Loading…

Saya dan Agama

LOGO RELIGIÓN NO CONFESIONAL

Sewaktu kecil, saya belajar mengaji iqra’. Huruf hijaiyyah a-ba-ta-tsa yang saya pelajari adalah aksara kedua yang saya kenal setelah huruf alfabet a-b-c-d, sementara aksara Jawa ha-na-ca-ra-ka menempati urutan ketiga. Tempat saya mengaji jauh, jauh bagi saya yang sedari kecil tidak pernah kemana-mana kalau tidak dengan Papah atau Mamah. Tempat saya mengaji harus ditempuh berjalan kaki selama sepuluh menit dengan langkah kaki kecil anak berumur empat tahun diantar kakak tetangga rumah. Tidak banyak yang saya ingat waktu itu, saya yang belum masuk sekolah hanya bisa mengingat sepulang mengaji adalah jadwal menonton Ksatria Baja Hitam RX di televisi. Andai siaran televisinya diacak, saya akan menangis.

Pelajaran mengaji saya lebih intensif ketika saya masuk sekolah dasar. Kebetulan masjid yang terletak tidak jauh di sebelah utara rumah membuka tempat mengaji untuk anak-anak seumuran saya. Sesi mengaji kali ini dimulai tepat setelah salat ashar hingga pukul lima sore, pulang mengaji dilanjutkan dengan sesi main bola di halaman rumah hingga adzan maghrib berkumandang. Jadwal mengaji saya Senin, Rabu, Jumat, Minggu.

Beberapa kali berganti tempat mengaji, saya tidak ingat persis mengapa saya mengaji berpindah-pindah tempat. Bisa jadi karena permintaaan orang tua saya, keinginan saya pribadi, atau bubarnya santri di tempat mengaji lama karena ustadznya merantau ke kota besar sehingga tidak ada yang mengajar. Meskipun demikian, perpindahan tempat mengaji selama sekolah dasar itu memberi saya tambahan ilmu pengetahuan yang menjadi bekal saya hingga saat ini dari ilmu fiqh, akhlaq, tajwid, dan tarikh.

Karier mengaji saya boleh dibilang tamat ketika saya masuk sekolah menengah. Saya yang selama sekolah dasar tidak pernah kemana-mana, saat sekolah menengah yang harus bergerak lebih jauh dari rumah membuat saya seperti burung yang lepas dari sarangnya, kuda lepas dari kekangnya. Berbagai kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, bermain bersama teman-teman baru yang lebih jauh dari rumah, mengeksplorasi tempat-tempat baru yang selama enam tahun sekolah dasar belum pernah saya datangi membuat saya melupakan aktifitas mengaji rutin setiap sore.

***

Dari pelajaran PPKn sewaktu SD saya diajarkan agama yang diakui di Indonesia (masih) ada lima. Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dengan sedikit pengetahuan tentang tempat ibadah masing-masing agama. Tidak ada bayangan sama sekali tentang agama selain agama Islam yang saya anut karena teman-teman saya beragama sama. Barulah sedikit ada bayangan ketika ada anak baru datang ke sekolah kami, dia beragama Kristen.

Dia berbeda dengan kami kebanyakan, dia berangkat ke gereja di hari Minggu dan memelihara anjing, binatang yang kami waktu itu takuti karena suka menggonggong dan menggigit. Ditambah provokasi dan repetisi dari orang-orang sekitar betapa anjing itu najis. Hal itu membuat kami selalu menghindar saat melintas depan rumah kakeknya waktu berangkat sekolah. Akan tetapi, saya suka bermain dengannya karena koleksi mainannya banyak, lebih banyak daripada yang saya miliki.

Saya baru memahami kita berbeda agama saat saya membaca buku teks pelajaran agamanya. Waktu itu kita mengerjakan PR sepulang sekolah di rumah saya dan ia membawa buku teks pelajaran agama Kristen. Sepanjang siang, saya mendebat apa isi buku teks agamanya berbeda dengan apa yang diajarkan guru saya di sekolah dan ustadz di tempat mengaji. Siang itu kita berdebat, tetapi pada akhirnya tetap kita bermain bersama. Saya tidak terlalu tertarik dengan buku agamanya. Saya hanya merasa urusan bermain kita lebih menyenangkan.

Saking menyenangkannya kami, saya pernah membawanya ikut bermain ke masjid tempat saya mengaji. Saya pikir bisa mengajaknya ikut walaupun tidak harus masuk ke masjid, ia bisa menunggu di pelataran dan setelah saya selesai membaca iqra’ saya akan keluar dan kita akan bermain bersama teman-teman yang lain. Begitu kami sampai di masjid, teman-teman saya yang mengetahui ia berbeda agama berseru pada saya, “Ngapain kau ajak dia kesini? Dia kan orang Kristen? Orang Kristen bukan tempatnya di masjid!” Saya yang masih belum bisa berargumen hanya bisa melihat ia berbalik badan, melihat punggungnya menjauh pulang ke rumah. Sendirian.

***

Sekolah menengah pertama, saya mengenal lebih banyak teman yang memeluk agama selain Islam. Dalam satu kelas ada lima atau enam orang yang beragama Kristen dan Katolik. Berbeda dengan sewaktu sekolah dasar, teman-teman yang beragama Kristen dan Katolik akan keluar dari ruangan saat guru agama masuk kelas, sementara di sekolah dasar dulu tidak mengizinkan teman yang berbeda agama keluar saat jam pelajaran agama, mungkin karena khawatir ia akan pulang dan tidak kembali lagi ke sekolah. Guru agama tahu dia beragama Kristen, secara tidak langsung dia membolehkan teman saya melakukan hal apapun sepanjang tidak membuat gaduh.

Semakin bertambahnya umur, semakin banyak yang orang saya temui dengan latar belakang agamanya masing-masing. Sayangnya hari ini, banyak sekali orang yang sudah lupa pelajaran PPKn di sekolah dasar tentang bagaimana saling menghormati pemeluk agama lain. Banyak yang menuding agamamu salah, agamamu tidak pantas dibela, kamu salah menjalankan syariat agamamu sendiri, dan hal-hal lain yang memikirkannya saja sudah membuat saya lelah. Sudahlah, saya tidak ingin membahas lebih lanjut tentang mereka yang mengacungkan telunjuk ke jidat orang lain dan berbicara tentang kebenaran.

Kebenaran hanya milik Tuhan semata.

Leave a Reply