Loading…

Mi Ayam Wangi Melati

~Bumi gonjang-ganjing, langit kelap-kelap…

Prolog itu bukanlah nyanyian dalang Ki Sudjiwotedjo pas lagi membuka acara Indonesia Lawyers Club, melainkan suasana hari dan hati Jaka Tarub Mantenan beberapa minggu ini. Lamat-lamat prolog tadi bergema di kepalanya setiap selepas sembahyang subuh. Apa karena? Jaka Tarub Mantenan punya cem-ceman lagi.
Wuih! Apa kabar ia dengan Yangnya yang bidan tomboi nan kinyis-kinyis?

Diceritakan suatu hari di penutupan musim gugur Jaka Tarub Mantenan dapat nomor nyasar yang nelepun nanyain alamat. Yang nelepun suaranya perempuan, lebih ceria dan hidup ketimbang Tante yang njawab, “Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan,” tiap Jaka Tarub Mantenan menghubungi henpon Yangnya yang mati kehabisan baterai.
Dirasa lebih beradab daripada Tante Senang yang haus duit Om Girang, atau belaian brondong.

“Ngapunten Mas, benar ini rumah Pak Joko?” tanyanya dari seberang telepon.
“Inggih Mbak, ini Pak Joko. Bagaimana, ada yang bisa dibantu?” jawab Jaka Tarub Mantenan. Awalnya berharap panggilan itu dari mbak-mbak resepsionis HRD perusahaan lelakon tempat ia naruh CV-nya beberapa minggu lalu.
“Gini Pak, saya dari layanan delivery Mi Ayam Cak Heri mau mengantarkan mie ayam ke tempat panjenengan. Tadi catetan yang dikasih resepsionis nya jatuh. Saya cuma inget nomer hapenya Bapak saja,” ucap si Mbak pengantar mi ayam.
‘Mbak, saya ndak pesan mi ayam. Nomer yang mbak ingat salah,’ adalah kalimat yang pengen diucapkan Jaka Tarub Mantenan, akan tetapi…
“Ini mbak, alamatnya. Dan jangan panggil saya Pak. Saya masih belum punya anak.”
dan ‘Saya ingin membuat anak bersamamu’ yang urung diucapkan karena pasti bakal keburu dilabeli Om Girang terlebih dulu.

Singkat cerita FTV yang berjudul “Cintaku Berawal dari Mi Ayam Salah Alamat” dengan lakon Jaka Tarub Mantenan dan perempuan yang lebih dikenal dengan Rara Sekar Melati dimulai. Boleh lah dikasih sedikit cerita adegan tabrakan – kebasahan mi ayam – terpikat dengan rupa – terpana dengan rasa masing-masing – liburan ke Bali (oke kalau kejauhan bisa pindah setting ke Gunung Wonosobo atau Pantai Gunung Kidul) – lalu jadian.
Hanya satu bagian yang nyaris terlupa, Sang Yangnya Jaka Tarub Mantenan.

~Bumi gonjang-ganjing, Langit kelap-kelap…

***

Jaka Tarub Mantenan dan Sang Yangnya baik-baik saja sebenarnya. Terlampau baik malahan, ritual bangun tidur masih tetap berlangsung setiap hari, tak ketinggalan dengan ‘I love you muah muah’ sebelum tidur. Hanya saja, terlalu lama ngurusin hal yang sama setiap hari bisa jadi bikin seseorang kaget dengan cerita baru, dan puluhan hal-hal sepele namun nyetrum yang ndak pernah dilakukan.

