Loading…

Benci Banci

Orang di luar sana menyebutku banci; laki-laki yang perempuan, perempuan yang laki-laki. Ah, aku sangat menikmati tubuh wajah dan lidah yang dibalut indah kala memanggilmu “Jij” yang terucap “Yeiy” dan menyebut diri sendiri “Ik” yang terlafal menjadi “Eike”. Aku menatapmu dengan lembut teduh tanpa nafsu karena gairah itu sendiri sudah menguap ditelan waktu, dibakar hidup-hidup oleh benci yang mengiringiku sejak lahir.

Orang menyebutku banci, aku terlahir dari benci. Bertahun lalu Ibu Panti bercerita padaku ia temukan aku di depan pintu panti saat hujan deras dan petir kencang. Sedang aku hanya diam dan tak menangis, menatap Ibu Panti terbungkus rapat selimut sambil tertawa dengan dua biji mata mungil berwarna cokelat. Kini kuanggap tawaku waktu itu sebagai ekspresi dari semesta yang mengajak bercanda. Canda keterlaluan dua orang yang membuang anaknya.

Ibu Panti bilang akulah bayi paling tampan yang pernah ia temukan. Separuh Arab setengah Cina, hidung mancung kulit putih mulus dan mata sipit. Persetan, kuanggap penghasil spermaku tak lebih dari begundal Arab yang suka kawin kontrak, penghasil sel telurku tak kurang dari sundal Cina yang kekurangan hiburan. Dalam skenario otakku, mereka hanya penasaran seperti apa hasil peranakan Arab Cina. Tetapi karena si begundal Arab sudah keburu dideportasi saat si sundal Cina hamil tua, maka ditaruhlah aku begitu dilahirkan di depan pintu panti sewaktu hujan.

***

Aku tak mengerti aku dijauhi anak lain di panti. Apa salahku? Tangan kaki mata dan telingaku dua dan aku tidak membawa penyakit apapun! Saat itu kurasakan benci dari luar menginfeksiku. Jawaban perasaan sama yang aku temukan saat aku bertanya pada Ibu Panti, “Mengapa aku berada di sini sedangkan anak-anak lain di luar sana bebas memanggil dan memeluk lelaki perempuan dewasa yang dipanggil Ayah dan Bunda?”

Suatu waktu aku berada di sebuah sudut, dengan belati dimainkan di sudut pipi dan bara api teracung hampir menyentuh pelipis kananku, mereka mengerubungiku bagai semut. Aku teramat takut. Kepada mereka, aku tidak pernah melakukan hal yang salah.

“Apa salahku dengan kalian?” decitku.

“Salahmu hanyalah keterlaluan, tanyakan pada cermin mengapa kau bisa sedemikian rupawan! Sedangkan rupa kami tak lebih dari sekadar bajingan!”

Aku mencium dengki menguar di udara. Lalu sebuah teriakan menggema, kerumunan bubar. Aku masih tersudut. Sebuah tangan lembut menggamit lenganku, sedikit lebih besar daripada milikku. Kinanti, perempuan pemimpin panti, ia yang paling besar. Enam belas tahun umurnya waktu itu.

Kinanti memelukku, kurasakan hangat tubuhnya. Kurasakan dekap yang sedikit meredakan ketakutanku pada belati dan bara api. Ketenangan ada bersama lekuk lembut tubuhnya yang sedang bertumbuh, raga serupa kurva trigonometri yang sedang kupelajari di sekolah menengah.

“Jangan takut, ada aku. Aku ada untuk melindungimu. Kamu aman dalam pelukan,” bisik Kinanti.

***

Lima tahun berbilang, Kinanti menikah dengan laki-laki yang datang melamar ke panti setelah ia memelukku pertama kali. Untuk pertama kalinya aku kembali didera ketakutan. Lima tahun aku berlindung di bahu tangguh Kinanti, lima tahun itu juga aku mengetahui laki-laki tidak ada apa-apanya dibandingkan perempuan.

“Sungguh mulia Anda yang berkenan menikahi Ananda Kinanti dengan ikhlas dan kasih yang Anda punya.
……
……
Ingatlah tanggung jawab Anda sebagai suami. Dosa istri, ayah dan ibu istri, saudara istri, lelaki dan perempuan kini berada di pundak Anda, menjadi tanggung jawab Anda. Berhubung Ananda Kinanti besar di panti asuhan, maka tanggung jawab Anda adalah seluruh penghuni panti asuhan,” ucap penghulu pernikahan pada mempelai laki-laki.

Sekelumit ucapan penghulu menghenyakkanku telak di sudut aku terduduk. Dosa apa yang dibawa kami para laki-laki sehingga semua dosa perempuan dan keluarganya kami yang tanggung? Aku menatap jijik gerombolan laki-laki yang dulu pernah mengancamku dengan belati dan bara api. Mereka tak akan lolos dari dosa tanggung jawab suami saat beristri kelak. Andai aku Kinanti, aku tak akan mengikhlaskan suamiku bertanggung jawab atas segala dosa mereka.

