Loading…

Rhapsody of Rabbit and Monkey

Seorang lelaki berjender kelinci, rambutnya perak.
Ia mencintai memandang langit kala malam berlebih pada purnama,
yang menampilkan bayangan diri pada kelam rona cahaya.
Ia hanya suka kelabu siang hari, kala warna langit senada rambut, semasa mega bergumpal lembut.
Biru ia benci, karena tak ada dirinya di gumpal kapas yang kadang berbentuk sama,
tak ada lagi bayang diri seperti pada gantungan langit yang disebut purnama.
dan ia benci terik yang mengalahkan segala teduh walau cuma sepercik.

Dahulu sekali, perempuan kelinci rambut salju singkat menemani hidup lelaki.
Hanya saja ia mati, karena musim panas datang terlalu dini.
Perempuan kelinci menggigil kedinginan di bawah sengat baskara.
Kemudian di malam yang beranjak lebih beku, Sang Hyang Dewata mengangkat arwahnya menuju purnama.
Menjadi kelam bayang tempat lelaki kelinci tak henti memandang.
Menjadi satu alasan mengapa terik di atas biru begitu ia tidak suka.

***

Berbilang tahun berlalu.
Hari ini, sisa ranggas terakhir gugur daun berkelir jingga.
Perempuan berjender monyet berlari di antara pangkal kayu miana berwarna senada.
Rambutnya emas, kontras dengan tajamnya kuning rerumputan di telapaknya.
Ia tertawa riang, meniupkan dandelion yang hampir jarang.
Dandelion beterbangan, berkat hembus bibir lembut dari pipi yang menggembung menggemaskan.

Satu dandelion hinggap di bahu lelaki kelinci,
tiga mendarat di rambut, lima di punggung, lelaki kelinci terbangun dari lamun,
mengamati kelabu dandelion yang tersamar benang emas yang ia ambil dari ujung bahu.
Itu bukanlah bulu, itu hanyalah rambut. Bulu hanya tumbuh di tubuh unggas pengecut.
Tak jauh dari sana, perempuan monyet berdansa dengan laras bunga kertas.
Rona romannya bersemu, dengan pendar emas bak ratu.
Pandang mereka beradu.

Gemilang biru angkasa tertutup oleh tipis gegana berbentuk sayap
Sebelah sayap malaikat di kaki langit,
sayap lainnya beradu jelma dengan tarian terakhir musim gugur perempuan monyet.
Perak awan di langit menyaru emas yang lekat di ujung sawang lelaki kelinci.
Saat fis’samaa dan fil’ardh saling melengkapi.

‘Malaikat turun ke bumi,’ bisiknya.

Waktu berputar statis dari dua mata pandang beradu.
Satu masih berkutat dengan dansa, lain terpesona dengan magis gerak selari candu.
Lalu petang menyapa gugur, menyisakan jingga.
Jingga yang jadi satu dengan dedaunan.
Jingga yang beranjak dewasa berwarna keemasan,
menutup epilog di ujung dansa monyet perempuan.
Jingga yang lebur,
dengan perak tangan lelaki kelinci yang mencoba menggapai jarak yang mulai tak terukur.

‘Tenanglah, aku tak akan pergi kemana-mana,’ ucap perempuan monyet
‘Dapatkah aku mengukur jarak?’ tanya lelaki kelinci
Sembari berlari menuju terbenam sandhyakala, perempuan monyet berseru,
‘Tunggu aku di peralihan biru menjadi kuning tua, bersama ranggas daun aku berdansa.
Mulai saat itu, hitung berapa jengkalmu dariku.’
‘Bagaimana dengan badai di peralihan musim?’ lelaki kelinci kembali bertanya.
‘Aku akan tetap berdansa di bawah hujan, hempas angin badai hanya sepoi bagiku.
Mari berdansa, berpeganganlah padaku, rengkuh saja pundakku.’

***

Gulita tiba. Purnama mati malam itu.
Ujung biru menjadi sedemikian dirindukan.
Biru, kosakata baru dalam hidup lelaki kelinci.
Tanpa lagi haru.

Leave a Reply