Loading…

Saya Mau ke Makassar Ketemu Kipli

Saya adalah bekas mahasiswa geologi sebuah kampus negeri di Jawa Tengah. Dulu sekali saya pernah mengerjakan tugas akhir di Kabupaten Buol, Provinsi Sulawesi Tengah bertemakan ubahan batuan untuk menentukan potensi emas. Kipli adalah kawan saya mengerjakan tugas akhir di lapangan, ia mahasiswa dari sebuah perguruan tinggi swasta yang terkenal di Kota Makassar.

Namanya Zulkifli, kawan-kawan saya memanggil dia ‘Ciplay’, saya panggil dia Kipli seperti yang ia minta. Awal saya bertemu Kipli saat ia bercerita kena semprot dosen pembimbing lapangan karena terlambat penerbangan dari Makassar menuju Palu sebab terlambat bangun pagi. Dosen pembimbing yang sudah berada di Palu lebih dulu terpaksa menunda perjalanan ke Buol demi menunggu seorang Kipli.

Ketika Kipli datang, saya sudah lima minggu di lapangan mengambil data. Tersisa satu minggu untuk menyelesaikan pengambilan data sekaligus memberi arahan pada Kipli dalam hal pengambilan data. Kami berbeda jurusan, saya dari jurusan Geologi yang notabene berurusan dengan pengambilan data geologi, sementara Kipli berasal dari jurusan Pertambangan. Saya lebih berurusan dengan tahapan awal kegiatan tambang, Kipli berurusan dengan tahapan kegiatan tambang yang lebih lanjut. Tema yang Kipli ajukan untuk tugas akhir mengharuskannya belajar metode pengambilan data geologi yang tidak ia pelajari di bangku kuliahnya.

Begitulah awal perkenalan kami dengan ia yang sering bertanya, “Ini batu apa Yo? Ubahannya apa? Mineralnya apa saja? Sampelnya diambil tidak?” pada setiap singkapan batuan di tengah derasnya arus sungai dan dinginnya udara hutan Buol.

***

Kalau saya dan Huzaely, partner saya mengambil data membutuhkan waktu 6 minggu untuk mengambil data, maka Kipli dan Bang Hikmah, partnernya membutuhkan waktu 6 bulan di hutan Buol. Dosen pembimbing lapangan kami menganggap data dan ilmu yang diperoleh Kipli dan Bang Hikmah belum cukup untuk menyelesaikan tugas akhir.

Setelah 6 bulan berlalu, Kipli masih harus menyelesaikan laporan. Diminta ia ke pulau Jawa untuk menyelesaikan laporan dibawah bimbingan dosen pembimbing lapangan yang enggan jika harus bolak-balik Jawa Tengah – Makassar. Selama ia di Jawa, ia ditampung di rumah kontrakan kami.

Apakah Kipli mengerjakan laporan? Pemuda harapan bangsa ini selalu punya alasan untuk menunda mengerjakan laporan. Ditambah dengan kami anak-anak kontrakan yang selalu memanas-manasi dengan, “Ayolah Pli, kapan lagi kau main-main di Pulau Jawa ini? Laporan pasti selesai, tenang ada kami, nanti kami bantu. Tapi sekarang ayo kita jalan-jalan dulu!”

Pada akhirnya kami pergi ke Dieng, menyaksikan pergelaran Dieng Culture Festival. Kipli mengeluh sembari menggeletukkan gigi, “Doh! Kupikir hutan Buol sudah dingin, ternyata masih ada tempat yang lebih dingin juga.”

Laporan Kipli selesai setelah dua bulan setengah ia ada di rumah kontrakan kami. Ia pulang ke Makassar menjelang lebaran, membawa laporan yang akhirnya mendapat acc dosen pembimbing setelah revisi berulang kali dan Kipli yang stres berkali-kali.

***

Traveloka mengadakan kontes menulis berhadiah tiket Citilink untuk 20 orang pemenang. Siapa tak hendak? Saya ingin sekali ganti mengunjungi Kipli di Makassar. Ingin ganti ajak dia mengunjungi ragam pesona wisata dan budaya kota Makassar. Lama sekali tak bersua, saya akan memanfaatkannya berhubung ada kesempatan dan GRATIS!

Saya mau ke Pantai Losari, berfoto mainstream di tulisan besar Pantai Losari di hamparan matahari terbenam, makan Coto Makassar, membeli kain sutera khas di pasar seni Makassar, dan satu lagi yang tak kalah penting : saya ingin ke Bantimala, mengunjungi salah satu lokasi terdapatnya batuan tertua di Indonesia. Membuktikan bahwa Pulau Jawa dan Sulawesi dulunya pernah tersambung jadi satu.

