Loading…

Pendosa dan Perempuan Suci

Pendosa membawa kotak pandora berisi berat catatan dosa di punggungnya. Agar kelak di titian sirottal mustaqim keseimbangannya goyah dan menjungkalkannya ke dasar neraka dengan mudah. Kotak pandora catatan dosa itu berat dingin memilukan, mencambuk punggung seperti sayat sembilu yang tak kenal canggung. Ribu sujud di hadapan Tuhan tak akan pernah membuatnya terasa lebih ringan, ia selamanya akan menjadi beban.

Pendosa tengah jatuh cinta, dihadapkan Perempuan Suci yang menggenggam tangannya, terlihat kedalaman telaga jernih sepasang bola mata mengadu pandang dengan Pendosa. Bibirnya yang selembut kain sutera mengecup lembut tangan perlahan. Ia tertunduk kini, tatap mata itu bukan lagi bara nafsu seperti dulu; ia kini malu-malu.

Akan tetapi lembut kecup bibir kemudian berkembang biak. Kengerian beranak pinak dengan rambat akar rasa di hati Perempuan Suci yang kian hari kian tumbuh dan menguat. Ia terbakar di neraka dunia bernama ngeri yang bersepupu dengan rasa takut, takut kehilangan akut. Pendosa ketakutan, ia ingin sekali lari. Tetapi bagaimana bisa ia berlari tanpa menyerabut indah rambat hati Perempuan Suci?

“Wahai Tuan, mengapa napasmu tidak teratur kini? Adakah isi hati yang tak ingin engkau bagi?” Perempuan Suci bertanya.

Pendosa menghela napas. Berkata ia, “Puan, aku ingin sekali mengatakannya padamu. Tapi…”

“Katakan saja, Tuan. Aku takkan abai pendengaran pada segala apa yang engkau sabdakan,” jawab Perempuan Suci.

Wajah Pendosa berubah kian muram, “Puan, lihat punggungku. Ada beban berat tak terlihat. Sebuah kotak berisi dosa masa lalu yang kupikul hingga hari ini. Begitu menyiksa kini.

Puan, aku tak pernah mimpi akan ada yang memandangku dengan bulat mata sebening telaga, tak pernah berharap ada yang mengecup belah tanganku dengan pejam sedemikian khusyuk yang buatku begitu menusuk. Tak pernah ada yang tersenyum padaku, melihatku seolah pusat gravitasi dimana ia berdiri.

Aku tak lebih dari pendosa besar. Di depan pandangmu sekarang adalah seorang ahli neraka, tangan yang kau kecup adalah bara, bahkan aku takut sembahyang yang kamu pinta aku jadi pemimpinmu tak lebih hanya sekadar gurauan di mata Tuhan. Dia akan mengolokku dan berkata, ‘Masih punya nyalikah engkau wahai Pendosa, berani unjuk diri membawa Perempuan Suci?’

Aku tak ingin selamanya bersikap seolah aku seorang kudus. Aku bersembahyang di hadapan Tuhan, mengecup alas sujud dengan haru. Memohon ini nyata, berharap ini bukan mimpi. Tak ada yang lebih menyesakkan daripada melihatmu yang mendamba indah di atas altar suci, sementara aku tak lebih dari pendosa yang tak tahu diri.”

Perempuan Suci perlahan menitikkan air mata. Ia berkata terbata, “Untuk apa engkau katakan ini semua? Jikalau yang dirimu katakan hanyalah alasan untuk meninggalkanku, atau untuk membuatku meninggalkanmu!

Tahukah kamu, rambat akar rasa ini sudah mengakar jauh ke dalam tanah, menembus lapisan hati hingga inti serupa bumi. Tidakkah kamu merasakan hangat abadi hingga kiamat nanti?”

“Puan, kamu Perempuan Suci. Aku Pendosa dengan punggung memikul kotak pandora berisi dosa yang ditanamkan iblis bernama nafsu. Kamu tak layak berdamping denganku.”

“Lalu untuk apa semesta mempertemukan kita?” tanya Perempuan Suci dengan deras derai air mata.

“Aku tak tahu. Mungkin ini cara Tuhan memperolok. Ia membawaku padamu yang sedemikian elok. Menumbuhkan akar rasa harapan, yang kini kurasa tak layak kusanding denganmu yang tak sebanding.”

Perempuan Suci memeluk pinggang Pendosa yang membalikkan badan. Malu tak ingin rupanya tampak. Hangat lembut pipi di punggung Pendosa. Lembab karena sembab, sisa urai titik air mata.

“Tuan, jangan pergi, percayalah padaku. Aku tak lagi peduli isi kotak di masa lalumu. Yang kupedulikan hanya engkau di hari ini dan esok yang kita mimpikan.

Tuan, berkatalah engkau seorang pendosa. Ketahuilah ada doa di dalam dosa. Engkau pendosa yang mencoba leburkan abjad ‘s’ di atas tungku kasih dan maaf.

Tuan, kumohon jangan lagi berpikiran buruk pada Tuhan. Dia membawa kita hingga titik ini tidaklah untuk Dia tinggalkan.

Ada aku yang memeluk di belakangmu. Sejatinya engkaulah yang sedang memeluk dirimu. Engkau yang berani mengakui, engkau jugalah akan sama berani memaafkan diri sendiri.

Aku mendekap punggungmu. Izinkan aku menutup rapat kotak pandora berisi dosa tanpa harus engkau pun aku melihatnya, biarkan ia larut lebur bersama pelukku.”

“Jangan bodoh, apakah kamu buta? Sudahkah kamu gila?”

“Ssshhhh.. Diamlah.. Aku sudah tergila sejak aku bertemu denganmu, tapi aku melihatmu sejelas aku menutup mataku.”

Hening tercipta dari dua mata yang sama memejam, pada dua napas yang berkejaran. Tidak lagi ragu dan sesak menderu, napas lepas dalam detak irama yang kini padu.

***

“Tuan, aku rindu. Aku amat rindu bersembahyang denganmu di depanku memimpinku. Kapankah kita bisa bersama melakukannya?”

Leave a Reply