Loading…

Kritik Buku : Intelegensi Embun Pagi – Dee Lestari

supernova6_intelegensi_embun_pagi-1Kritik Buku : Intelegensi Embun Pagi – Dee Lestari

Mungkin sudah banyak review baik di blog pribadi maupun situs dunia perbukuan seperti goodreads yang membahas tentang Intelegensi Embun Pagi nya Dee Lestari. Yang menilai karya ini bagus sama banyaknya dengan yang menilai karya ini parah. Saya termasuk yang kedua, karya ini parah. Maaf kalau tulisan di bawah ini ujung-ujungnya ndak jadi review, malah jadi curhat.

Pertama, kualitas cover buku.
Cover IEP berwarna putih berlapis hologram ini sepintas tampak keren, tetapi kekerenan itu tidak sebanding dengan kualitas cover yang sayangnya buruk; covernya sangat mudah menggulung dan mudah mengelupas. Degradasi ini terhitung sejak Supernova dikeluarkan dalam edisi terbaru yang berwarna hitam bersimbol berlapis doff, yang edisi ini lapisannya doffnya sangat mudah mengelupas.. Hal ini mengganggu mengingat cover edisi sebelumnya baik-baik saja meskipun diperlakukan “semena-mena”, berkeliling dari satu tangan ke tangan lainnya dan tidak disampul plastik.

Kedua, isi buku.
Dua a, penokohan.
Banyak yang mengeluhkan banyaknya tokoh yang muncul dalam novel ini tidak sebanding dengan porsi yang mereka perankan. Memang di halaman-halaman awal kita dikejutkan dengan terkuaknya identitas masing-masing tokoh. Siapa yang menjadi Peretas, siapa Sarvara, siapa Infiltran. Tapi seakan dunia dalam IEP selesai dengan hanya membagi dunia menjadi tiga golongan yang saya sebutkan di atas.

Kekecewaan pertama saya adalah hilangnya identitas masing-masing tokoh. Khususnya Bodhi dan Elektra -sorry, saya tidak terlalu merasakan keterikatan mendalam pada tokoh Zarah dan Alfa- seperti kehilangan touch, diceritakan sangat dangkal, kehilangan sisi kemanusiaan dan semangat mereka untuk hidup yang diperlihatkan pada novel sebelumnya. Belakangan saya menyadari, semua tokoh terasa dipermainkan oleh plot cerita bahwa mereka mengemban misi menyelamatkan dunia sehingga kehilangan identitas itu begitu terasa. Silakan saja kalau Dee mau beralasan mereka bukan manusia.

Kekecewaan kedua, tentang Diva, Ferre, Rana. Iya, mereka salah tiga bagian dari gugus Kandara, hanya saja mengapa tidak diekspos dan dilibatkan dalam lebih banyak peran? Khusus Diva, sejak awal novel ini diberi judul Supernova, ledakan. Supernova adalah Diva, dan mengapa Diva hanya diceritakan hanya numpang lewat dan numpang tinggal di gugus Asko. Kalau memang akhirnya Diva hanya menjadi figuran, terus ngapain buku ini diberi judul Supernova?

Dua b, alur cerita.
Saya besar bersama Supernova, mulai membaca sejak SMA tahun 2005. Novel yang pertama saya baca waktu itu adalah Petir, lanjut membaca Akar tahun 2007 sewaktu kuliah, hingga tahun 2008 membaca Ksatria. Saya membayangkan novel ini akan menjadi besar, sebesar ledakan Supernova. Berharap cerita di dalamnya membawa sebuah pesan apapun itu, menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu, atau membawa sebentuk pencerahan seperti tujuan Supernova pada awalnya.

“Ya, novel ini menjanjikan,” pikir saya waktu itu.

Tentang bagaimana si penulis merumuskan alur cerita dan penokohan yang dibalut dengan pemilihan kata yang luar biasa sadis dan penuh makna. Mendadak kita dibuat menjadi seromantis Ksatria yang menuliskan puisi pada Puteri, hingga berkerut kening menyimak penjelasan Ruben dan Dimas tentang prinsip kesadaran. Saya mendalami cerita Ksatria sejauh itu, puas membacanya berulang kali dan menemukan hal baru setiap selesai membacanya. Kemudian tentang Bodhi yang melakukan perjalanan keliling Asia hanya untuk memecahkan misteri dalam hidupnya, pencarian jati diri tentang siapa dia sebenarnya, mendorong saya untuk melakukan perjalanan serupa, berkeliling penjuru negeri untuk mencari tahu segala hal yang belum saya ketahui. Tentang Elektra yang berawal dari bukan siapa-siapa, hingga menjadi yang diperbincangkan siapa saja, tentang Bandung dengan segala lekuk sudut dan pesonanya, sungguh terasa nikmat ketika saya membacanya.

Kini dengan IEP ada di genggaman dan telah selesai saya baca, saya hanya merasa kesal karena ujung dari cerita ini hanyalah science fiction dengan misi menyelamatkan diri agar tidak terjebak ke samsara yang dibumbui dengan percintaan Gio dan Zarah khas remaja kekinian, dengan banyak tokoh yang entah fungsinya apa, jokes yang maksa, dibalut dengan ilustrasi Asko yang sepenuhnya saya tidak mengerti karena sulit membayangkannya, dan banyak sekali istilah yang saya tidak mengerti : kandil, antarabhrava, gugus, kisi, dan entah apa lagi.

“Jadi gue nunggu sekian lama buat baca science fiction remaja dengan misi menyelamatkan dunia?” saya rasa tidak hanya saya yang berpikir demikian.

