Loading…

Nyanyian Kode

Dikisahkan suatu pagi yang cerah berawan pendar keemasan, pintu rumah Jaka Tarub Mantenan mendapat ketukan tegas dan mantap. Lebih mantap daripada orang berpeci berbaju rapi yang datang mau minta sumbangan. Jaka Tarub Mantenan yang masih ndusel sama bantal mau ndak mau harus bangun. Setengah berharap itu Sang Yangnya yang baru pulang shift malam di tempat kerja dan datang mampir membawakan sarapan pagi.

“Le, bagaimana kabarmu?” sapa lelaki paruh baya begitu Jaka Tarub Mantenan mendongolkan hidung di depan pintu yang setengah terbuka.

“Ngapain sampeyan kesini?” salak Jaka Tarub Mantenan.

“Aku mau ngelamar jadi presiden di pilihan presiden besok Le. Ingin memohon izin dan dukunganmu sebagai anak.”

“Ngapunten Pak! Sini bukan kantor Istana Negara!” jawab Jaka Tarub Mantenan sambil lalu membanting pintu.

***

Jaka Tarub Mantenan menumpahkan kekesalannya pada Ibunya dengan curhat di telepon.

“Bu, ngapain laki-laki datang kemari kalau cuman bilang mau nyapres? Ndak ada kerjaan lain apa?”

“Walah Le, beliau bapakmu itu cuma mengakuimu sebagai anak kok. Itu tujuan ia minta izin,” jawab lembut Ibunya.

“Iya, dia ngakui aku sebagai anak. Tapi dia pernah ndak ngakuin Ibu sebagai istri?!”

Lalu hening di ujung telepon sana. Jaka Tarub Mantenan menyadari ada kesalahan.

“Le, anakku ganteng. Ibu ndak pernah minta diakui sebagai istri. Amatlah Ibu bangga bisa diakui jadi mbokmu, yang bisa ngelihat kamu sampai sekarang ini.”

“Ngapunten Ibu, bukan maksud ananda demikian. aku lagi ngerasa kesel aja. Bisa-bisanya orang yang dahulu diamanahi memimpin keluarga aja ndak bener, sekarang mengajukan dirinya untuk memimpin sebuah negeri.”

“Yowes Le, masa laluu biarlah masa laluuu~”

“Bu.. Pentas dangdutan tujuh belasan masih lama.”

Beranjak siang, Ibu dan anak laki-laki tertawa bersama. Mungkin mereka labil.

***

Sisa ledukan Gunung Kelud sudah lewat, abunya yang menutupi muka spanduk para caleg yang dulu kampanye sudah luntur. Pun spanduknya juga sudah diturunkan, bergantian para caleg yang naik menuju gedung parlemen Rekiblik Andonesia. Gunung Kelud tinggal cerita, pun hingar bingar kampanye para caleg. Rakyat menanti janji, ada yang berwajah ceria, lebih banyak yang mbesengut, semacam buruh yang berdemo di Mayday mengajukan tuntutan kesejahteraan berupa TV LED 19 inci tetapi ndak keturutan.

Salah satu rakyat yang mbesengut adalah Rara Sekar Melati. Yangnya Jaka Tarub Mantenan itu tengah dirundung dongkol tanpa sebab. Sebabnya sebenarnya ada, Jaka Tarub Mantenan yang duduk di depan muka Sang Yangnya itu yang ndak kunjung mengerti.

“Yang, kamu kenapa sik?” tanya Jaka Tarub Mantenan.

“Aku rapopo!” jawab Rara Sekar Melati ketus.

“Rapopo kok yo nada menjawabnya begitu Yang?”

“Nah itu kamu tau! Ada yang salah sama aku.”

“Njur yo’ opo?”

“Kamu pikir aja sendiri. Laki-laki semua sama! Ndak peka!”

“Kamu ngambek sama aku?”

“Masih aja nanya!”

Jaka Tarub Mantenan malah tertawa dibegitukan Rara Sekar Melati yang makin uring-uringan. Ia menyadari Sang Yangnya sudah mendekati periode datang bulan. Wajarlah PMS bikin perempuan dimanapun harinya kebat-kebit. Dan apa sebab hatinya kebat-kebit?

Jaka Tarub Mantenan masih belum juga paham.
Tertawanya berhenti.

“Ngapain ketawa?”

“Aku inget kamu lagi PMS, wajarlah uring-uringan.”

“Argh!”

“Lho? Jadi bukan itu ya penyebab kamu uring-uriingan?”

“Mbuh!”

“Lho?”

