Loading…

Menjadi Imam Salat

HAL-14-HARI-4 Picture Source

Saat sedang salat berapa kali kita bertanya pada diri sendiri, “Ini raka’at berapa ya?”

Sering terjadi karena sewaktu mendirikan salat, pikiran kita tidak tertuju pada apa yang kita lakukan. Berputar pada hal lain selain salat kita. Habis ini mau apa, tadi sedang apa, bagaimana jika demikian, serentet pertanyaan dan lain-lain yang tertuju dari diri sendiri pada saat salat dan berujung pada lupa raka’at. Nyata, khusyuk itu teramat berat, banyak nian godaannya.

Bagaimana jika posisi kita menjadi imam salat? Sedang berusaha untuk khusyuk memimpin salat, tahu-tahu ngeblank di tengah raka’at, “Ini tadi raka’at berapa ya?” berujung pada salah rakaat. Pernah saya alami beberapa kali salat berjama’ah kondisi yang seperti ini. Biasanya imam melakukan kesalahan di raka’at akhir, entah duduk tahiyat akhirnya kecepetan atau kelebihan satu. Reaksinya nyaris sama, hawa panas yang menyebar di seluruh ruangan. Benar-benar panas karena ada beberapa jama’ah yang masih belum paham kalau imamnya salah mereka kudu ngapain.

Saya pernah salat Jum’at imamnya salah, ruangan betul-betul panas waktu itu. Imam duduk tahiyat akhir di raka’at pertama. Imamnya masih muda, memimpin jama’ah satu desa. Sebagian besar mendesah, menghela napas panjang hingga mendecakkan lidah, Dari rasan-rasan yang saya alami, hawa panas yang menyebar di ruangan diikuti dengan pertanyaan, “Ini imamnya gimana sih? Sak jane bisa ndak mimpin salat? Masa salat Jum’at yang dua rakaat aja bisa salah?”

Pertanyaan yang seharusnya tidak terucap di tengah-tengah salat, sungguh mengganggu kekhusyukan. Semestinya saya tidak lagi bertanya demikian karena alasan seseorang ditunjuk menjadi imam salat ya karena dia memang mampu dan dianggap mampu. Lihatlah setelah selesai salat, betapa raut wajah imam tadi menunjukkan shock senyata-nyatanya. Wajah pucat diikuti derap jantung yang ndak karuan dan keringat dingin yang menjalar hingga telapak tangan yang menyalami makmumnya pas selesai salat. Mungkin imam tersebut bertanya, “Ya Allah, bagaimana pertanggung jawaban saya di hari akhir kelak atas apa yang terjadi pada hari ini?”

Sepulang salat Jumat saya berjalan kaki sembari berpikir, “Memang benar, menjadi imam itu sulit. Banyak yang harus dilakukan, banyak yang mesti dipersiapkan.” Kembali saya bertanya pada diri sendiri, “Sudah layakkah saya jika didapuk menjadi seorang imam? Sudah layakkah saya memimpin sebuah rangkaian salat berjamaah, sudah layakkah saya menjadi pemimpin yang bertanggung jawab pada hidup orang lain nanti, minimal keluarga saya nanti. Hari ini sudahkah saya memimpin diri saya sendiri dengan baik?”

***

Ada cerita yang saya bawa dari masa kecil ketika salat Tarawih dari musala yang sampai hari ini selalu saya kunjungi di bulan Ramadhan. Biasa dipanggil Pak Kaum, yaitu ia yang biasa memimpin salat berjamaah di musala, memimpin doa di setiap acara baik kenduri maupun pengajian di desa. Suatu kali Pak Kaum memimpin salat Witir, ia melakukan kesalahan. Saya lupa persisnya karena waktu itu saya sedang bermain bersama teman-teman di luar. Entah kecepetan atau kelebihan satu, tetapi yang saya ingat persis adalah teguran yang diucapkan oleh Pak Haji di desa kami yang umurnya jauh lebih tua.

Pak Haji yang memang terkenal galak berkata dalam nada tinggi, “Gimana sih? Kamu ini sebenernya bisa atau ndak mimpin salat?” Diucapkan pada saat hendak menyantap jaburan (cemilan yang disediakan setelah salat Tarawih untuk disantap bersama-sama). Pak Kaum tertunduk dan hadirin semua terdiam,  mungkin membatin tidak semestinya kritikan disampaikan dengan cara demikian.

Pak Kaum terlanjur malu, beberapa malam berikutnya ia tidak memimpin salat berjamaah lagi. Lebih dari itu, bahkan beliau tidak lagi salat di musala yang berhadap-hadapan dengan rumahnya. Sewaktu adzan Isya tiba, ia mengendap-endap dalam gelap menuju masjid besar yang jauh terletak di seberang jalan. Saya yang waktu itu masih kecil, hanya bisa melihat dengan sedih. Para tetangga tak bisa melakukan apa-apa, jangankan meminta memimpin salat jamaah lagi, menyapa pun mereka sungkan, barangkali khawatir menyakiti hati Pak Kaum.

Di akhir Ramadhan, Pak Kaum kembali salat berjamaah di musala dan kembali mengimami salat. Saya senang waktu itu, alasannya tidak tahu persis. Senang saja, mirip menyambut Bapak yang pulang ke rumah, dan sepertinya seluruh tetangga gembira menyambut Pak Kaum salat di musala dan kembali menjadi imam. Hingga kini Pak Kaum masih menjadi imam salat. Setiap Pak Kaum menjadi imam, saya mempercayakan beliau memimpin salat saya. Perasaan yang saya harus pelihara setiap kali akan salat berjamaah dengan siapapun.

Bismillah, saya mempercayai setiap dia yang menjadi imam salat saya. Saya rela menjadi makmumnya, tak masalah kalau sewaktu-waktu ia melakukan kesalahan. Tak lagi bertanya ragu, “Bisakah dia menjadi imam?” Percuma saja salat berjamaah kalau tidak percaya sama imamnya. Percuma menuduhkan segala hal pada imam ketika ia salah rakaat, kitanya masih bertanya, “Ini rakaat berapa tadi?”

Klise, tetapi memang benar adanya manusia tempatnya salah, terlebih lelaki yang (selalu) salah :D. Pada akhirnya, bukan tugas kita nge-judge salat kita sudah bagus atau belum, apalagi urusan salatnya orang lain.
Pada Gusti Allah lah kita menyerahkan seberapa Dia akan menerima salat kita.

Leave a Reply