Loading…

Pohon dengan Garis Tertutup

tree

“Yang, kalau kamu gambar pohon, garis daun di pohonnya ngebuka atau nutup?” Ristina bertanya pada saya. Percakapan di mobil pada sebuah sore, siangnya saya baru saja psikotes.
“Maksudnya?” alis saya naik, dahi berkerut.
“Ya kalau garis daunnya ngebuka itu dari batang cabang terus ke daun digambar satu-satu. Kalau garis daunnya nutup tinggal langsung tarik garis nutup dari garis batang satu ke garis batang lain.”
Saya teringat gambar pohon yang saya gambar. Mirip dengan rambut kribo Marouane Fellaini yang saya gambar pada saat tes menggambar manusia.

“Tadi sih gambarnya nutup, soalnya waktu ngegambarnya cuma lima menit,” jawab saya.
“Berarti kamu orangnya tertutup. Enggak semua hal bisa kamu cerita ke orang lain. Aku kalau gambar pohon juga begitu, dan gitu juga penjelasan dari psikolog yang beberapa tahun lalu ngetest aku.”
“Kalau kayak gitu berarti aku salah ya ngegambarnya? Habis gimana, lha wong keburu-buru waktu lima menit.”
“Ndak ada yang salah dengan tes psikologi, Sayang. Itu mencerminkan kepribadianmu.”
“Eh, pribadimu adalah yang gak mau cerita ke sembarang orang. Emang kamu cerita semuanya sama aku?”
“Kamu ngeliat aku gimana?”
“Ng…”

Lalu kami diam, dalam derum halus mobil yang masih baru dibeli dua bulan lalu dan macetnya jalanan Kota Yogyakarta.

***

Saya ingat, pada psikotes kali pertama saya menggambar pohon dengan garis terbuka. Batang bercabang banyak, bentuk daun saya gambar satu per satu, rapi, dengan garis yang tidak begitu tegas, pengarsiran saya lakukan berulang. Sebuah pohon berakar, berbatang cabang dan berdaun, lengkap dengan buah. Waktu itu diberikan 10 menit untuk menggambar. Ya, psikotes dua tahun lalu.

Psikotes tidak pernah salah dan ia mencerminkan kepribadian saya. Dua tahun lalu dan sebelumnya, saya selalu bercerita segala hal yang menimpa diri saya pada banyak orang. Cerita tentang hal yang menyenangkan, mengeluhkan segala kesedihan, menyalahkan keadaan bukan hanya dengan adik, orang tua, teman seperjudian, melainkan juga dengan orang yang baru saya kenal.

Pernah suatu kali saya baru pertama kali bertemu dengan seseorang, saya bercerita tentang berbagai macam proyek ke luar pulau yang pernah saya lakukan dengan bumbu serunya penderitaan khas anak lapangan, sepaket dengan curhat klasik masalah pribadi tentang saya yang masih berjuang (padahal galau) mencari pekerjaan dan calon mertua sudah bertanya tentang kepastian saya melamar anak perempuannya. Cerita tentang pacar saya dulu dengan segala sifat dan keinginannya yang bagi saya kadang tidak masuk akal.

Separah itukah?
Ya, saya pernah seperti itu.
Untuk apa saya melakukannya?
Hanya ingin menunjukkan kepada orang lain, “Ini lho diri saya. Bisa bercerita kepada seseorang tanpa tedeng aling-aling hingga kehidupan pribadi. Saya bisa nyaman sama orang lain yang bahkan baru pertama kali bertemu, lalu adakah alasan lain untuk menganggap saya tidak menyenangkan atau tidak bikin nyaman?”

Lalu perlahan teman-teman saya ‘meninggalkan’ saya. Mereka yang dulu selalu menjadi tempat saya bercerita dan meminta bantuan. Mereka hari ini, dengan pekerjaan dan kehidupan pribadi masing-masing. Banyak diantaranya yang memutuskan untuk menikah. Mereka dengan cerita hidup masing-masing. Saya pun masih harus melanjutkan hidup.