Di ujung benak, aku teramat takut kelak menanggung segala dosaku, segala dosa istriku, segala dosa ayah dan ibu istriku, segala dosa saudara istriku. Aku takut menjadi suami.

Aku takut menjadi laki-laki.

“Mario, Mbak pamit ya?” pintanya padaku.

Kinanti pergi, ia cantik hari itu dengan senyum dibalut setelan jingga sempurna, tanpa lagi pelukan.

***

Kulihat cermin, memastikan penampilanku sekali lagi. Gelung rambut yang ditata anggun dengan ujung menuju pipi menjuntai ikal, gaun hitam berbelahan dada rendah dengan kain perca tersumpal, sepatu tinggi dengan hak sejengkal. Aku sempurna malam itu. Cahaya panggung menyinariku seperti cahaya purnama dalam aku sebagai lakon utama.

Aku bersenandung, melafalkan puisi, berdansa dalam nada diatonis minor. Aku angsa betina yang lepas dari sangkar, berusaha terbang dari kejaran takdir. Aku perempuan di panggung kehidupan. Mereka menyebutku Mariana, atau Maria. Kata mereka tak perlulah aku repot operasi plastik untuk membentuk wajah sedemikian rupa, pakaikan saja rambut palsu dan rias muka sederhana maka jadilah aku Hawa. Tak usah susah mengubah suara, aku pandai menyanyi, yang melihatku pun sepertinya tak terlalu peduli bebunyian jenis apa yang aku keluarkan dari mulutku.

Aku? Aku larut menjadi perempuan karena tak ada pengganggu; mereka yang membuatku takut dengan belati dan bara api. Sorot panggung membuatku berani menatap ke depan, walaupun aku tak tahu apa yang menungguku di sana. Kunikmati jadi seperti Kinanti yang bisa selalu menjaga diri dan melindungi.

Sekarang aku Maria, perempuan suci yang melahirkan Isa. Aku takkan sudi menyentuh lelaki-lelaki yang hanya berteriak mendewakan variasi untuk fantasi pemuas nafsu, yang dengan superioritasnya menebarkan cekam kuasa. Kutahu pasti perempuan pasti enggan dengan aku yang sedemikian. Mana ada perempuan mau dengan laki-laki dengan dada tersumpal perca?

***

Tuhan menjadikanku perempuan dalam laki-laki, laki-laki dalam perempuan. Aku percaya Tuhan ada dengan segala takdir-Nya, takdir mengapa aku bisa melewati jalan ini menjadi aku yang seperti ini. Aku percaya dengan caraku sendiri. Percaya yang tak hanya ‘trust’ atau ‘believe’, percaya yang ‘faith’.

Penanda laki-lakiku akan kubuang, tak ingin menjadi laki-laki yang kubenci, tak juga perempuan yang tak menginginkanku. Aku ada dalam ketiadaan. Tuhan membawaku sampai kesini, Ia bertanya kepadaku dengan jalan-Nya. Aku menjawab-Nya dengan caraku. Aku bukan laki-laki, bukan juga perempuan. Aku abu-abu tanpa nafsu, dalam keinginanku dan takdir-Mu. Aku akan operasi kelamin.

Ah, aku tak lagi Maria. Bukan juga Mario. Tak akan lagi sama seperti begundal Arab dan sundal Cina yang masing-masing menyumbang sperma dan sel telur lalu setelah jadi aku dibuang begitu saja di depan pintu panti. Lalu tak akan ada dosa yang kutanggung untuk pasangan dan keluarganya hingga anak cucuku kelak. Aku bebas tanpa nafsu. Aku akan seperti malaikat! Akan seperti Tuhan! Bukan laki-laki, bukan perempuan!

***

Pertunjukkan terakhir untukku. Esok hari aku akan melepas tandaku untuk memulai hidup baru. Tepat setelah aku menyelesaikan salam terakhirku di panggung ketika derak benda keras yang disusul dengan suara pecah kaca memecah gelap malam. Kutahu suara berasal dari pintu masuk teater.

Penonton berhamburan ke depan melihat apa yang terjadi. Aku menyusul ke depan setelah menyempatkan berganti pakaian. Sirine ambulan sudah meraung di depan, lengkap dengan perawat yang mengangkut korban.

“Ada perempuan muda hamil tua, mengidamkan nonton Maria. Ah, kasihan sekali perempuan itu, hamil tua mesti harus berurusan dengan mobil orang mabuk pula. Belum lagi malam ini pertunjukan terakhir Maria.”

“Bagaimana keadaannya? Bagaimana keadaan bayinya?”

“Entahlah, mungkin sekarat. Perempuan itu hanya terserempet, tapi sempat terseret.”

