Loading…

Sang Begawan dan Cerita yang Bukan-Bukan

Sang Begawan, berkawan Sang Baka.
Orang memburu menganggapnya karunia.
Dianggapnya hidup selamanya adalah petaka.
“Apalah arti abadi dunia bila tak kenal siapa Sang Fana?”

Sang Begawan, dikutuk tak dapat mati.
Ia dimusuhi Sang Maut.

Bersabda Sang Maut,
“Mendekatlah aku tatkala kamu temukan apa yang lebih abadi daripada hidupmu.”

Sang Begawan berkelana mencari apa yang lebih abadi daripada hidup.
Lintang pukang ia menghindari orang-orang yang memburu jantungnya agar beroleh keabadian.
Para pemakan mentah bahasa konon yang bersebar dari lidah bersambung mulut.
Sang Begawan menginginkan mati, bukan dengan cara menyerah jantung pada pemburu.

***

Begawan tahu Tuhan abadi, mencarilah ia Tuhan dimana.
Sampailah ia di negeri semua orang saling memanggil ‘Nuan’,
tak ada sebutan ‘Tuan’, tak jua Tuhan.
Orang berkata, “Tuhan mati.”

Negeri itu milik Sang Puan paling cantik.
Bersayap bulu merak bersulam batik.
Elok Sang Puan membuat orang melupakan Tuhan.
Semua mata tunduk padanya.

Begawan bukan Nabi Sulaiman, tak punya Ia ketampanan pun kekayaan.
Hanya sedikit ketenaran kekekalan hidup dan nyawa yang terancam mati sana-sini.
Dan Sang Puan bukan sekadar Bilqis.
Ia lebih dari itu.

Terpana Begawan melihat Puan.
Ia dengan tatap mata tajam bak rajawali.
Hidung mancung tanpa cela, pinggang ramping bak kerengga,
bibirnya merah delima, tersenyum ia tampak gigi putih bak mutiara
Semakin rupawan dengan mahkota bersusun tiga.

Seketika Begawan lupa Tuhan. Ia menginginkan Puan.
“Puan…”
namanya bergaung di kepala, terbayang terbawa hingga alam mimpinya.

***

Suatu pagi menghadaplah Begawan pada Sang Puan.
Ia berlutut di depan altar bertatahkan emas berhiaskan permata.
“Oi Puan, berlututlah aku memujamu. Aku Begawan yang tak rupawan.
Tetapi bertemanlah aku dengan keabadian. Bolehkah ku bersanding denganmu?
Kupersembahkan padamu mahar berupa jantungku.”

“Nuan yang berlutut di altar emasku, bangunlah.
Relakah kamu mati untukku? Telah banyak orang memujaku, semua menginginkan agar ku bersanding dengan mereka.
Namun mereka melakukannya hanya karena nafsu semata, mereka menginginkan kecantikanku.
Sementara yang kuinginkan adalah hati yang tulus mencintai.”

“Wahai Puan, tidakkah cukup bagimu jantungku sebagai mahar?
Aku tak tahu seperti apa tulus cinta, aku hanya merelakan segala yang aku punya”

“Kembalilah Nuan seratus hari lagi. Jangan lihat wujudku.
Kita lihat apa keinginanmu mempersuntingku tulus atau semu.”

“Baik Puan, aku undur diri. Pintaku jangan terima pinangan lain lelaki selama seratus hari.”

***

Hari berbilang, tak terasa seratus hari telah usai.
Di hari yang dijanjikan Sang Begawan kembali menemui Sang Puan.
Ia kurus dan pucat pasi, tak lagi ingat makan, apalagi Tuhan.
Ia hanya tahu Puan, bersabar menanti seratus hari.

“Sang Puan, lihatlah aku kini. Sang Begawan yang kurus dan pucat pasi.
Ia menanti bagaimana keputusanmu.”

“Wahai Begawan, pertama kali ini aku memanggil nama bukan dengan Nuan.
Seratus hari ke belakang aku memimpikanmu sebagai orang yang memberikan jantungnya sebagai mahar untuk mempersuntingku. Kulihat engkau kini, kurus dan pucat pasi.
Jika bukan karena cinta, lantas apalagi?”

