Loading…

Mesin Cuci

 

IMG_20140924_092551

Saya membelinya beberapa bulan lalu dari penghasilan yang didapat sepulang dari Pulau Buru. Terdorong oleh rasa ingin setelah mendengar Ibu berulangkali berkesah pinggangnya yang sering pegal karena kelamaan duduk saat mencuci pakaian dan mengeluhkan daya cengkeram tangannya mulai berkurang karena rasa nyeri di buku-buku tangannya. Buat saya, selain rasa ingin membantu pekerjaan Ibu di rumah, itu adalah semacam kode bagi saya agar segera menikah, lalu Ibu saya bisa menimang cucu dengan punggung dan tangan yang masih kuat. Mungkin seorang cucu bisa menguatkan daya cengkeram tangan Ibu saya.

Mesin cuci didatangkan jauh dari Purwokerto ke Gombong. Sebelumnya saya berselisih paham dengan pihak penyedia jasa antar barang karena sehari sebelum membeli, saya mengecek nominal ongkos kirim. Pihak penyedia jasa bertanya perihal alamat saya dan berkata “GRATIS” setelah memastikan betul dimana alamat rumah. Keesokan harinya saya diberitahu mesti membayar ongkos kirim, beberapa detik sebelum kasir menggesekkan kartu debet pada mesin pembayaran nontunai. Baik, anggap itu rezeki sang pengantar mesin cuci untuk membeli takjil berbuka puasa bagi keluarganya. Waktu itu bulan Ramadhan.

Pihak toko sudah hampir saya komplain karena pesanan tidak kunjung sampai. Mesin cuci sendiri tiba di rumah menjelang maghrib tepat tujuh hari dari tanggal pembelian. Di rumah, Ibu saya menelepon memberi kabar si mesin cuci sudah sampai. Beliau berterima kasih banyak pada saya, saya hanya tersenyum dan meminta doa setulusnya agar dilancarkan segala hal yang dicita-citakan. Tidak, bukannya saya pamrih. Ibu pun pasti mendoakan ke semua anaknya. Saya hanya tidak tahu apa yang harus dikatakan pada bahagianya Ibu. Semacam speechless bercampur mbrebes mili.

***

Masalah pertama si mesin cuci adalah letak ia mau ditempatkan. Dimana? Mengingat halaman belakang sebelah tempat kami biasa mencuci dan menjemur pakaian sudah terlalu sesak oleh deretan panci yang jarang dipakai. Ibu teramat menyayangkan andaikata si mesin cuci diletakkan disana karena akan banyak bersentuhan dengan cipratan hujan atau panas mentari walau deret panci jarang terpakai sudah beratapkan seng seadanya. Diletakkan di kamar mandi pun tidak mungkin, kamar mandi kami terlalu sempit, belum lagi jika harus mengucek dan membilas pakaian yang tidak terjangkau diproses mesin cuci.

Akhirnya, Ayah memutuskan membongkar ruangan sebelah mushala yang awalnya berfungsi sebagai gudang. Lantai dikeramik ulang, dibuat saluran air dan listrik tersendiri untuk si mesin cuci. Sempat terjadi perdebatan antara Ayah dan Ibu tentang tata letak mesin cuci. Saya menanggapinya dengan, “Yaudah sih. Bagaimana baiknya aja, usul Ayah dan Ibu kupikir sama baik. Jadi suka-suka aja bagaimana.”

Ditanggapi Ibu Saya dengan, “Aa, itu barang mahal, barang bagus. Kalau mau awet, masangnya kudu bener, enggak boleh suka-suka. Apalagi itu Aa yang beliin.”

Beberapa hari kemudian, mesin cuci terinstalasi dengan baik. Masalah berikutnya adalah Ayah dan Ibu yang tidak mengerti bagaimana mengoperasikan mesin cuci. Sama ndesonya dengan saya yang menanggapi, “Baca buku manualnya aja beres kan Pah, Mah” demi menutupi ke-ndesoan saya. Bersyukurlah keluarga memiliki Ikhsan Nur Sidik, si bungsu yang dengan cueknya mengoperasikan mesin cuci.

Ibu Saya bertanya padanya, “Ki, gimana caranya?”

Si Bungsu menjawab dengan dialek Jawa ngapak bernada songong, “Alah, Mamake sih kepriwe? Kaya kiye thok ora bisa? Tinggal bajunya dimasukin, sabunnya dimasukin, pencet, udah tungguin bae. Mengko kering sendiri.”