Sesepele makan bersama dan ngobrolin hal ndak penting, yang mendadak bisa jadi sangat penting, lebih penting daripada ngobrolin biaya rabi yang ndak kunjung kumpul.
Sekagum Jaka Tarub Mantenan yang ngelihat Rara Sekar Melati nyambi kerja delivery Mi Ayam di sela-sela kesibukannya kuliah biar ndak terlalu ngerepotin orang tua.
Sekejut banyak sekali pertanyaan yang mubeng di benak Jaka Tarub Mantenan yang hampir semua jawabnya ada pada Rara Sekar Melati.
Berujung pada wangi di ujung kepala yang Jaka Tarub Mantenan hapalkan saat Rara Sekar Melati ndusel di bahu Jaka Tarub Mantenan. Wangi melati.
Jaka Tarub Mantenan kesetrum, jiwanya korslet. Ia bingung.

~HEII!! SENANGNYA DALAM HATI, KALAU BERISTRI DUAAA!!~ menyanyilah Ahmad Dhani.
Jaka Tarub Mantenan sentimen, walau mau tak mau ikut bersenandung.

***

Malam minggu di pertengahan musim semi, Jaka Tarub Mantenan sedang dines di rumah Sang Yangnya. Ia masih juga belum bisa menentukan hati mau pilih yang mana ketika henpon Sang Yangnya bunyi pesan masuk. Henpon Sang Yangnya di genggaman Jaka Tarub Mantenan, empunya henpon sedang pamit buang air.

Ndak biasa-biasanya Jaka Tarub Mantenan penasaran sama isi henpon Sang Yangnya. Dibukalah pesan masuk tadi. Muncul deretan pesan masuk bernada sayang, persis mirip dengan isi henpon Jaka Tarub Mantenan sendiri. Bedanya, isi pesan masuk di henpon Jaka Tarub Mantenan dengan Rara Sekar Melati ndak sampe ketahuan Sang Yangnya. Yangnya keluar kamar mandi, mendapati Jaka Tarub Mantenan pegang henpon miliknya. Terperanjat, terperangah.

Ah!
Percakapan drama FTV dimulai…

“Nduk, iki sopo, kok sms kamu pake sayang-sayangan?”
“Iku salah sambung Mas?”
“Salah sambung gimana Nduk? Smsnya hampir separuh kotak masuk di henponmu.”

Jaka Tarub Mantenan ingat, kisah Rara Sekar Melati berawal dari salah sambung. Ia bersabar, sama sekali ndak marah. Ndak ada alasan buatnya karena ia melakukan hal yang serupa dengan Sang Yangnya. Mungkin ini saatnya untuk menyudahi hubungan. Dua orang yang selingkuh pada saat bersamaan mungkin ndak ditakdirkan untuk berjodoh.

“Nduk, kamu bosen ya sama hubungan kita?”
Sang Yangnya terdiam.
“Kamu bosen nunggu aku ya, karena aku ndak lekas ngasih kepastian sama kamu kapan aku mau rabi kamu?”
Sang Yangnya nangis. Sudah cukup memberikan interpretasi.
“Nduk, kamu mau kita udahan?
Aku rapopo kok kamu tinggal, kalau nantinya laki-laki yang sms kamu ternyata bisa ngasih aku hal yang lebih dari yang aku lakukan, bisa bikin kamu hepi dan menjamin hidupmu, lebih mapan daripada aku.
Aku tahu aku belum punya apa-apa, dan kemampuanku cuma segini.
Kamu boleh pergi dan bebas nentuin kebahagiaanmu,” kata Jaka Tarub Mantenan sambil ngelus-elus pucuk kepala Sang Yangnya. Yangnya nangis makin kejer. Jaka Tarub Mantenan berbalik badan, bersiap untuk pergi.

Jaka Tarub Mantenan merasakan hangat di punggungnya, basah di bahunya.
“Kamu jangan pergi, aku mau kamu. Harusnya kamu marah waktu tahu aku berhubungan sama mantanku. Tapi kamu ga marah, kamu ngalah. Dan kamu menangin hatiku. Perjuangkan aku terus, aku mohon.”

Jaka Tarub Mantenan sesak napas.
~Bumi gonjang-ganjing, Langit kelap-kelap…

***

Leave a Reply