Loading…

Mengapa Saya Masih Memakai Blackberry?

harga-blackberry-dakotaHari ini, hampir setiap orang menggunakan ponsel yang bersistem operasi Android. Baik, dengan catatan rata-rata penggunanya adalah kategori orang berumur 15-45 tahun. Blackberry yang dulu pernah booming sebagai ponsel pintar –apalagi Blackberry Gemini, si BB sejuta umat– kini sudah mulai ditinggalkan sampai-sampai aplikasi pesan instan WhatsApp berencana untuk mengakhiri kerjasamanya dengan Blackberry di akhir tahun 2016 ini karena sharing market yang hanya 0,9% di seluruh dunia.

Dulu sekali, Blackberry pernah menjadi simbol kekerenan seseorang. Sekeren kita yang lima belas tahun lalu mengalungi Nokia 3315 dengan gantungan rantai. Pada akhirnya, ia kalah oleh persaingan dunia pergadgetan yang tidak kenal ampun. Sebuah percepatan teknologi yang tidak hanya dua kali atau tiga kali lebih cepat tetapi percepatan eksponensial, kalau boleh saya bilang.

Saya sendiri tidak pernah benar-benar membeli ponsel Blackberry yang baru, segel, dan bergaransi resmi karena faktor utama : HARGA. Tiga tahun lalu, harga sebiji Blackberry dengan kemampuan menangkap jaringan 3G masih lebih mahal daripada ponsel ber-OS Android Ice Cream Sandwich atau Jelly Bean dengan kemampuan perangkat keras yang tidak jauh berbeda.

Bulan lalu, saya membeli Blackberry 9900 (Dakota) dengan harga 700 ribu rupiah saja. Pemilik sebelumnya adalah bapak-bapak yang meminta bantuan anaknya untuk menjualkan ponselnya. Sang anak menjelaskan pada saya kalau Blackberry yang ia jual eks garansi resmi, kondisi barang 90%, pemakaian normal sejak Mei 2013, semua fungsi normal kecuali tombol lock di bezel bagian atas, tombol shortcut di bagian kanan, dan huruf ‘a’ yang agak keras. Selain itu kondisi fisiknya masih cukup memuaskan. Bisa dimaklumi, pemakai sebelumnya adalah orang tua yang notabene lebih telaten ketimbang anak muda.

Ketika saya bertemu si anak untuk transaksi, ia menjelaskan pada saya kalau Blackberry tersebut belum pernah dibongkar sekalipun. Walau udah habis masa garansi, ada rasa sayang kalau semisal harus membongkar hanya untuk mereparasi beberapa tombol. Terselip di dalam kotak selembar nota pembelian, harga Blackberry Dakota pada Mei 2013 adalah Rp 5.600.000,00. Di bulan dan tahun yang sama, saya membeli Lenovo A390, RAM 512 MB, kapasitas memori 4 GB, dan sistem operasi Android Ice Cream Sandwich hanya Rp 1.050.000,00.

Pada akhirnya saya harus mengeluarkan biaya tambahan Rp 100.000,00 untuk mereparasi tombol-tombol yang tidak berfungsi dengan mengganti bezel alumunium dan satu set keypad. Kondisinya saat ini sudah nyaris seperti baru dan saya cukup puas dengan barang kini menjadi milik saya.

***

Dari pengalaman saya pribadi, orang-orang tidak lagi berminat menggunakan Blackberry antara lain karena :
1. Sistem paket internet yang ditawarkan oleh operator seluler dirasa cukup mahal. Untuk satu bulan paket full service bisa menghabiskan 100 ribu rupiah. Dengan pemakaian data yang kurang lebih sama, saya hanya menghabiskan 60 ribu untuk paket Telkomsel berkuota 4 GB. Beberapa sistem paket selain full service, ada ketidakjelasan aplikasi apa saja yang bisa berjalan dengan sistem paket tersebut, hal ini membingungkan bagi sebagian orang.
2. Jam pasir alias lemot. Bagi beberapa seri Blackberry terdahulu, hal ini lazim terjadi karena pemakaian beberapa aplikasi sekaligus. Oleh karena itu, saya memilih Blackberry Dakota yang di zamannya pernah menjadi Blackberry termahal dengan spesifikasi tertinggi.
3. Aplikasi berbayar. Sistem operasi android dengan Google Play nya menawarkan jutaan aplikasi gratis dengan puluhan kategori sesuai yang kita butuhkan, interface yang enak dilihat karena faktor lebar layar, dan update yang terus menerus. Sementara Blackberry dengan Blackberry World nya hanya menyediakan sedikit sekali aplikasi gratis dengan fitur yang terbatas pula. Kita diharuskan membayar untuk mendapatkan fitur lengkap sebuah aplikasi.
4. Aplikasi pesan instan Blackberry Messenger (BBM) lambat. Kalau ini sih sudah sejak dulu, saya rasa hanya tinggal menunggu kepunahan Blackberry Messenger saja. Para pengguna android saya rasa sudah banyak beralih ke aplikasi pesan instan lain seperti WhatsApp atau Telegram yang kini lebih cepat dari WhatsApp. Saya menghapus BBM di ponsel Android saya karena terlalu menghabiskan memori, belum lagi iklan yang menjengkelkan dan tidak sengaja terpencet pada news feed yang saya baca. Sementara itu, BBM di ponsel Blackberry masih bebas iklan.
5. Tidak ada aplikasi yang terupdate yang disesuaikan dengan perkembangan zaman, contohnya begini : Twitter untuk Android nya sudah bisa mengirimkan gambar berformat .gif, sementara Twiter untuk Blackberry untuk quote twit nya masih berupa link.
6. Dan sudah pasti menjadi bahan olok-olokan, “Hari gini masih pake BB?”

***

Lalu mengapa saya masih setia memakai Blackberry? Pada akhirnya, saya memperlakukan ponsel Blackberry saya sebagai feature phone belaka. Ponsel pintar dengan fitur lumayan lengkap yang bisa saya pergunakan untuk mengetik sms, menelepon, dan mendengarkan musik. Tidak terkoneksinya Blackberry dengan internet dapat menghemat baterai sampai 2 hari. Fitur utama yang justru saya pakai dari ponsel ini adalah MemoPad.

Saya suka menulis, ide seringkali datang untuk diwujudkan dalam bentuk tulisan. Terlalu ribet bagi saya jika harus membuka laptop dan mengetik ide-ide yang berseliweran. Malas bagi saya jika harus menulis dengan tulisan tangan lalu ditulis ulang di layar komputer, dua kali kerja. Akan menjadi buruk mood menulis saya jika harus menulis di ponsel layar sentuh dan mendapati kesalahan penulisan karena faktor kegedean jempol.

Dengan Blackberry, saya bisa menulis puisi, cerita pendek, dan esai berisikan opini ataupun curhatan yang saya kirimkan via whatsapp atau LINE ke ponsel Android untuk kemudian diunggah ke septyoup.com. Bagaimana jika tidak punya paketan Blackberry? Mudah saja, aktifkan mode tethering saja ponsel Androidnya, lalu koneksikan dengan wi-fi ponsel Blackberry.

Saya masih memiliki ketergantungan akan kebutuhan menulis di ponsel dengan keypad fisik, selain mudah dikoreksi, faktor kenyamanan juga menjadi pertimbangan saya menggunakan Blackberry. Biarlah saya diolok-olok jadul atau ketinggalan zaman oleh orang lain, saya menganggap diri saya sendiri lebih mengerti akan kebutuhan.

Buat saya, menggunakan Blackberry bukanlah jadul, melainkan klasik. Itu saja.

Leave a Reply