Loading…

Review Buku : Tere Liye – Rembulan Tenggelam di Wajahmu

rembulan_tenggelam_1

Hari ini saya akan menulis dua blopost. Yang satu untuk membayar post menulis hari kemarin yang gagal karena sibuk tidak ada ide, yang lain untuk post di hari ini. Kemarin saya membaca buku ini, Tere Liye – Rembulan Tenggelam di Wajahmu. Bercerita tentang kisah hidup seorang Rehan Raujana (Ray) dimulai dari di usia enam belas di panti asuhan hingga terbaring sakit di usia enam puluh tahun. Diceritakan saat Ray berusia 60 tahun, ia terbaring koma selama 6 bulan. Di penghujung koma ia bertemu dengan seseorang berwajah menyenangkan yang menjawab lima pertanyaan Ray yang tidak bisa terjawab selama hidupnya. Lima pertanyaan yang menjadi inti buku ini, menemani kita menyelami naik turunnya kisah hidup Ray.

Apakah kami memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan?
Apakah hidup ini adil?
Kenapa langit tega sekali mengambil istrimu? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?
Mengapa-ternyata setelah sejauh ini semua terasa kosong, hampa.-?
Kenapa kau harus sakit berkepanjangan? Kenapa takdir sakit itu mengungkungmu?

Baik, saya sudah banyak membaca review tentang isi buku ini, banyak yang mengatakan bagus dan menginspirasi. Berkata bahwa buku ini sarat isi dan makna tentang bagaimana menjalani kehidupan. Dari sisi tersebut saya mengakui buku ini cukup bagus, tentang sebuah kisah seorang Ray dan bagaimana Tere Liye menceritakannya dalam sebuah buku. Sebaliknya dalam review kali ini saya akan menyampaikan kritik.

Kawan kekasih saya tidak suka Tere Liye, alergi, anti. Entah kenapa, saya yang secara pribadi mengapresiasi suatu karya hanya akan berkata, “Karya ini bagus, tidak bagus, keren, menginspirasi” atau “Karya ini tidak cocok saya baca karena tidak enak dibaca, bukan konsumsi favorit saya untuk sebuah buku bacaan.” Saya bertanya, “Ada apa dengan Tere Liye?” pada kekasih saya. Ia menjawab, “Entah? Menurut ia suatu karya tidak hanya dinilai dari bagus tidaknya sang penulis menuturkan cerita, tetapi juga dari otentiknya ide dan orisinalitas cerita.”

Ini buku kedua Tere Liye yang saya baca. Melalui buku ini saya menemukan jawaban mengapa kawan kekasih saya tidak menyukai Tere Liye. Tema yang diangkat tentang lima pertanyaan dalam hidup yang baru terjawab saat terbaring koma. Tidakkah itu mirip sebuah kisah? Saya menganggap ide kisah buku ini kembar tidak identik dengan Mitch Albom – Five People You Meet in Heaven (Lima Orang yang Kamu Temui di Surga) yang menceritakan si tua Eddie yang mati dan bertemu lima orang yang menjelaskan hal yang tidak ia mengerti sepanjang hidupnya.

Pertanyaan “Apakah kami memang tidak pernah memiliki kesempatan untuk memilih saat akan dilahirkan? akan terjawab oleh “Bahwa tidak ada kejadian yang terjadi secara acak. Bahwa kita semua saling berhubungan. Bahwa kau tidak bisa memisahkan satu kehidupan dari kehidupan lain, sama seperti kau tidak bisa memisahkan embusan udara dari angin.” [Pelajaran Pertama]

Pertanyaan “Apakah hidup ini adil?” terjawab secara tidak langsung oleh “Kadang-kadang kalau kau mengorbankan sesuatu yang berharga, kau tidak sungguh-sungguh kehilangan itu. Kau hanya meneruskannya pada orang lain.” [Pelajaran Kedua]

Pertanyaan “Kenapa langit tega sekali mengambil istrimu? Kenapa takdir menyakitkan itu harus terjadi?” akan terjawab oleh “Kehidupan harus berakhir, tapi cinta tidak.” [Pelajaran Keempat]

Pertanyaan keempat “Mengapa-ternyata setelah sejauh ini semua terasa kosong, hampa.-?” akan terjawab oleh “Tidak ada kehidupan yang sia-sia. Satu-satunya waktu yang kita sia-siakan adalah waktu yang kita habiskan dengan mengira kita hanya sendirian.” [Pelajaran Kelima]

Pertanyaan kelima “Kenapa kau harus sakit berkepanjangan? Kenapa takdir sakit itu mengungkungmu” terjawab tidak langsung oleh jawaban “…Menyimpan rasa marah adalah racun. Menggerogotimu dari dalam. Kita mengira kebencian merupakan senjata untuk menyerang orang yang menyakiti kita. Tapi kebencian adalah pedang bermata dua. Dan luka yang kita buat dengan pedang itu, kita lakukan terhadap diri kita sendiri.” [Pelajaran Ketiga]

Entah ini hanya kebetulan atau apa. Hanya saja dari segi orisinalitas cerita, buku ini sudah berkurang satu poin. Berikutnya dari penceritaan, kisah dibuku ini diceritakan sangat dramatis, terlalu sinetron. Subjektif memang, tetapi itu yang saya rasakan di seluruh bagian buku ini. Saya memang pecinta drama, tetapi bagi mereka yang malas menye-menye pasti akan berkata buku ini ‘lebay!’

