Loading…

Cerita dari Jalanan

Lazimnya bus yang masuk ke dalam sebuah terminal, terlebih bus ekonomi, selalu menjadi sasaran empuk para pedagang asongan yang menawarkan berbagai macam produk dagangannya, mulai dari makanan kecil, gorengan, minuman, rokok hingga buku mewarnai anak-anak. Tak jarang pengamen dengan berbagai macam instrumen dan gaya masing-masing ikut menelusup ke dalam bus yang sumpek karena sistem ventilasi yang seadanya, bonus orang-orang yang sering tak tahu diri merokok di dalam bus padahal ada banyak bayi, balita dan anak kecil di dalamnya.

Siang itu, bus yang saya tumpangi masuk ke Terminal Wates. Saya sedang dalam perjalanan ke Yogyakarta. Bus dalam kondisi lengang karena sebagian besar penumpang yang diangkut dari Purwokerto hingga Kebumen sudah turun di sepanjang jalan Kutoarjo sampai Purworejo. Aneka pedagang asongan masuk menawarkan barang dagangannya, satu dua orang pengamen masuk bernyanyi sekadarnya antara niat tak niat mengamen.

Bus berjalan perlahan hampir meninggalkan Terminal Wates. Pedagang asongan yang tersisa segera menyingkir turun dari bus. Saya lihat seorang perempuan bertubuh gempal berumur sekitar 35-an, berkulit sawo matang, berambut ikal malahan bisa disebut keriting berlari-lari kecil mengejar bus sambil menenteng sebuah ukulele. Tak banyak penumpang yang diangkut dari terminal, pengamen perempuan itu leluasa memilih bangku bus yang sebelum masuk terminal memang sudah sepi. Ia duduk di deretan bangku sebelah saya, terpisah oleh gang dalam bus tempat orang-orang biasa lalu lalang.

Sepintas saya melirik penampilan pengamen itu. Tipikal, sampai akhirnya ia mengeluarkan ponsel dari dalam sakunya. Saya tertegun melihat seorang pengamen berkutat dengan ponsel keluaran Korea. Ia mengutak-atik layar sentuh ponsel, mengirim pesan entah pada siapa. Saya hanya membatin, “Asemlah, pengamen jaman sekarang udah pake Android, hapenya bermerk pun. Bahkan dibanding punya si pengamen, hape saya ndak ada apa-apanya.” Kondektur datang menghampiri lantas menyapa si pengamen. Ia tersenyum membalas sapaan si kondektur, nampak deretan gigi yang berbaris rapi berhiaskan kawat berwarna keperakan.

Dunia macam apa ini! Pengamen pakai hape canggih dan berkawat gigi?!

***

Ia memulai aksinya dengan mengucapkan kata-kata pembuka di tengah-tengah bus. Ia mainkan ukulele nya dengan alunan khas pengamen jalanan dan mulai bernyanyi.
Satu lagu…
Dua lagu…
Tiga lagu…
Saya terbengong dibuatnya.

Rekaman ini saya buat diam-diam di pertemuan kedua, kebetulan ia berdiri bernyanyi di sebelah saya. Waktu ia bernyanyi pertama kali, saya sibuk bengong memperhatikan suaranya yang lebih bagus dari rata-rata kebanyakan pengamen. Di kesempatan kedua saya tidak boleh kehilangan momen merekam suaranya.

Tidak banyak pengamen yang menyanyikan lebih dari dua lagu dalam satu kali penampilan. Tidak banyak juga yang memperhatikan kualitas vokal dan kebanyakan hanya bernyanyi sekadarnya demi recehan yang didapat dari penumpang. Mungkin yang ada di benak mereka, “Mau nyanyi bagus atau ndak bagus kalau penumpang ngasih ya dapet, kalau mereka ndak ngasih ya ndak dapet.” Khusus untuk pengamen satu ini, saya memberi lebih daripada biasanya karena perasaan terhibur yang keluar dari dalam diri saya.

Mungkin perspektif saya terhadap pengamen jalanan akan lebih baik semisal mereka bernyanyi di jalanan dengan semangat untuk menghibur para penumpang. Bukan bernyanyi asal-asalan hanya untuk mendapat sekeping dua keping recehan. Kalaupun niatnya uang, bernyanyilah dengan usaha. Mainkan dua atau tiga lagu, para penumpang tak akan segan mengeluarkan recehan bagi mereka yang sudah mengeringkan kerongkongan untuk dua atau tiga lagu tersebut.

***

Pengamen perempuan itu duduk di bangku belakang dekat kondektur yang tadi menyapanya. Berceritalah masing-masing tentang hidupnya. Pengamen perempuan tinggal di Yogyakarta, di daerah Seturan kalau saya tidak salah ingat. Kondektur bus tinggal di daerah Gombong bagian selatan. Pengamen perempuan bercerita, ia mengamen di jalanan bernyanyi dari bus ke bus untuk membantu suaminya dan menyekolahkan anaknya.

“Wah, iya Mbak. Saya jadi ingat anak perempuan saya yang baru kelas dua SMA. Kalau saya pulang kerja, sering sekali dianya sudah tidur. Ketemu sebentar cuma pagi hari,” cerita si kondektur.

Pengamen perempuan bercerita, “Kalau saya Mas, anak saya laki-laki kelas tiga SMA. Tahun depan kuliah, ia bercita-cita kuliah di ITB. Semoga ada rezekinya untuk ia masuk sana. Wes lah, kalau buat anak apa aja saya lakuin Mas, ngamen dari bis ke bis yo dilakoni.

“Satu aja yang saya ndak pengen, ketemu anak saya pas saya lagi ngamen di jalanan begini. Nanti dianya malu punya ibu pengamen.”

Perasaan saya tidak karuan mendengar kisah itu dari jalanan, demi Allah Sang Maha Pemberi Rezeki dan demi Ibu yang rela melakukan apapun demi anaknya. Bus terus melaju, di Terminal Gamping perempuan pengamen itu turun.

Leave a Reply