Ketiga
Tentang Dee
Dee adalah penulis berbakat, saya merasa demikian. Supernova : Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh adalah sebuah karya yang luar biasa, berlanjut pada sejumlah karya berikut yang cenderung menunjukkan grafik penurunan kualitas dari satu ke yang lainnya. Dalam seri Supernova, awal penurunan sudah terasa sejak zaman Petir diterbitkan. Terjadi jeda yang sangat lama dari Petir menuju Partikel yang diisi dengan terbitnya side project novel remaja semacam Perahu Kertas, kumpulan cerpen Rectoverso dan Madre (Filosofi Kopi masih agak lebih baik) yang secara langsung memengaruhi kehadiran Supernova dari seri ke seri.

Perasaan saya sudah memburuk sejak membaca Gelombang, sehingga tidak banyak berharap untuk IEP. Akan tetapi, saya tidak menyangka IEP bakalan separah ini (memang masih lebih parah Gelombang sih). Saya menceritakan hal ini pada kawan-kawan saya lalu melipir ke pembahasan kualitas karya-karya terkait dari sisi si penulis, Dee dan melahirkan beberapa asumsi.

Asumsi pertama.
Faktor penerbit.
Tiga karya awal Dee diterbitkan secara independen, TrueDee Books. Yang artinya si penulis memiliki otoritas penuh terhadap isi bukunya. Bebas mengekspresikan diri terhadap buku yang akan dituliskannya, tidak pusing dengan berapa banyak buku yang akan terjual. Lalu karya berikutnya dibatasi oleh visi dan misi penerbit mayor, Bentang Pustaka, pastinya memiliki tim penyunting sendiri yang mungkin membatasi gerak pikir si penulis, bertanggung jawab dengan eksistensi si penulis, mungkin juga ‘memaksa’ si penulis untuk mengeluarkan karya, belum lagi beban kalau karya tersebut harus menjadi best seller.

Asumsi kedua
Perlu kegelisahan untuk menghasilkan sebuah karya. KPBJ adalah sebuah karya yang membuktikan betapa seseorang berada dalam kondisi yang tidak nyaman. Latar belakang konflik, ketidaknyamanan hidup, dan kegelisahan si penulis itulah mungkin menjadi pemicu lahirnya karya yang harus menjadi luar biasa, dilandasi pada semangat juang untuk mengubah sesuatu lahirlah KPBJ, hal ini masih berlanjut pada seri Akar dan Petir.

Periode berikutnya adalah si penulis sudah mulai beranjak menuju ketenangan batin, namun diperlukan kelahiran karya demi eksistensi si penulis sendiri, Supernova masih entah mau dibawa kemana, sepertinya masih belum ada ide. Lahirlah karya remaja semacam Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre.

Berlanjut pada periode si penulis merasa nyaman, namun memaksa gelisah dengan tanggung jawab pada Supernova yang dibuatnya sedari awal dan menuntut diselesaikan . Penulis memaksakan diri meriset banyak hal untuk membuat sebuah karya fiksi ilmiah, lahirlah Partikel.

Kelahiran Partikel dengan sambutan beragam dari fans Supernova, mereka yang rindu akan kelanjutan cerita Supernova memaksa si penulis melanjutkan kisah dengan formula sama, berujung pada plot yang nyaris sama dan latar belakang berbeda; Gelombang.

Penulis hari ini sudah cenderung nyaman, sudah tidak terlalu mengkhawatirkan banyak hal. Satu hal yang harus dia lakukan hanyalah menyelesaikan cerita. Gabungkan semua tokoh jadi satu, buka semua identitas tokoh, bikin cerita yang diluar dugaan dengan frame petualangan menyelamatkan dunia, dibumbui dengan mitos dan romantisme remaja kekinian hingga mengesampingkan aspek latar belakang tempat dan waktu, dan boom! Jadilah sebuah ending yang akan menjadi best seller! Intelegensi Embun Pagi.

Saya memahami, butuh banyak sekali waktu, tenaga, dan pemikiran untuk melahirkan sebuah karya. Namun beginilah adanya, semua sudah terjadi. Novel sudah terbit dan saya hanya membaca dan memberikan kritikan. Saya membaca sebuah review di goodreads, ada pengulas yang menulis kurang lebih sebagai berikut, “IEP diibaratkan seperti skripsi yang memiliki ide luar biasa, namun terlalu tergesa karena diselesaikan dengan sistem kebut semalam sehingga menghasilkan karya yang mentah, pada saat sidang pendadaran tidak terasa memuaskan.” Apa yang diungkapkan si pengulas cukup mewakili keseluruhan proses lahirnya IEP. Saya sepenuhnya setuju dengan pendapat tersebut.

Asumsi ketiga.
Supernova : Ksatria Puteri Bintang Jatuh bukan sepenuhnya Dee yang menulis. Ini murni asumsi, tanpa bukti apapun. Saya hanya meletakkan dasar asumsi ini pada nuansa dan gaya penulisan KPBJ yang sangat berbeda jika harus membandingkan karya tersebut dengan karya-karya berikutnya. Diperlukan setidaknya dua orang penulis untuk merangkai pembicaraan tentang psikofilsafat yang dilakukan oleh Ruben dan Dhimas, cerita cinta antara Ferre dan Rana, serta ide untuk menggabungkan dua hal tersebut menjadi induk dari cerita berikutnya. Dee bagian menuliskan bagian romansanya, bagian lainnya entah siapa.

Sekali lagi, mungkin hanya asumsi yang lahir dari pembahasan antara iseng saya dan kawan-kawan saya. Tetapi bukannya tidak mungkin, kan?

Leave a Reply