Loading…

Lomba Blog Pegipegi – Pemburu Kain Nusantara Danau Tempe Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan

cropped-kain-sarung-tenunPesona Kain Nusantara. Sumber foto disini.

Saya punya mimpi. Di pernikahan saya kelak, saya akan memberikan tujuh lembar kain dengan tujuh warna berbeda dari tujuh pulau di Indonesia sebagai seserahan kepada (calon) istri saya. Sudah terkumpul dua lembar, yang pertama kain batik bermotif kerang mutiara, pala dan cengkih khas Maluku, yang kedua kain songket khas Kalimantan Barat. Alasan saya klasik, Indonesia amatlah kaya dengan berbagai macam kesenian dan kerajinan salah satunya kain. Selain itu, saya amat bangga dengan pekerjaan saya sebagai seorang geologist. Tujuh lembar kain membuktikan saya pernah menjejakkan kaki di tujuh pulau yang berbeda di Indonesia. Terinspirasi juga dari legenda Jaka Tarub dan tujuh selendang bidadari.

Ya, saya akan menjadi legenda. Setidaknya untuk istri saya kelak.

Menjadi geologist sendiri sebenarnya hanya untuk mengakomodasi keinginan saya untuk menjejak tempat-tempat baru, mengenal keberagaman alam dan penduduk Indonesia, dan menghayati kekayaan negeri sendiri selain menimbun kekayaan materi. Jalan-jalan dibayar, siapa yang tidak bersorak dengan kehidupan yang sedemikian?

Masalahnya, saat ini peluang kerja menjadi geologist sangat sempit karena peraturan pemerintah yang melarang ekspor mineral dalam bentuk mentah. Perusahaan harus menginvestasikan sejumlah triliun rupiah untuk membangun pabrik pemurnian mineral. PHK pada sejumlah karyawan menjadi solusi demi efisiensi anggaran perusahaan. Geologist termakan imbasnya.
Termasuk saya.

Demi resolusi rabi (menikah) tahun ini saya harus tetap bergerak menjelajah. Kalau tidak menjadi seorang geologist, akan saya taklukkan mimpi sebagai seorang traveler. Sama saja, saya akan menemukan hikmah dari perjalanan saya. Kalaupun tidak dibayar, paling tidak saya dibayari.
Semangat berlibur? Tetap!

***

pegipegi.com sedang menyelenggarakan lomba menulis blog bertema ecotourism dengan hadiah liburan gratis bersama kokoh-bertetek-gede Alexander Thian (@aMrazing) kemanapun tujuannya, asalkan masih di negara Indonesia. Saya pikir ini kesempatan yang tidak boleh saya lewatkan. Saya sudah melewatkan beberapa kali lomba menulis berhadiah jalan-jalan karena kebanyakan alasan. Kali ini saya kehabisan alasan untuk tidak menulis.

Jawaban akan kemana saya harus pergi berlibur langsung saya temukan. Saya harus ke Sulawesi. Menuju sentral pembuatan kain sutera di Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Tenggara. Segala kain sutera di Makassar berasal dari Kabupaten Wajo. Saya pikir tidaklah cukup hanya ke Makassar capek-capek membeli tiket pesawat dan tidur di hotel, jalan-jalan berswafoto di Pantai Losari, makan Coto Makassar, beli oleh-oleh kain sutera di pasar lalu pulang.
Mainstream!

Saya pernah mengunjungi Sulawesi, meskipun tujuannya ke Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah untuk mengambil data skripsi. Pernah memiliki kain sutera berwarna oranye dari Makassar, oleh-oleh titipan dari pacar adik saya. Uniknya kain itu, saat terkena pantulan cahaya dari sudut yang berbeda, ia berubah warna menjadi warna pink. Kain tersebut awalnya diniatkan untuk seserahan, hanya saja akhirnya saya putus dengan sang pacar. Kain tersebut menjadi hak milik ibu saya.
Saya merasa harus mengulang segalanya dari awal.

“Sudah, jangan lantas curhat. Lagipula kamu harus menjejakkan kaki lagi ke tanah Sulawesi, kainmu harus kamu dapatkan dengan jasad sendiri, bukan dengan titip beli oleh-oleh ke orang lain.”

***

Harith Jobs, pacar adik saya bercerita selain menjadi sentral kain, Kabupaten Wajo terkenal dengan danau Tempe-nya. Otak awam saya menyahut, “Mengapa danau tersebut dinamai Tempe? Apakah bentuknya seperti Tempe? Apakah banyak Tempe?”

Menyebut kata ‘Tempe’ berulang-ulang seperti enak di telinga, menstimulasi otak untuk memikirkan hal lain…
Tempeee… Tempeeek…
Ah sudahlah!

Batin geologist saya bertanya, “Bagaimana bisa ada danau di tengah pulau Sulawesi? Bagaimana keterkaitannya dengan sejarah geologi Sulawesi yang sangat kompleks? Potensi apakah yang bisa saya gali dari danau Tempe? Apakah wanitanya disana cantik-cantik?”

*bersiap menghindar dari lemparan sandal Nyai Markonah Sang Kekasih.

***

9537268313_a00335944d_bDanau Tempe. Sumber foto disini.

Pulau Sulawesi selalu menjadi neraka kecil bagi para geologist. Sejarah pembentukannya rumit karena melibatkan tabrakan tiga lempeng dari berbagai arah. Analoginya begini, campurkan sup ayam, bakso, dan soto dalam satu mangkuk lalu pilah yang mana sup ayam, mana bakso, dan mana soto, ceritakan apa bahan masing-masing makanan dalam mangkuk aneka makanan. Sulit bukan? Danau terbesar kedua di Sulawesi itu sendiri bisa diibaratkan sebagai ceruk kuah raksasa di tengah mangkuk campuran makanan sebesar pulau berbentuk seperti huruf ‘K’ tersebut.