Jaka Tarub Mantenan makin bingung. Ia harus menjawab teka-teki mengapa Rara Sekar Melati uring-uringan. Mengamati mikro ekspresi seperti metode Dr. Cal Lightman di Lie to Me ndak ada gunanya. Lha wong ekspresi makro mikro yang ditunjukkan hanya mbesengut? Mengamati detail kejadian perkara untuk menemukan bukti seperti metode Sherlock Holmes juga ndak akan ada faedah. Yang ia butuhkan adalah membaca isi hati, sayangnya dalamnya hati manusia tidak ada yang tahu, bisa sebening dangkal pasir putih Gili Trawangan, bisa lebih dalam dari Palung Banda.

Tidak tahan diem-dieman, Rara Sekar Melati angkat bicara.

“Aku kangen sama kamu, ngerti?!”

Jaka Tarub Mantenan bengong. Bagaimana bisa kangen bisa jadi sedemikian mbesengutnya sampai ia melulu kena omel sedari tadi.

“Iya, aku kangen. Aku udah sms kamu ngajak ketemuan daritadi. Hanya aja kamu yang ndak kunjung ngerti,” Rara Sekar Melati melanjutkan berbicara.

“Kamu kangen? Kapan ngajak ketemuannya, Sayang?” tanya Jaka Tarub Mantenan.

“Issh. Kamu pikir pas tadi siang aku sms bilang, ‘Mau lah sesekali ditengokin di tempat kerjaku’ itu bukan kode ngajak ketemu? Dan kamu hanya jawab ‘Iya Yang, kerjaanmu dilanjut ya. Selamat bekerja sayangku.'”

“Eh? Itu beneran minta ditengok. Kupikir kamu sibuk di tempat kerjaanmu. Aku cuman mikir aja kalau kamu mikir terus tentang aku, yang ada malah kerjaanmu yang ndak kelar.”

“Kamu ribet mikirnya! Kalau aku sibuk kerjaan mana bisa aku sms kamu. Mana sempat aku selfie terus kukirimkan ke kamu?”

“Foto? Ah iya, internetku mati,” jelas Jaka Tarub Mantenan sembari berpikir yang ribet mikirnya itu sebenarnya siapa.

“Emmh, pantesan! Temen aku sampe bilang gini, ‘Yangmu itu baik, perhatian. Dia cuma ndak peka sama kode yang kamu kasih. Padahal kodenya udah jelas, atau jangan-jangan dia lagi sibuk sama perempuan lain?’ Kan aku mikirnya jadi aneh-aneh tauk!” ujar Rara Sekar Melati dengan wajah lucu, bibir yang masih sedikit mecucu.

Jaka Tarub Mantenan tertawa. Lepas.
“Oalah Yaang.. Kamu kalau kangen bilang aja apa susahnya. Mau ngajak ketemu juga tinggal ngomong, ndak perlu ngode tho? Aku juga sangsi Professor Langdon ahli simbol dan kode bakalan ‘ngeh kalau kamu beginikan.”

Rara Sekar Melati masih mecucu. Tapi kemudian ndusel, kepalanya diletakkan di bahu Jaka Tarub Mantenan.

“Sudahlah, laki-laki mungkin semuanya sama. Yang mungkin ngebedain adalah kamu, spesies spesial di hati aku.
Maafin aku ya, udah bikin kamu bingung dengan kodeku dan jadi akunya uring-uringan sendiri.”

Jaka Tarub Mantenan menghembus napas lega, tangan kanannya mengelus ujung kepala Rara Sekar Melati. Lamat-lamat terdengar suara nyanyian di benak Jaka Tarub Mantenan…

‘~Si awa siaa uwonoo uwenii..
Elu jangan godain cewek ajaaa..
Lu bego kagak ngarti gue nyanyiin kode..
Lagu kode tak kode kode tak kode kode..

Nyanyan kodeeee..~
Elu bego, bego beneeerrr…~’

***

Jaka Tarub Mantenan teringat Bapaknya yang tadi pagi datang. Langsung ke maksud dan tujuan bilang mau nyapres. Laki-laki selalu bisa to the point, perempuan harus pakai riset dan berbagai hipotesis untuk tahu maksudnya. Ah sudahlah, mungkin kalau siang tadi Rara Sekar Melati langsung bilang kangen, ia bakalan lebih ingat Bapaknya.

To the point ndak akan membawa malam ini ke pojokan alun-alun Purwakerta dimana ada Rara Sekar Melati yang nduselin bahu Jaka Tarub Mantenan hanya untuk sedikit melepas rindu.

Leave a Reply