku sudah mengeras. Kutekankan pada geraham di depannya, berharap karang gigi yang menempel bisa terkikis sedikit demi sedikit.

Busa bercampur liur, menohok anak tekak. Aku berusaha keras tidak menelannya. Gelombang yang terjadi selanjutnya berasal dari perut, naik semakin cepat bersama mual yang tak tertahankan. Kumuntahkan busa bercampur liur, sedikit dahak, bercampur sepercik darah yang bersumber dari benturan kepala sikat dengan gusi yang kutekankan sedikit brutal tadi. Merah menggenang, berenang di gumpalan busa putih.

Darah.
Aku menunggu datangnya darah, menunggu kabar pacarku berdarah-darah. Sudah dua setengah minggu ia terlambat menstruasi dan ia mengirimiku pesan bernada panik pagi ini.

“Bagaimana jika aku hamil nanti?” tanyanya.
“Bagaimana jika ia kubuat berdarah-darah nanti?” pikirku.

Aku beranjak berdiri, kuambil gayung berisi air, berkumur. Aku mandi.

Leave a Reply