Loading…

Dulu, Kini, dan Nanti

IMG_20150621_125306

Gambar di atas masih menjadi benda peninggalan sejarah yang saya temukan di kamar belakang dalam sesi beres-beres. Tentu saja, tumpukan diary alias buku harian tersebut bukan milik saya. Sebagai tamatan akademi Generasi 90’an, warna-warni diary bergambar lucu dan imut adalah pengantar tumbuh kembang setiap anak perempuan yang menuliskan cerita hidupnya.

Saya iseng membaca beberapa lembar diantaranya. Ada bagian yang menceritakan tentang mimpi dan cita-citanya, ada bab tentang kebanggaannya memiliki teman-teman satu geng. Sempat terkikik geli pada bagian adik saya yang bercerita tentang ia yang kesal dengan seseorang anak laki-laki. Dua diantaranya tidak bisa dibuka, digembok rapi, entah rahasia besar dunia macam apa yang mungkin ditulis oleh anak perempuan berumur belasan tahun.

Hei, tenanglah! Tak ada pelanggaran privasi, sudah saya masukkan ke dalam kardus semuanya.

Saya tiba pada satu tanya, “Sudahkah saya memperhatikan adik-adik saya dengan baik? Dulu, kini, dan nanti?”

Adik perempuan saya tumbuh di kamar belakang, bersebelahan dengan dapur. Setiap pagi ia bangun setelah Ibu yang memasak makanan, dan Ayah yang menjerang air. Rutinitasnya selalu ia yang lebih dulu bangun ketimbang saya, kemudian bersama kita mencuci pakaian seisi rumah. Jauh sebelum ada cerita tentang mesin cuci.

Kamarnya adalah tempat paling terlindung di rumah karena untuk memasukinya harus melewati banyak sekali ruang. Amat wajar untuk seorang anak perempuan yang ingin dan butuh privasi, hingga ia menuliskan semua ceritanya pada beberapa buah buku harian. Tidaklah saya pernah bertanya sebagai seorang Kakak, “Ada apa? Apa yang terjadi?”

Saya selalu menjejalinya dengan cerita saat saya patah hati, sementara ia tidak pernah bercerita masalahnya pada saya. Entah karena saya tak pernah menceritakannya atau memang ia yang enggan bercerita. Saya hanya sebatas tahu, “Oh, oNenk jadian sama si A, putus dengan si B, jadian lagi sama si C” tanpa tahu apa yang terjadi, mengapa bisa putus, dan apa yang bisa saya lakukan untuknya.

Hari ini, ia tetap menjadi teman bercerita saya di garda depan. Kita berkembang tanpa sadar, kita bercerita masalah kita tanpa lagi diminta, tanpa lagi harus bertanya dan mencari tahu. Kita cukup terlatih untuk tahu bahwa masing-masing sedang memiliki masalah dalam hidupnya. Satu yang saya sesalkan, mungkin di hari kemarin saya tidak cukup baik menjadi seorang Kakak yang mendengarkan keluh kesah adiknya hingga ia memilih bercerita dengan buku diarynya.

***

IMG-20150601-WA0001

Tyas Dwi Pamungkas sudah memiliki gelar “S.Ikom” di belakang namanya. Ia tengah bergerak menuju kedewasaan menghadapi hidup yang sebenar-benarnya. Hidup yang ia akan arungi sendirian dan pada setiap masalah yang ia hadapi, ialah yang akan menjadi hakim. Sang Pengambil Keputusan.

Tapi, tetaplah ia adik perempuan saya. Adik yang saya sayangi dan saya banggakan seberapapun ngeyel dan rewelnya. Adik perempuan yang harus saya jaga dan lindungi, yang menjadi tanggung jawab seorang anak laki-laki dalam keluarga kepada saudara perempuannya.

Hari ini pertanyaannya masih dan akan selalu sama, “Sudahkah saya memperhatikan adik-adik saya dengan baik? Dulu, kini, dan nanti?”

Dan saya akan terus bertanya, tanpa berharap mendapat jawaban yang memuaskan.

***

P.S : Tidak ada kata selamat untuk kelulusan tanpa selembar ijazah di tangan.
Bersegeralah, waktu sudah nyaris tak ada lagi.

Leave a Reply