Loading…

Seekor Lalat yang Terbang di Dalam Bus

Aku sedang berada di dalam bus, sebuah perjalanan ditemani hujan dan langit kelabu. Sesekali kilat menyambar membelah langit. Bus selalu membuat perutku kembung. Layaknya angin di dalam roda, ia bergoyang naik turun mengikuti gelombang jalan seolah tak mau diam di tempat.

“Kamu alergi dengan kendaraan beroda angin, Sayang. Ia akan menyamai perutmu, kembung dan masuk angin,” demikian ucap istriku dengan bibir cerewetnya.

Menahan mual, aku melihat seekor lalat yang hinggap di jendela memandangi hujan. Aku tak tahu sebesar apa ukuran otak lalat, hanya saja aku yakin tak akan lebih besar dari tahinya yang melekat di bibir bawah istriku. Maksudku bukan bibir yang ‘itu’, memang ada tahi lalat di bawah bibir istriku. Bibir yang cerewet, yang selalu meminta kecup tiap pagi dan malam, yang anehnya selalu kuturuti.

Memikirkan ukuran otak lalat, aku yakin ia tak akan bisa membuat kalimat puitis dari langit kelabu dan hujan layaknya pujangga, bahkan dengan bahasa lalat sekalipun. Bisa jadi ia hanya akan berpikir, ‘Ini lebih gelap dari sebelumnya, dan dibalik kotak besar ini basah dan didalam sini aku tidak kebasahan’ atau mungkin si lalat tidak peduli dengan langit gelap dan kilat menyambar. Ia hanya terbang, terbang, dan hinggap.

Si lalat itu terbang kesana kemari, berputar dua jengkal di atas dahiku. Bola mataku membentuk sudut empat puluh lima derajat untuk menangkap gerakannya, ia masih terbang kesana kemari sementara bus berjalan dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam. Sebuah pertanyaan terbersit di benakku, “Apakah si lalat juga terbang ke depan searah bus dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam juga?”

Wahai Albert Einstein di alam kubur sana, apakah engkau bisa menjawab pertanyaanku tentang lalat yang terbang di dalam bus? Aku tak mau menanyakannya kepada ahli biologi karena ini menyangkut teori relativitas. Ke-serba-relatif-an sudut pandang manusia yang duduk diam di dalam bus dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam dengan lalat yang terbang mengikuti kecepatan dari bus.

Apakah lalat yang terbang itu melihat manusia yang duduk diam di dalam bus benar-benar diam atau bergerak mengikuti kemana bus melaju dengan kecepatan enam puluh kilometer per jam? Ataukah sebenarnya semua diam? Hanya bus saja yang bergerak, manusia dan lalat saling memandang satu sama lain dalam diam dan berpindah mengikuti bus melaju. Jangankan otak lalat, otak manusiaku pusing juga memikirkannya.

O Pak Yasin guru fisikaku dulu SMA, mungkin engkau bisa menjawab pertanyaan ini karena ku yakin engkau masih hidup ketimbang aku menanyakannya pada Albert Einstein yang sudah berpindah alam. Mungkin engkau akan mengutukku karena sewaktu dulu mengajarkan Teori Relativitas Einstein di dalam kelas, murid badungmu ini lebih banyak melamun untuk menghilangkan kantuk. Engkau pasti bisa menjelaskan bagaimana lalat bisa bergerak di dalam bus yang melaju kencang, bahkan lalat yang terbang dalam pesawat yang mengudara di angkasa sana.

Engkau pasti akan menjelaskannya dalam sistematika vektor sederhana, tak perlu repot menjelaskannya dalam sabda Einstein karena menurutku ia hanya berteori. Masih lebih mending Sir Isaac Newton karena ia mempunyai hukum. Tinggal sedikit lebih kepintaran dan kemauan saja maka aku yakin engkau akan mematenkan Hukum Yasin.

Ah, tetapi tidak mungkin. Engkau adalah guru yang diberkati kerendah hatian. Sudah cukup namamu diabadikan dalam buku yang senantiasa dibaca setiap ada orang meninggal atau setiap malam Jumat. Sudah cukup segala sujud syukur dalam hidupmu dengan segala tunjangan dan sertifikasi, ditambah lagi dengan anak didikmu yang selalu engkau motivasi untuk masuk ke perguruan tertinggi dan terima kasih karena telah menjadikanku seperti ini.

Berpikir tentang otak lalat yang tidak lebih besar dari tahi lalat di bawah bibir istriku terbukti efektif menghilangkan mual. Terlebih saat bus yang kunaiki ini berhenti di area peristirahatan, tempat aku bisa membeli lontong isi, tempe mendoan dan permen jahe untuk meredakan kembung di perut dan mual di mulut.

Bus akhirnya berhenti, pintu dibuka, dan lalat itu ikut terbang keluar bersama rombongan penumpang. Jika memang lalat itu terbang dengan kecepatan yang sama dengan bus, ia tak perlu lagi mengepakkan sayap secepat bus melaju saat ia terbang melewati pintu.

Sampai jumpa lagi lalat, mungkin lain kali kita akan bertemu di dalam pesawat.

Leave a Reply