Tentang adegan perkelahian dalam bus dalam bab Aku Kapak Bermata Satu. Saya membayangkan perkelahian dalam film laga tentang diserangnya Ray oleh segerombolan orang bersenjata. Diceritakan ada seorang wanita terkena sabetan kapak dan penumpang yang tertindih oleh penjahat tersebut karena terkena serangan Ray. Hei! Apakah mereka tidak bisa berteriak, berlarian kalang kabut melompati kursi dan menyelamatkan diri keluar bus lewat pintu terdekat? Adegan ini aneh, sedikit tidak masuk, dan film laga banget.

Tentang adegan Ray bertemu Fitri kekasihnya di bangsal rumah sakit. Mengapa harus Ray menarik perhatian Fitri dengan cara menaruh tangan di kaca pintu bangsal yang pecah agar Fitri bisa membebat tangan Ray dan nyepik? Dua kali?! Tangan kanan dan kiri?! Tidakkah itu mirip adegan di sebuah film? Saya ingat persis pernah menonton film itu, tetapi tidak ingat judulnya. Jangan lupa, pintu ruangan adalah bangsal anak. Bagaimana jika ada anak dengan kondisi sudah lebih sehat yang iseng berjalan-jalan dan bermain di sekitar pintu? Tidakkah pecahan kaca akan menjatuhi mereka? Logikanya, kalau kaca pintu bangsal sudah pecah akan langsung dicabut semua kan? Menyisakan pintu kaca yang berlubang? Sinetron.

Satu lagi plot cerita yang saya anggap gagal. Diceritakan Ray memiliki investasi di ladang minyak bumi, mengerahkan dua pertiga modal dari kerajaan bisnisnya mengeksplorasi sumberdaya minyak, tidak ada hasil karena Ray ditipu oleh data yang entah fiktif, entah tidak akurat. Ray nyaris bangkrut dan di saat terakhir ia kembali bangkit karena geologistnya di ladang minyak menemukan berton-ton emas yang terungkap ke permukaan karena gempa bumi.

Saya bekas mahasiswa geologi, dan saya tertawa mendengar cerita itu. Nonsense! Seberapa besar kekuatan gempa yang dapat mengangkat lapisan bumi sehingga batuan yang mengandung emas muncul ke permukaan? Batuan yang mengandung emas umumnya berada di kedalaman belasan hingga puluhan meter. Gempa yang dapat menyingkapkan batuan dari kedalaman belasan meter adalah gempa mahadahsyat. Jika terjadi hanya satu segmen di lempeng bumi, akan mempengaruhi segmen lainnya, seluruh bumi akan berguncang hebat. Dan Ray diceritakan hanya galau karena kehilangan banyak uang akibat salah investasi disaat bumi sedang hancur dilanda gempa.

Mungkin geologistnya yang tolol. Apakah pada saat eksplorasi dengan metode geofisika mereka tidak menemukan anomali keterdapatan mineral logam ekonomis dalam jumlah besar? Dari hasil metode pengeboran mereka tidak menemukan ada yang ganjil dari kondisi batuan yang berbeda dari biasanya? Seharusnya diperlukan riset dan kajian lebih dalam andai Tere Liye mau mengangkat topik ini. Saya akan lebih menerima logika jika diceritakan tidak ada gempa, tetapi dari hasil kaji ulang data, geologistnya menemukan sesuatu yang berbeda. Eureka, berton-ton emas! Hidup geologist!

Seolah Tere Liye membalikkan bumi seenak tangannya dengan gempa dahsyat untuk menceritakan fasilitas yang dibangun perusahaan Ray hancur lantas ia galau, dan jreng jeeng! Ada emas! Ray kaya lagi! Drama.

“Tahukah kau, ribuan tahun lalu, salah seorang manusia pilihan sempat melalui sebuah perjalanan besar bersamaku. Bukan, bukan perjalanan mengenang masa lalu macam ini. Tidak seperti ini Ray. Dia tidak diberikan lima kesempatan bertanya, dia justru sebaliknya, diberikan tiga kali kesempatan untuk tidak bertanya tentang apa yang kulakukan.

“Sama seperti kau, manusia pilihan ini juga bertanya tentang kejadian yang sedang dilihatnya? Tiga kali dia bertanya : apakah aku telah bersikap adil? Dia menyela, bukankah yang kulakukan terlihat seperti sebuah kezaliman? Tiga kesempatan. Tiga pertanyaan. Dan kami terpaksa berpisah karena pertanyaan-pertanyaannya.”

Orang berwajah menyenangkan, halaman 147

Siapa tokoh orang berwajah menyenangkan yang dimaksud dari penggalan percakapan di atas? Yang terbayang di benak saya adalah kisah Nabi Khidir A.S. dan Nabi Musa A.S. Apa maksud Tere Liye mengungkap dialog ini? Apa maksudnya ia mengirimkan Nabi Khidir, jika memang benar ia? Entah, hanya Tuhan dan Tere Liye yang tahu.

Secara keseluruhan buku ini bagus, tapi…
Sudahlah, saya hanya sanggup memberikan 3.5/5 untuk buku ini.

Leave a Reply