Loading…

Selalu Katakan “Tidak!”

Awalnya dari linimasa twitter. Waktu itu seorang pakar food combining sedang menyarankan sesuatu kepada beberapa follower yang bertanya padanya.

Untitled
Seperti terlihat pada screenshot, gambar pertama menanyakan nyeri pada perut dan bawah payudara sebelah kiri. Penanya kedua menanyakan mengapa ia masih batuk padahal food combining sudah ia jalankan. Dan @erikarlebang selaku pakar menjawab senada agar para penanya melakukan food combining secara konsisten, kerjakan secara benar food combiningnya.

Saya bisa menerima logika kalau food combining itu emang buat kesehatan pencernaan dan terjaminnya penyerapan makanan secara maksimal. Saya pun mulai melakukan food combining, pagi rutin makan buah hingga sebelum makan siang, siang baru makan nasi, dan malam hari perut jangan sampai dibiarkan kosong. Manfaatnya? Pencernaan saya lebih baik, buang air besar lebih teratur.

Tetapi, yang saya perlu garis bawahi disini. Saat kita sakit, ndak bisa juga semuanya diselesaikan dengan food combining. Sakit yang bisa kita tangani? Minum obat. Yang ndak bisa ditangani? Ya ke dokter! Bayangkan kalau misalnya ada hal lain pada sakitnya perut sebelah kiri yang mbak @AnggunMT alami tanpa konsultasi ke dokter dan bersikukuh melanjutkan food combiningnya. Jika semakin parah apakah @erikarlebang selaku pakar yang menyarankan pola makan tersebut mau menggaransi segala sarannya?

Kalau dokter sudah berkata apa, tahu sakitnya apa, mengapa, dan bagaimana menanganinya, boleh saja melanjutkan food combining. Menurut saya yang awam mengenai ilmu kesehatan meskipun kekasih saya perawat, food combining dan segala macam pengaturan pola makan itu bersifat preventif (mencegah) bukannya kuratif (mengobati). Sekarang andai sudah sakit, masa tetap pertama kali melakukan tindakan pencegahan bukannya pengobatan?

Analoginya seperti seseorang naik motor di jalan raya, sudah lengkap dan sudah mematuhi peraturan lalu lintas lalu terjadi kecelakaan, masihkah kita akan bilang, “Hati-hati Mas naik motornya, nanti jatuh.” Macam lawakan anak ABG saja kan? Seharusnya @erikarlebang lebih berhati-hati dalam memberikan saran edukatif kepada para followersnya. Banyak sekali followers yang awam dan tidak tahu menahu mengenai masalah kesehatan dan bertanya pada yang lebih tahu.

Seorang yang lebih tahu tersebut haruslah memiliki dasar secara ilmiah yang asalnya dari riset, bukan berfatwa hanya murni berdasarkan “ini lho buktinya, faktanya demikian kan?” Dan riset tersebut haruslah diuji terus menerus dengan berbagai metode, berbagai variabel, dan berbagai sumber untuk mendapatkan hasil yang valid. Itu baru bisa disebut ilmiah.

***

Bertahun lalu saya mendapatkan kuliah stratigrafi analisis dari Dr.Djuhaeni dan pernah menuliskannya di blog lama saya yang masih alay.  Beliau memiliki gaya mengajar seperti mendoktrin, kawan saya bahkan bilang beliau komunis saking strict-nya pada hal-hal yang ia ajarkan. Beliau selalu berkata pada mahasiswanya, “Tidak! Jangan percaya akan apapun yang disampaikan oleh siapapun,” termasuk di dalamnya materi yang beliau sampaikan. Beliau mengajarkan kita berpikir agar tidak menelan mentah-mentah apa yang orang lain sampaikan, telaah selalu terlebih dahulu. Disisi lain “Tidak!” membuat kita berpikir dua kali, membuat kita mencari tahu mengapa hal tersebut bisa menjadi sedemikian rupa. Efek berpikir dua kali itulah yang membuat kita lebih memahami sesuatu yang disampaikan.

Katakan “Tidak!” untuk apapun!
Ini bukan slogan antikorupsi partai politik. Walaupun ujung dari kata “Tidak!” itu adalah “Tidak tahu”, akan jauh lebih baik demikian daripada berkata “Ya” dalam konteks pura-pura, baik pura-pura tahu maupun sok tahu seperti yang umumnya kita lakukan karena malas mendengarkan ocehan dan malas mencari tahu.

Dibalik berkata “Tidak!” kita akan belajar untuk menemukan mainstream baru, menemukan metode baru dengan munculnya pola pikir yang baru, karena tidak semua hal di alam ini berjalan ideal seperti yang diterangkan oleh diagram, klasifikasi, model, teori atau bahkan hukum-hukum yang disampaikan oleh literatur manapun.

“Tidak!” mengajarkan kita untuk menemukan model baru, menemukan hal yang baru sejauh yang kita amati. Bahkan “Tidak!” juga mengajarkan kita untuk melawan hukum alam. Buktinya, ada banyak rekayasa ilmiah untuk melawan hukum gravitasi. Ilmuwan dari CERN saja dapat melawan teori relativitas dan hukum kekekalan energi dengan diciptakannya antimateri, jika mengacu pada buku Dan Brown – Angels and Demons.

Berawal dari kata “Tidak!” kita belajar untuk bebas, sebebas mungkin!

***

Pada hukum alam saja dapat kita bilang, “Tidak!” mengapa kita harus menelan bulat-bulat ocehan para “Pakar” dan “Ahli” di twitter sana yang seringkali tidak ilmiah dan tidak masuk logika. Jangankan yang tidak masuk logika ilmiah, yang secara logika ilmiah saja masih bisa disanggah? Yang menyanggah saja seringkali memelintir fakta.

Cari tahu, selalu cari tahu sebelum memutuskan untuk meyakini sesuatu, selalu berkata “Tidak!” terlebih dahulu.
Dan saya akan mengakhiri tulisan ini dengan cara yang sama dengan tulisan lama saya, “Jangan sekali-kali berkata tidak pada hukum Tuhan, pada segala yang sudah Tuhan tetapkan kecuali kalau mau kualat.”
Nah lho?!

Leave a Reply