Loading…

Murtad

LS Picture Source

Jagat media geger. Mas Lukman Sardi berpindah agama, murtad bahasanya. Yang ambil kesempatan untuk nyinyir mengenai kepindahannya berdalih dasar hadits Rasullullah SAW, “Siapa yang menukar agamanya maka bunuhlah dia (man baddala dinahu faqtuluhu)” ada banyak. Yang berpendapat sebaliknya bahwa kehendak seseorang memilih agama adalah haknya masing-masing, tidak ada kuasa manusia untuk menghujat dan menghakimi juga sebanding jumlahnya.

Saya sendiri sepakat berpendapat urusan seseorang dengan Tuhannya ya mutlak menjadi urusan orang tersebut di pedalaman jiwanya. Nyong ora urusan! Dalamnya laut dapat diduga, dalamnya jiwa siapa tahu. Lantas peduli apa saya? Apa urusannya dan apa untungnya? Saya hanya mendasarkannya pada, “Lakum diinukum waliyadiin. Untukmu agamamu, untukku agamaku.” Selesai.

***

Hanya saja kali ini saya ingin ikut nyinyir, sebagai Warga Negara Indonesia yang Indonesia banget, ndak afdol kalau ndak berkomentar paling lantang dan merasa dirinya paling benar. Saya yang pujangga pembual ini cuma mau berandai-andai romantis, berkhayal sembari menunggu bedug buka puasa, andai saya adalah pacar Mas Lukman (Sardi, bukan Saifuddin yang Menteri Agama itu).

Atas dasar komitmen bernama iman, Mas Lukman percaya sama saya, janji sampai mati sama saya untuk terus menjaga. Setiap hari dipeluk, disayang-sayang, dan diperhatikan layaknya seorang kekasih. Siang bolong mak keteprek tak ada angin tak ada hujan Mas Lukman meninggalkan saya begitu saja, tanpa berkata sepatah kata pun. Saya menjadi korban yang dikhianati cinta. Saya ndak tahu kenapa Mas Lukman pergi begitu saja dan begitu lekasnya menemukan tambatan hatinya yang lain, tak jua berani bertanya.

Kan sudah dibilang tadi, dalamnya jiwa siapa tahu? Apalagi Mas Lukman yang aktor papan atas, barangkali saya nanya kenapa dia pergi, nanti dia jawabnya pake akting jadi Bung Hatta di film Soekarno.

Sebagai hati yang tersakiti dan dikhianati cinta, saya sangat bisa melampiaskan nyeri hati saya dengan menulis cerita seperti Mbok Riana Rara Kalsum bertema Petualangan Cinta Terpanas di Lembah Jiwa berlatarbelakang film 7/24 (I love you Mbak Dian Sastro!) yang pernah dimainkan oleh Mas Lukman sendiri. Menuntut Mas Lukman bertanggung jawab sampai berniat menyeretnya ke pengadilan militer akhirat, nguber terus rak uwis-uwis, dan bermuara pada bahan gojekannya Mas @hansdavidian.

Bolehlah saya nyilet-nyilet tangan macam ABG labil galau yang ditinggal pacarnya, dipamerin di fesbuk dan instagram, terus ngancem minum Baygon cair biar Mas Lukman mau balikan lagi sama saya terus jadi topik utama setiap hari. Ngancem bunuh Mas Lukman bisa aja saya lakukan, tetapi negara Indonesia ini kan katanya negara hukum, nanti saya bisa dipidana atas perbuatan ancaman pembunuhan. Siapalah saya ini ndak punya duit buat bayar pengacara dan nyogok hakim?

Ya sudah, saya pamer status galau sajalah di twitter macam selebtwat-selebtwit, biar panen RT bonus curhat colongan. Kali aja kalau sudah bosen saya bisa numpang promo jualan.

Bisakah saya menjadi orang yang berlapang dada, ikhlas atas kepergian Mas Lukman? Barangkali ia tidak menemukan kebahagiannya bersama saya, atau mungkin saya tidak cukup membahagiakannya? Barangkali pedalaman jiwanya lelah atas segala perang yang berkecamuk karena lelah berdebat dengan saya. Debat bertemakan tudingan pendosa intoleran di jidat bagi mereka yang membuka warung makan sewaktu puasa Ramadhan, atau debat lain yang dibesar-besarkan dari masalah speaker masjid sampai pembacaan Al Qur’an langgam Jawa.

Ya, andaikata saya bisa ikhlas, saya hanya ingin memeluk Mas Lukman sambil menangis. Sedih iya dan marah itu pasti karena ia meninggalkan saya begitu saja, tetapi saya hanya tak ingin menunjukkan kesedihan dan kemarahan saya dengan berkata padanya sembari mengancam membunuh, “Pengkhianat kau! Masuk sana ke neraka jahanam!”

Saya hanya ingin memeluknya sembari berkata, “Semoga apa yang kuberikan sepanjang hidup padamu, cukup untuk membuatmu ingat untuk selalu berbuat baik. Jika sepanjang hidup aku cukup menyesakkanmu dengan perbedaan pendapat yang tidak menyenangkanmu, aku mohon maaf yang sebanyak-banyaknya. Semoga maafku cukup untuk membuatmu tidak mengungkit segala hal di masa lalu. Baik-baiklah kamu dengannya.”

Sembari melepas peluk, saya akan berkata pada Mas Lukman, “Semoga kamu temukan Tuhan bersama kekasih barumu.”

Leave a Reply