Loading…

Fragmen Rindu – Babak VIII

VIII

Di Malam yang Lain

>> Maafkan aku yang semakin membuatmu jatuh dalam rindu tanpa jemu ~
> Tak perlu meminta maaf. Jatuh rinduku tak lagi menyakitkan.
>> Pernahkah rindumu membuatmu sakit? ~
> Sesak sesaat pernah kualami, namun kucoba membebaskannya dalam harap akan sebuah jumpa. Pernahkah kamu dibunuh rindu?
>> Maafkan aku yg mungkin sempat ragu dengan rindumu ~
> Tidak ada yang perlu dimaafkan, Puteri. Jangan lagi minta maaf.
>> Aku yg membunuh rindu. Menghalangi ia tumbuh bersama ragu.
Terimakasih kalau begitu. Untuk nyaman yang telah kau ciptakan. Untuk bagian dari pikiran milik kita yang kita samakan. ~
> Hampir tengah malam. Belumkah kantuk menghampiri?
>> Sedikit lagi. Tunggu sampai wangimu merasuki sanubari dan membawaku lelap ke alam mimpi. ~

> Denganmu aku menikmati pesta dansa kata dan rima. Apakah kamu menunggu dentang dua belas? Saat ibu peri mengingatkanmu untuk meninggalkan lantai dansa, meninggalkan pangeran tanpa sepatu kaca? Yang ada hanya hangat tarian yang berlarian di tepi pikiran.
>> Aku menunggumu membawakan kembali sepatu kaca milikku itu ~
> Sepatu kaca sebening pandangmu serapuh hatimu seindah kamu.
>> Tak akan lebih sempurna kaca itu ketika tanpa kamu. Semoga Allah memberikan rindu yang nantinya bisa saling bersatu ~
> Amin. Semoga semesta turut mengamini. Aku hanya memasrahkan pada Allah atas apa yang akan terjadi nanti.
>> Aku percaya, bahkan pertemuan kita semesta pun menginginkannya. ~

Leave a Reply