***

“Hei, janganlah kamu cerita masalah sama aku. Aku aja pening mikirin hidupku yang bermasalah, kerjaan yang gak maju-maju. Istri yang jauh dari rumah dan hasrat menggebu yang terus-terusan.”

Tawa meledak di ujung percakapan saya dan teman saya. Ia bekerja di Jakarta kini, sudah menikah dan istri ditinggal di Purwokerto demi kehidupan yang tenang, jauh dari betapa sialannya Kota Jakarta. Menerima hidup menjadi karyawan PJKA, pulang Juma’t kembali Ahad. Saya tidak jadi bercerita tentang masalah saya, akhirnya kami bercerita tentang kehidupan kawan-kawan semasa kuliah yang berujung ghibah. Banyak tawa yang bersumber dari kelakuan kawan-kawan yang tidak banyak berubah.

Di titik ini saya sadar, saya tidak lagi bisa bercerita pada semua orang. Masalah yang saya hadapi hanyalah upil remeh temeh bagi mereka. Terlebih bagi yang sudah berrumahtangga dengan permasalahan yang jauh lebih kompleks. Mereka yang sehari-hari sudah berjuang demi anak dan istri sementara saya masih bercerita tentang kehidupan saya yang menyedihkan, memaksa telinga mereka menerima segala keluhan yang terlontar dari mulut saya tentang kegalauan belum mendapatkan pekerjaan dan pacar yang minta dinikahi.

Apa yang saya dapat? Tidak ada.
Hanya ucapan penguatan dari mereka, “Sabar, ikhlas, tawakkal” yang akan percuma kalau dari diri saya sendiri tidak bisa meniatkannya. Hanya anggapan dari kawan-kawan saya bahwa saya hanya bisa mengeluh dan menyalahkan keadaan. Baik, ini saya yang berpikiran picik dan berburuk sangka pada teman-teman saya. Andaikata ada kesempatan, saya yakin mereka dengan ikhlas hati turun tangan memberikan bantuan. Tetapi saat ini keluarga mereka lah yang pasti menjadi prioritas sebagai kepala rumah tangga yang bertanggungjawab. Kelak saya demikian.

Sejak itu saya tidak lagi bercerita hal yang menurut mereka remeh. Ya, saya tidak akan ragu meminta bantuan. Cukup bagi mereka mengerti saya membutuhkan bantuan, tanpa harus tahu latar belakang saya bisa membutuhkannya. Bila diminta, saya hanya akan bercerita seperlunya.

***

Jangankan dengan kawan dekat yang ingin bercerita masih harus pikir-pikir, kini dengan sembarang orang saya sudah tidak ingin lagi bercerita hal yang menurut saya mereka tidak perlu tahu. Cukuplah mereka mengetahui diri saya yang ingin saya tunjukkan. Tidak ada lagi alasan untuk membuat nyaman orang lain di pertemuan pertama. Cukup orang terdekat saya saja yang tahu betapa nyaman dan menyenangkannya saya. Cukuplah bagi saya membuat mereka betah berlama-lama dengan saya dan mempertahankannya.

Saya belajar, rasa nyaman seringkali membunuh logika. Saat kita sudah nyaman dengan orang lain padahal baru pertama kali berkenalan, bisa jadi kita tidak memedulikan latar belakangnya, apa tujuannya, dan bagaimana kehidupannya. Bisa jadi seseorang yang membuat nyaman itu adalah orang yang sudah memiliki kekasih, tunangan, atau bahkan berkeluarga. Bisa jadi sesuatu yang membuat nyaman itu adalah sesuatu yang pada akhirnya tidak membawa manfaat atau bahkan merusak kehidupan kita.

Ada banyak hal yang seperti itu bukan?
Seperti banyak sekali orang yang berkata, “Tinggalkan zona nyaman”

***

Ya, tes psikologi gambar pohon tertutup yang saya gambar tidaklah salah.
Tidak ada kepribadian yang salah, hanya saya yang (mungkin) sudah berubah.

“Kamu berubah, Mz…”
— Ristina, pada setiap kesempatan.

Leave a Reply