Loading…

Matahari Emas, Kamu.

Golden Sunrise_3

Napasmu terengah di antara gelap, dini hari buta yang seharusnya orang-orang terlelap. Berselimutkan mimpi, bunga tidur yang banyak terlupa saat mereka terjaga. Tapi itu bukan mimpi, aku menggenggam tanganmu erat, membimbingmu menuju matahari emas puncak Bukit Sikunir. Dinginnya menggigit bukan? Lebih kukhawatirkan ketika keringat dingin membasahi wajah dan entah tubuhmu. Itu akan membuatmu lebih dingin, lalu angin bertiup sayup.

Hei, aku ada disini, di depanmu. Tanganmu memegang erat tanganku. Duduklah dahulu, tuntaskan dulu pusing dan lelahmu. Aku lelaki yang dikuatkan gengsi; gengsi yang dengan penuh kerelaan mendengarkan bisikan keluh letih, abai pada deraan dingin di tengkuk dan telinga lalu mengubahnya menjadi mantera, “Mari Sayangku, kuatlah! Puncak tinggal beberapa tapak kaki lagi!” menggamit tanganmu, lalu melangkah hati-hati dan perlahan.

Di puncak pertama kita, angin berhembus semakin dingin.
Bertayamumkan debu bersaput embun dedaunan, kuangkat tangan, berucap takbir tepat setelah selesai kumandang adzan. Gemanya berasal dari desa tertinggi di Pulau Jawa dengan cahaya lampu yang kelihatan bak ratusan bintang di bawah kaki kita. Sisa purnama masih bergelora bersiap tenggelam, dengan kita memunggungi kerlip sang Venus kecil. Ia merelakan dirinya disapu cahaya baskara yang akan terbit dalam hitungan jam.

Kamu berkata, “Aku suka matahari terbenam, tetapi aku lebih suka matahari terbit. Matahari terbenam membawa gelap malam setelahnya, matahari terbit membawa terang siang.”
Aku selalu mengabadikan senja, kupikir itu cerita romantis seperti lagu Kemesraan-nya Iwan Fals. Lalu jika terbenam matahari dianalogikan usia, maka kita tak akan lagi muda bersama. Terlebih bagi mereka yang rabun senja, dan berusaha keras menggapai tangan pasangan untuk tempat berpegangan.

~Aku janji ketika aku rabun kelak, aku selalu tahu kemana aku harus berpegangan.
Aku selalu tahu tangan milik siapa yang kugenggam.

Jika terbit dan senja ditakdirkan ada untuk sama-sama disukai; aku memilih terbit menuju siang untuk bangkit mewujudkan cita-cita, memilih senja untuk merenung, memilih gelap untuk kembali bermimpi dan menyusun ulang cita-cita.

Semburat rona emas di ufuk timur, ada kamu yang tersenyum, menunjukkan barisan geligi tersusun rapi dan uap di kacamata yang sirna segera oleh sapuan hawa sekitar kita. Ada tangan-tangan yang bergenggaman melawan dingin, aku tak lagi gengsi karena gengsi hanya akan membuatku menggigil, semakin tidak rela membiarkanmu kedinginan, sendirian.

Di puncak pertama kita, pagi pertama dengan matahari terbit yang kita lewatkan bersama; kupersembahkan matahari di tangkupan belah tangan untukmu.
Semoga Allah meridhoi apa yang kita cita-citakan.

~i wish i could lay down beside you when the day is gone,
and wake up to yourself against the morning sun.
Hiding My Heart – Adele.

P.S :
> Mana yang kamu pilih, dia dengan Tuhan di dalam dirinya atau dia dengan dirimu di dalam dirinya?
>> Dia dengan dirimu di dalam dirinya, kemudian KITA menemukan Tuhan bersama-sama.

Leave a Reply