Saya akan melakukannya bersama Kipli, ia akan bercerita segala tentang kota Makassar, saya akan bercerita tentang batuan apa yang sama dan berbeda antara Bantimala dan Pulau Jawa. Ia mungkin sudah lupa ilmu batuan, dan kita akan saling bercerita sembari mengenang masa lalu, mengenang betapa curamnya medan di hutan Buol, berbahayanya sungai disana ketika hujan, dan betapa enaknya belut sungai Sogili berkuah santan kuning pedas yang dibuat oleh Aping, koki kami dulu.

Baiklah, saya memilih keberangkatan hari Rabu tanggal 10 Juni 2015 dan pulang tanggal 14 Juni 2015. Saya pilih tanggal tersebut karena akan tepat sekali melakukan perjalanan bersama kawan yang lama tidak dijumpai sebelum puasa Ramadhan. Saya masih akan memiliki waktu beberapa hari untuk mempersiapkan puasa Ramadhan di rumah yang jatuh sekitar tanggal 17-18 Juli 2015.

Andai Kipli tidak libur dari pekerjaannya saya hanya akan bilang, “Begitu kau Pli, ada kawan datang jauh-jauh dari Jawa untuk tengok kau masih saja kau tinggal kerja.” Niscaya Kipli pasti akan meminta ijin pada atasannya.

Here comes the itinerary
Rabu, 10 Juni 2015 —> Perjalanan dari CGK-UPL, Jakarta-Makassar naik pesawat Citilink. Check in di Fave Hotel Makassar.
Kamis, 11 Juni 2015 —> Keliling kota Makassar, hendak kemana terserah Kipli, dia yang jadi tour guide yang penting agenda : wisata kuliner Makassar, belanja kain sutera khas di pasar seni Makassar untuk oleh-oleh dan seserahan nikah, foto senja di pantai Losari dan ngopi-ngopi sampai malam hari sambil mengenang masa lalu ndak boleh terlupakan.
Jum’at – Sabtu, 12-13 Juni 2015 —> Geowisata Bantimala, melihat batuan tertua di Indonesia berumur 111 juta tahun lalu, mengamati bukti bahwa batuan di Jawa akan sama atau berbeda dengan Sulawesi, apakah mereka dulunya pernah bersatu atau terpisah. Barangkali kami bisa menemukan fosil dinosaurus, atau bongkah batu akik yang bisa kita angkut dan kita jual, lalu kita akan kaya. 😀
Minggu, 14 Juni 2015 —> check out dari Fave Hotel, pulang ke Pulau Jawa naik pesawat Citilink. Dadah Kipli, sampe ketemu lagi!

***

Citilink adalah salah satu maskapai penerbangan dengan harga murah, pelayanan ramah, dan tepat waktu. Ia akan tepat sekali menemani saya mengunjungi Kipli di Makassar. Berhubung sekarang mau pesan tiket pesawat sudah begitu mudah, maka saya tinggal klik aplikasi Traveloka di ponsel Android saya. Begini screenshotnya :

PhotoGrid_1433288650522

 

Saya sudah bukan mahasiswa lagi yang hobi nebeng tidur di rumah kos atau kontrakan teman. Pilihan saya kali ini jatuh ke Fave Hotel yang saya pesan via aplikasi Traveloka seperti ini :

PhotoGrid_1433288523373

Fave Hotel bukan sembarang hotel lho. Hotel ‘anak’nya Aston ini menawarkan kualitas berkelas, kamar yang menyenangkan dan baru, serta memiliki lingkungan yang ramah dan harga terjangkau, plus standarisasi kebersihan dan keamanan yang terjamin. Lokasinya yang dekat dengan pusat kota Makassar akan memudahkan saya bepergian dan jalan-jalan bersama Kipli. Lokasi hotel yang berdekatan dengan pantai Losari mengharuskan saya memilih kamar yang jendelanya menghadap langsung ke Pantai Losari! Hehehe..

Perjalanan saya kali ini tidak akan terwujud kalau tidak ada bantuan dari aplikasi Traveloka. Kini, mau pesan tiket pesawat kemanapun bisa, begitu pun dengan pesan hotel. Desainnya yang simpel dan tidak merepotkan untuk memesan tiket pesawat dan hotel, proses pencarian yang mudah dan langsung muncul info lengkap serta review-nya, harga yang lebih murah dari situs internal dan seringnya notifikasi promo yang langsung ditujukan ke pengguna membuat saya berpikir, “Ini dia aplikasi traveling terbaik yang selama ini saya cari.”

Leave a Reply