Dari referensi yang saya baca, danau Tempe dulunya adalah perairan yang terbentuk pada 10.000 sampai 20.000 tahun lalu yang memisahkan pulau Sulawesi bagian utara dan selatan. Lalu terjadilah pergeseran dari lempeng tektonik yang menyebabkan terjadinya pengangkatan di sekitar danau Tempe. Proses erosi dan sedimentasi mengubah wajah danau Tempe hingga yang sekarang kita lihat. Karena melibatkan proses tektonisme, danau Tempe dikategorikan sebagai danau tektonik.

Konsep geopark membubung di kepala saya. Mengapa tidak kawasan danau Tempe di Kabupaten Wajo dijadikan sebagai kawasan geopark seperti Danau Toba di Sumatera Utara, Gunung Sewu di Kabupaten Gunung Kidul, atau bahkan Raja Ampat di Papua Barat?

Tiga hal yang menjadi konsep dasar sebuah daerah memenuhi syarat menjadi kawasan geopark :
Pertama, daerah tersebut merupakan sebuah kawasan geologi yang bermakna. Pulau Sulawesi, neraka kecil yang telah saya ceritakan tadi memiliki sejarah panjang dan rumit dari aspek geologi. Khusus danau Tempe dengan cerita sejarah terbentuknya sejak puluhan ribu tahun lalu dengan cerita pergeseran lempeng sehingga disebut danau tektonik, menjadikan daerah ini layak masuk kriteria kawasan geopark.
Kedua, daerah tersebut memberikan peluang pada masyarakat untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan kontribusi ekonomi nyata. Pengembangan mengenai konsep peningkatan ekonomi masyarakat danau Tempe akan saya ceritakan di paragraf berikutnya.
Ketiga, objek warisan dan pengetahuan geologi berhubungan dengan lingkungan alam dan budaya masyarakat. Dengan adanya danau Tempe, kita bisa menyaksikan sendiri bagaimana pola hidup masyarakat suku Bugis dengan keseharian dan budaya mereka menjadi nelayan. Perlu diketahui, kekayaan ikan air tawar di danau Tempe amatlah melimpah dan menjadi pemasok terbesar konsumsi air tawar di Indonesia. Cerita tektonisme puluhan ribu tahun lalu bermuara pada kekayaan hayati berupa ikan air tawar yang melimpah dan bermanfaat bagi semua orang.

Jika konsep tersebut ditawarkan pada pemerintah daerah setempat dengan tindak lanjut taktik dan strategi yang tepat sasaran, maka akan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) baru bagi Kabupaten Wajo yang sudah tentu akan meningkatkan taraf kehidupan masyarakat di sisi ekonomi, disamping meningkatkan wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai kultur sosial, budaya, bentang alam dan kondisi geologi baik pada masyarakat setempat maupun pada wisatawan yang datang berkunjung.

***

Sebuah keluarbiasaan ketika kita berkunjung ke Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan yang disana sudah tersusun rapi lokasi wisata terpadu bertajuk “GEOPARK DANAU TEMPE“. Wisatawan berperahu mengelilingi danau lengkap dengan pemandu wisata dari masyarakat sekitar yang siap menceritakan kedahsyatan sejarah purba terbentuknya danau Tempe jutaan tahun lalu dari sisi geologi. Ia akan bercerita tentang dua puluh tiga sungai yang bermuara di danau tersebut, tentang terbentuknya tanah berbukit yang berderet dari utara ke selatan sepanjang Kabupaten Wajo yang digabungkan dengan kisah legenda setempat.

9540057552_23986c6338_b Senja di danau Tempe. Sumber foto disini.

Ketika malam tiba, “Floating Homestay” (rumah mengapung) di danau siap menampung para wisatawan lengkap dengan sajian ikan bakar hasil tangkapan yang dipancing sembari menanti matahari senja. Dingin malam, hanya ada nyala lentera di rumah-rumah mengapung di sekitar danau, dengan suara angin berdesir membelai permukaan danau kemudian terlahir kecipak dan riak kecil.
Segala kedamaian berasal dari sana.

Untuk kegiatan esok harinya, akan lebih menantang lagi jika dibangun wahana untuk kegiatan outdoor sekitar danau yang bertujuan mendekatkan pengunjung dengan alam sekitar sekaligus melepas penat perkotaan.

wajo

Penenun Kain dari Sentra Kerajinan Sutera Kabupaten Wajo. Sumber foto disini.

Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan mengunjungi sentra pembuatan kain sutera di Kabupaten Wajo. Pengunjung mendapatkan pengalaman luar biasa dengan melihat proses singkat pembuatan kain sutera dari ulat sutera diternakkan hingga penenunan menjadi lembaran kain. Wisata terpadu Kabupaten Wajo lengkap sudah dengan oleh-oleh kain sutera istimewa dari tangan pertama, sangat istimewa bagi pemburu kain khusus seserahan nikahan seperti saya.

Ia tak lagi menjadi neraka kecil, ia akan menjadi surga kecil yang tepat untuk menjejakkan kaki, berpetualang.

DEMI RESOLUSI RABI DUA RIBU LIMABELAS MARI KITA BERBURU KAIN NUSANTARA!

Leave a Reply