Brankar lewat membawa perempuan yang katanya sekarat. Aku mengenalnya. Kinanti.

***

Aku mondar-mandir di ruang tunggu seberang ruang operasi, tidak memedulikan¬† tatapan ganjil beberapa orang yang lewat dan pasti bertanya dalam hati, “Banci darimana ini?” Pertanyaan di benak mereka kulawan dengan, “Dimana suami ataupun keluarga suami Kinanti?”

Menjelang dini hari, tangis bayi terdengar. Dokter keluar dari ruang operasi dan bertanya, “Siapa di sini yang keluarga Nyonya Kinanti?” Aku celingukan mencari siapa tahu ada orang lain yang bersembunyi, atau keluarga suami yang terselip diantara mereka yang menunggu di ruang tunggu, tak kudapati.

“Ik Pak Dokter,” jawabku.

“Anda siapanya?” tanya dokter tajam.

“Ik saudaranya.”

“Silakan masuk, temui Nyonya Kinanti. Ia selamat dan sudah sadar. Trauma tadi mengharuskan kami mengeluarkan bayi dalam kandungannya. Tenang saja, bayinya selamat. Ia tampan.”

Aku memasuki ruang operasi, dengan Kinanti dan bayinya yang sudah dimandikan dan terbungkus rapat selimut.

“Hai Rio, kamu apa kabar?”

“Hai Mbak, Ik baik.”

“Kamu banyak berubah sekarang ya?”

“Ces’t la vie, Mbak. Hidup mengharuskan Ik berubah sekarang. Ngomong-ngomong dimana suami?”

“Suami tugas luar pulau. Mbak malas sendirian di rumah tadi, makanya cari udara segar di kota sambil lihat suasana, Mbak kan baru seminggu disini.¬† Sekalian ingin lihat pertunjukanmu.”

“Sayang sekali Mbak, tadi pertunjukan terakhir Ik. Besok Ik harus pindah luar kota.”

Kinanti terdiam sepuluh detik. Ia terpikirkan sesuatu dan terucap dari bibirnya, “Sebelum kamu pergi, maukah kamu mengabulkan permintaan Mbak?”

“Permintaan apa Mbak?” tanyaku

“Tolong perdengarkan adzan dan iqamat di telinga anak ini.” pintanya sembari merangkul bayi laki-lakinya dengan lembut dan sayang.

Kulihat ada cinta, bangga, haru disana; sulit kudeskripsi bagaimana.

“Mengapa harus Ik?” tanyaku.

“Kamulah satu-satunya saudara Mbak disini. Kamu masih laki-laki kan?” ia bertanya sambil tersenyum kecil, mungkin melihatku yang saat ini amat berbeda dari yang ia kenal dulu.

“Kamu nyanyi aja bagus, masa adzan ndak bisa? Masa lupa?”

Aku berada dalam situasi serba ganjil dan terdesak. Otakku melawan, batinku bergejolak.

“Hei! Mbak ndak lihat ujudmu sekarang, itu hanya tuntutan pekerjaanmu kan? Buat Mbak, Mario masih adik kecil Mbak yang paling tampan, jadi Mbak mohon dengan sangat…”

Batin dan otakku luluh dengan tatap mata Kinanti. Kuambil bayi di sebelahnya. Ia begitu kecil dan bersih. Ia laki-laki, seketika aku teringat gerombolan laki-laki begundal. Tapi Ia hanya bayi, ia takkan mengerti apa-apa. Ia malaikat tanpa bandingan. Perlahan kudekatkan telinga kanannya ke bibirku, kuperdengarkan adzan. Berlanjut ke telinga kirinya, kuperdengarkan iqamah.

‘Allahu akbar, allahu akbar.. Laa ilaaha illallaah..’ bisikku. Mengapa ada butir menggenang di sudut mataku?

Bisik itu lama tak pernah kudengarkan, atau bahkan tak kupedulikan. Bisik terakhir yang pantas membuatku kembali bertanya siapa aku dan segala fitrahku. Pantaskah aku memperdengarkan adzan kepada seorang bayi laki-laki yang baru lahir sebagai paduan suara pertama yang ia dengarkan?

Bayi laki-laki ini dilahirkan dengan cinta, sementara aku melewati sebagian besar hidupku dengan benci. Kutahu kelak ia akan menjalani takdirnya sebagai laki-laki yang hebat. Aku melihat cermin diriku yang mendewakan takdir dan tanpa sadar itu hanyalah refleksi nafsu benci. Bisa-bisanya aku berkata aku ini malaikat tanpa nafsu?

Bayi laki-laki Kinanti menangis kemudian. Tangis yang aku dengar sebagai tangis kehidupan yang pertama kali aku dengar. Tangisku runtuh di sisa malam itu.

***

Aku Mario, laki-laki, tanpa sumpal perca di dada. Menyebut diri sebagai aku, menyebut lawan bicara sebagai kamu.

Leave a Reply