“Puan, relakah engkau bersanding denganku?”
“Tentu saja, Begawan.”

***

Sang Puan tak pernah percaya cinta dalam hidupnya.
Baginya semua lelaki sama, terbuai kecantikannya hanya untuk mempersuntingnya.
Kali ini ada lelaki datang menawarkan jantung sebagai mahar ditukar dengan kecantikan.
Sang Puan menginginkan keabadian, maka kecantikannya akan melegenda hingga akhir zaman.

Semarak pesta diadakan tujuh hari tujuh malam.
Para penduduk negeri, perempuan dan laki-laki berdecak kagum pada Sang Puan yang berhias di luar kebiasaan.
Teramat luar biasa sehingga mereka tak mampu mata menatapnya.

Tak juga mereka iri pada nasib Sang Begawan.
Wajarlah kata mereka, Sang Begawan memiliki jantung untuk diserahkan demi keabadian Sang Nuan.
“Ia baka, sementara kita fana.”

***

Sampailah mereka pada malam pertama.
Terpukau Sang Begawan pada Sang Puan tak bersandang.
Bercahaya tubuh telanjang di tepi ranjang.
Di bawah temaram lentera.

Sang Begawan perlahan mendekap Sang Puan.
Ditatapnya mata bak permata, dikecupnya bibir Sang Puan dengan penuh puji dan puja.
Kembang api bertebaran dari dasar jiwa, kebyarnya memenuhi pucuk imaji.
Tuhan datang, wujud-Nya hadir pada kecupan pertama dalam hidup Sang Begawan.

Tuhan dengan kesewenangan-Nya berbisik di pada Sang Begawan
tepat di detik selepas kecupan, di antara deret kembang api yang memenuhi kepala
membawanya dalam titik utuh kesadaran,

“Padanya yang rela melakukan apa saja, padanya yang ikhlas mempersembahkan nyawa
pada-Nya yang ada di dalam yang fana, bersembunyi pada segala rupa
ini cinta, dan Aku mengirimnya lewat mata, lewat manusia, lewat matahari dan udara.
Aku ada di mana-mana.”

Sang Begawan terkesiap, inikah perwujudan Tuhan Sang Maha Abadi?
Menjawablah ia,

“Puan, Telah kupersembahkan jantungku agar engkau hidup baka.
Maha cantik wujud di peluk raga ini akan abadi,
lebur bersama keinginanku untuk memiliki.

“Sang Puan Perawan Suci, kupersembahkan jantungku bersamayam rasa yang bersemi dari dasar hati.
Ia menyala bak kebyar kembang api. Padamu aku relakan seluruh hidupku.”

Kutukan Sang Begawan terangkat.
Telah ia temukan apa yang lebih abadi daripada hidupnya.
Hidup Sang Puan yang akan abadi kala ia menyerahkan jantung sebagai maharnya.
Sekaligus Tuhan yang ia temukan pada sebuah kecupan, dimana ia temukan cinta-Nya,
telah ia temukan Tuhan, berwujud Sang Puan.

Sang Maut mengendap-endap.
Bersamaan Sang Puan mengambil pisau dari balik bantal, menghunjamkannya pada dada Sang Begawan.
Yang satu tak sadar kutukan terangkat, yang lain bernafsu menginginkan keabadian.
Yang satu dipeluk kerelaan dan kebahagiaan
begitu menyadari cinta dan Tuhan bisa sedemikian indah dalam satu kecup sederhana.
Yang lain disaput selimut serakah.
Sang Puan menyelesaikan malamnya dengan tubuh telanjang bermandikan darah.

***

Tahun berbilang.
Sang Puan telah tua, tahu ajalnya akan tiba.
Ia tahu keabadian itu hanya tipu daya belaka.
tetapi Ia juga tahu cinta memang benar-benar ada.
Cinta Sang Begawan pada Sang Puan, andai sedari dulu ia percaya.

Leave a Reply