Masalah selesai dengan Ibu yang akhirnya bisa mengoperasikan mesin cuci meskipun di awal pemakaian masih didumelin Si Bungsu karena banyak bertanya atau mencoba melongok curi-curi intip dari lipatan tutup atas mesin cuci yang tidak transparan.

“Mamake aja ndesa lah, aja diintipin! Uwis ditungguin bae. Mesin cucine ora bodho kok!” tegur si Bungsu.

“Lhah Ki, Mamah kan pengen tahu bagaimana mesin cucinya bisa muter mbersihin sampai ngeringin,” jawab Ibu, pathetically.

***

Halaman belakang rumah tempat mencuci menjadi salah satu saksi bagaimana saya beranjak dewasa. Bagaimana candaan, perencanaan, keluhan, segala pengalaman hingga wejangan berawal dari sana. Ya, dalam sesi mencuci pakaian pagi hari. Saya terdidik sejak kecil untuk menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat sekolah. Manakala bangun pagi dan cucian masih menumpuk, artinya tugas saya dan Adik Perempuan bergotong-royong mencuci pakaian seisi rumah.

Andai saya kesiangan dan keranjang pakaian sudah bersih, maka tugas yang menanti untuk diselesaikan adalah mengepel teras rumah atau menyapu dedaunan kering di halaman depan. Saya menyelesaikannya dengan tatapan cemberut Adik Perempuan yang mencuci sendirian, tidak ada yang membantu karena Ibu harus menyelesaikan masakan untuk sarapan pagi dan saya bangun kesiangan.

Saat kami masih kecil, potongan pakaian yang disisakan terakhir selalu seragam dinas milik Ayah. Ia terkenal berat dan si empunya seragam sering menginterupsi semisal hasil akhir pencucian kurang bersih. Saya dan Adik Perempuan sering berebut untuk meninggalkan pekerjaan mengucek si seragam dinas.

Pembagian tugas dari dulu tidak pernah berubah. Adik Perempuan mengucek dan menyikat, saya memindahkan hasil kucekan dua kali ke dalam ember berisi air bersih sebelum diperas terakhir kali ke larutan pewangi. Bolehlah dibilang membilas karena Ibu saya sering memrotes masih tersisa bekas sabun di pakaian yang saya pindahkan dari masing-masing ember. Ibu yang menjemur pakaian. Seiring dengan tumbuh kembang kami yang tinggi badannya melampaui Ibu, tugas menjemur pakaian beralih ke Adik Perempuan. Saya tidak pernah mau menjemur pakaian karena pada saat selesai mencuci, masakan Ibu dari meja makan sudah memanggil-manggil. Saya duduk di pintu belakang menghadap tempat menjemur, makan sambil mengomentari Adik Perempuan yang menjemur pakaian.

Cerita tentang bagaimana kami jatuh cinta berawal dari sana, begitu pun dengan cerita patah hati. Cerita tentang cita-cita dan perencanaan hidup antara saya dan Adik Perempuan, curhat serius konyol saya dengan Ibu, atau cerita gosip tetangga antara Adik dan Ibu selalu dimulai dari halaman belakang rumah dalam sesi mencuci pagi hari. Sewaktu kuliah, sering saya pulang hanya untuk mencuci pakaian. Bercerita segala sambil mencuci pakaian lebih tepatnya.

Kini, sudah ada si mesin cuci yang menemani Ibu mencuci. Adik Perempuan sudah jarang pulang karena harus kuliah, pun dengan saya yang mesti bekerja. Si Bungsu tidak terlalu bisa diandalkan soal pekerjaan rumah khususnya mencuci pakaian di pagi hari, mungkin karena Ia malas harus mencuci sendirian, mengingat dua kakaknya belum bisa menemaninya untuk bercerita segala hal. Bersyukur ada si mesin cuci yang bisa diandalkan saat Si Bungsu ngadat membantu Ibu mencuci pakaian.

Akan sebuah hal yang sama sekali tidak mengherankan tatkala saya dan Adik Perempuan pulang ke rumah, dalam waktu yang bersamaan si mesin cuci akan kami minta untuk cuti. Kami akan duduk bersama, mencuci dari ember ke ember dan bercerita banyak sekali hal, bercerita segala hal tentang hidup. Adik mengucek dan menyikat, Saya membilas, adik menjemur, Saya sarapan duluan dan mengomentari Adik yang menjemur pakaian.

Leave a Reply