Loading…

Review Film – Secret Superstar (2017)


Ceritanya gue nonton film ini barengan sama premiere-nya Thor-Ragnarok. Ristina yang udah lama nggak memanjakan diri ngajak gue nonton setelah beliau spa di mamang pijet. Awalnya kepikiran nonton Thor-Ragnarok, hanya aja gue berpendapat film itu bakalan keluar versi BRripnya dua atau tiga bulan lagi. Apalagi ditambah orang-orang yang bilang film ini bagus, pake banget, dan hanya tayang di CGV Blitz, salah satu studio film yang hobi menayangkan film yang gak biasa. Liat durasi film, 2 jam 30 menit, mulai 14.30, selesai 16.00. Oke, gue meniatkan diri bolos kuliah. Kapan lagi bisa bolos untuk nobar sama istri?

Film ini menceritakan seorang Insia Malik (Zaira Wasim), remaja berumur 14 tahun yang bermimpi menjadi seorang penyanyi yang terkenal tidak hanya di India, tetapi diseluruh dunia. Meskipun punya suara yang luar biasa, cita-citanya terhambat oleh bapaknya, Farookh Malik (Raj Arjun) yang mengekang segala keinginan Insia. Jangankan mewujudkan mimpi, bermain gitar dirumah aja nggak boleh. Disini, sang ibu Najma Malik (Meher Vij), berusaha untuk mendukung cita-cita Insia dengan segala keterbatasannya. Terbatas karena sang ibu sering menjadi korban KDRT sang bapak oleh suatu hal yang sepele. Di awal film, tampak wujud sang ibu yang mendapat bekas luka dibagian mata, sampai-sampai Insia mengatakan ibunya bodoh.

Dengan keterbatasannya, sang Ibu membelikan laptop untuk Insia sebagai pengalih perhatian agar si anak tidak jadi mengikuti kompetisi menyanyi di sekolah yang berhadiah laptop dan paket internet. Disisi lain, Insia malah bisa menyalurkan kegemarannya menyanyi dengan mengunggah videonya di kanal Youtube. Masalahnya disini, si anak tidak ingin bapaknya mengetahui kalau ia menyanyi. Sang ibu menyarankan, “Pakai saja burka.” Insia menganggap ide ibunya konyol, tetapi kemudian hal ini yang membawanya menjadi penyanyi terkenal di jagat maya sehingga menarik perhatian Shakti Kumar (Aamir Khan), seorang artis terkenal yang diceritakan sering menuai kontroversi dan sedang memiliki banyak masalah pelik dalam hidupnya, yang kelak akan banyak membantu hidup Insia.

Hal menarik (dan lucu-lucu menggemaskan) dari film ini adalah karakter dan latar belakang Insia yang digambarkan sangat sesuai dengan usianya. Remaja putri umur 15 tahun dari keluarga kelas menengah, yang sangat ingin diakui eksistensinya, galau begitu video yang diunggahnya nggak ada yang nonton, bahagia begitu videonya ditonton ribuan orang, sampai belain begadang balesin komen-komen; pandai mendebat ibunya, keras kepala yang diturunkan bapaknya. Gue bilang sama Ristina, “Begini seharusnya anak remaja 15 tahun, dari segi fisik nggak menonjolkan yang nggak perlu. Insia gedenya bakalan cantik, tapi untuk remaja seumurannya, beginilah semestinya dia.” Hal ini juga berlaku antara interaksi Insia dengan Chintan, temen cowok yang naksir dia, sangat tidak berlebihan. Gue sampai melihat diri gue di zaman SMA, pacaran anak SMA ya emang begini. Untuk hal karakter dan latar belakang, film ini sangat lekat dengan kehidupan remaja zaman now.

Bagaimana dengan plot? Tanpa mengabaikan hal-hal klise yang ada, plot dalam film ini sangat mudah ditebak. Menyentuh hati sampai bikin mbrebes mili? Jelas! Ketawa-ketawa? Sering! Akan tetapi, hal-hal klise dalam film ini digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan yang asli bikin nangis. Satu hal yang nggak bakalan gue lewatkan adalah sudut pandang budaya patriarki yang begitu mendominasi dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Digambarkan sang ibu begitu patuh dengan suami. Dasar kepatuhannya mungkin adalah kekhawatiran, “Bagaimana kalau aku ditinggal suamiku? Bakal ngasih makan apa anak-anakku kelak? Gini-gini juga yang selama ini ngasih aku kehidupan yang layak adalah suamiku, masak iya aku ninggalin dia?” Pemikiran seperti itu berlanjut terus sampai bertahun-tahun, menerima begitu saja saat dipukuli dan mungkin beliau berpikir, “Iya gue tau gue berbuat salah sama suami gue, dan layak menerima segala hukuman ini.”

Efeknya? Anak.
Gue ngeliat Insia cuma bisa nangis, ngedenger ibunya dipukuli dengan badan gemetar menahan marah (aktingnya Zaira Wasim nggak nahan!), nggak bisa ngapa-ngapain karena mesti ngejaga adik lelakinya agar nggak ngelihat apa yang diperbuat si bapak terhadap sang ibu. Oh iya, disini digambarkan kedudukan anak laki-laki begitu dipuja-puja. Beda banget perlakuan antara anak laki-laki dan perempuan, sampai si neneknya Insia bertanya pada sebuah percakapan, “Bagaimana bisa gue seorang perempuan bisa lahir dan hidup sampai setua ini?”

Hingga film berakhir, gue bertanya sama diri sendiri, ada berapa banyak perempuan yang mengalami peristiwa seperti ibunya Insia? KDRT dan kekhawatiran karena tidak bisa hidup mandiri, harus patuh sama suami dan berpikiran layak menerima hubungan? Berapa banyak perempuan yang nasibnya nggak seperti Insia? Menjadi anak perempuan yang dibatasi mimpi-mimpinya, nggak usah neko-neko, cukup sekolah, lulus, kawin, jadi ibu yang baik buat anak-anaknya.

Ada berapa? Banyak!
Nggak cuma di India, di Indonesia, bahkan di belahan dunia manapun yang masih menganut paham patriarkisme pasti mengalami kejadian ini. Kembali ke diri gue sendiri, gue bertanya, “Akankah gue memukul istri gue hanya karena kesalahan sepele yang dia lakukan? Akankah gue membatasi mimpi anak perempuan gue? Inginkah gue jadi seseorang yang kehadirannya dirumah begitu ditakuti, sampai-sampai anak sama istri gue bahagia begitu gue pergi dari rumah untuk beberapa minggu lamanya?”

Jawaban gue adalah nggak.
Gue cuma nggak pengen hal itu terjadi, dan Secret Superstar ini membantu menunjukkan hal apa yang semestinya dilakukan seorang suami dan ayah, membantu menunjukkan Ristina sebagai seorang istri dan ibu, dan mungkin kelak membantu Nala tentang bagaimana mewujudkan impiannya.

Rating : 4/5

Leave a Reply