Loading…

Fragmen Rindu – Babak IV

IV

Di Sebuah Siang

> Berdansa dalam kata.
>> Ikuti saja irama dalam bayang bahagia ~
> Kuikuti langkah dalam irama itu. Bersama dengan memori bangku santai rumah lantai dua, tempat pertama kita bercerita.
>> Aku punya kursi yang selalu kamu tempati di lantai dua itu. Ada tepat persis di depan pintu kamarku ~
> Duduklah disana ketika pulang. Jika mau, lupakan sebanyak kamu ingat.
>> Apa yang harus aku lupakan dengan kursi itu? ~
> Aku yang tak bisa kamu jangkau dalam rengkuh.
>> Seharusnya aku sudah menjauh sejak aku tahu bahwa aku tak mampu menahan rindu. ~
> Rindu ini juga tak sanggup kubendung. Dan aku hanya bisa menikmati dari candu yang dibuat dari tangan seorang peramu, kamu!
>> Maafkan aku yang hadir. ~
> Tak perlu minta maaf. Semua sudah terjadi.

>> Sampai saat ini, aku masih saja berpikir, aku harus berhenti sampai disini. ~
> Segala yang ada hadir tanpa diminta, bukan?
>> Segala hadir tanpa diminta dan aku pun tak bisa berbuat apa apa. ~
> Begitu pun aku. Yang bertanya pada Tuhan ; adakah kamu ujian atau anugerah?
>> Pada akhirnya aku hanya diam. Duduk menunggumu meraihku dalam dekapmu ~
> Aku diam. Menunggu tangan tak terlihat menuntunku. Aku berpasrah pada Yang Memberiku Hidup. Sang Maha Pembolak-balik Hati. Karena Ia yang dapat melegakan himpitan di sesakku.
>> Lalu aku bersiap untuk pergi melepasmu ~
> Haruskah aku bersiap kehilanganmu?
>> Aku tak tahu apakah aku mampu, tapi yg ku tahu kamu bukanlah orang yg seharusnya saat ini bersamaku ~
> Serahkan saja pada sang waktu kalau begitu.

> Jangan menangis dulu, bahuku tak ada disitu. Kumohon jangan menangis.
>> Ah, mungkin hanya bahumu yang mampu untuk menjadi tempatku. Aku tak akan menangis. Aku tak akan membiarkan rindu pergi bersama air mata ini.~
> Katamu kamu peramu rindu terbaik. Masih harus meramu menjadi jumpa pada sebuah temu, kan? Ingatlah, ketika hari itu tiba, aku menjadi tawananmu.

Leave a Reply