Loading…

Aja Gemrungsung, Ndhes!

Gemrungsung adalah kata yang pas untuk menggambarkan kondisi seseorang saat berada dalam keadaan terburu-buru bercampur panik. Jaka Tarub Mantenan separuh berharap kosa kata ‘gemrungsung’ itu bisa masuk di salah satu lembar KBBI. Ada apa gerangan, Jaka Tarub Mantenan?

Tiga hari yang lalu, Jaka Tarub Mantenan bertemu dengan kawan lamanya. Galuh Arimbi, mereka sudah sepuluh tahun ndak ketemu. Di awal jumpa mereka mengenang harga cilok jaman sekolah dasar yang seratus rupiah masih dapat empat biji dan mengeluhkan betapa mengagumkannya inflasi, cilok hari ini seribu rupiah cuma dapat dua. Galuh Arimbi kini sudah menjadi pekerja di sebuah instansi pemerintahan, lengkap dengan calon suami.

Pembicaraan ngalor ngidul dari ba’da dzuhur hingga ashar berujung pada sebuah kesimpulan pertanyaan yang membuat Jaka Tarub Mantenan mau ndak mau kepikiran : akan jadi apa kita di lima, sepuluh, lima belas tahun mendatang? Galuh Arimbi bercerita pada Jaka Tarub Mantenan, betapa ia sudah memikirkan perencanaan untuk nge-DP rumah dan tinggal dimana, sudah merencanakan biaya haji dan akan berangkat haji tahun berapa, atau jangka paling dekatnya : tahun ini mau ambil cuti tahunan untuk liburan kemana.

“Kamu mikirin opo tho Rub? Kok aku cerita kamu diem aja, ndak ada tanggapan,” tanya Galuh Arimbi.

“Ndak pa pa Mbi, kamu ndak berubah ya? Tetep temen SD aku paling pinter, paling jago ngerencanain. Dan aku masih bertanya sama diri sendiri hidup aku mau dibawa kemana, padahal umur sudah sebegini.”

“Halah Rub, kamu cowok. Aku cewek, di umur yang dua puluh lima tahun ini wajarlah kalau aku udah berpikir ke arah sana. Hidupmu baru saja mulai, tapi seenggaknya mulailah concern sama apa yang menjadi tujuan hidupmu. Yah, selamat mengalami quarter life crisis yoo.”

***

Krisis seperempat baya.
Jaka Tarub Mantenan ndak pernah merasa mengalami krisis sebelumnya, kecuali krisis akhir bulan saat isi dompet cekak. Ia enjoy dengan hidupnya sampai obrolan dengan Galuh Arimbi lalu disusul dengan undangan pernikahan yang berentetan kayak orang merokok sambung. Satu undangan pernikahan dari kawan SMA, dua undangan pernikahan dari teman kuliah, lengkap dengan foto pre-wed yang membikin beberapa kalangan iri.

Ia bertanya pada diri sendiri, “Sudahkah aku memilih pekerjaan yang tepat sebagai sumber pendapatan untuk hidup, sudahkah aku memilih pasangan yang tepat, sudahkah membuat perencanaan hidup yang baik untuk kehidupanku di beberapa tahun mendatang kalau perlu perencanaan hidup sampai perkiraan akan mati?” Mbundhet, sementara ngelihat kawan-kawannya sudah pada punya kehidupan sendiri dengan sumber pendapatan dan pasangan masing-masing, sepertinya mereka bahagia. Dan sukses.

Jaka Tarub Mantenan mempertanyakan dirinya sendiri.

Dari dulu, Jaka Tarub Mantenan hanya mudheng bagaimana melanjutkan hidup; bekerja, ngumpulin duit, nyari cewek, lalu mbojo, melanjutkan hidup lagi disambi galau dikit kalau-kalau di tengah mendadak diputusin cewek. Dan sekarang ragam pertanyaan itu mendadak muncul, disusul gemrungsung karena bahkan ia masih belum memulai apa-apa saat teman-teman sebayanya sudah ‘find a girl, settle down, if you want you can marry her.’ kayak lagunya Cat Stevens yang Father and Son.

Jaka Tarub Mantenan hanya hafal kelanjutan liriknya.
~look at me, i’m old but i’m happy…

***

Gemrungsung berujung uring-uringan, Rara Sekar Melati jadi korban.

“Mas, ada apa tho? Dari kemarin mbesengut melulu. Kamu ndak lagi PMS kan?” tanya Rara Sekar Melati.

“Ndak pa pa kok Yang, lagi banyak pikiran aja.”

“Ndak mau cerita sama aku? Habisnya kamu dari kemarin diem dan bengong melulu waktu aku ajak ceritaan.”

“Aku ndak mudheng’e Yang mesti ceritanya diawali dari mana.”

“Oh, jadi kamu sekarang gitu sama aku?! Jadi kamu lebih menyimpan semuanya sendirian? Atau jangan-jangan kamu punya cewek lain??

“Eeeh, ndak Yang! Ndak gituuu…”

“Ya udah, BYE!” seru Rara Sekar Melati sambil lalu.

“Sayang tunggu…!!”

Dan yang tersisa hanya seruan yang ditelan angin, kalah sama seruan adzan subuh yang bisa membuat orang bangun lalu sembahyang. Meninggalkan Jaka Tarub Mantenan yang bengong sembari bergumam lirih, “Yang sebenarnya sedang PMS itu siapa tho?”

***

Singkat kata Jaka Tarub Mantenan diajak ke warung angkringan sama kawan-kawannya, sekadar ngopi dan ngobrol ngalor ngidul membicarakan hidup. Kebanyakan hidup orang lain, sebelas dua belas sama obrolan ibu-ibu yang sedang ngumpul di arisan atau di gerobak tukang sayur.

“Weh Rub, kowe udah terima undangan dari Diajeng Larashati belum? Adik angkatan kita yang dulu paling ayu itu lho?” tanya Bambang Mardjoko yang tak berkumis macam Pak Dalang. Entahlah, mengapa nama Bambang selalu dianalogikan dengan kumis tebal, dan Bambang yang satu ini sedang anti mainstream.

“Iyo, aku dapet kok. Iku calonnya gelarnya berentet Mbang, depan belakang ada! Karuan aja Diajeng mau. Madecer — masa depan cerah,” gerutu Jaka Tarub Mantenan sambil duduk jegang angkat kaki di kursi dan nyeruput wedang kopi jahe.

“Halah, iku kamu sirik aja Rub! Masih kebawa perasaan opo pas jaman dulu kamu pedekate sama Diajeng lalu ditolak?” gurau Ahmad Sutejo. Konon ia adalah cucu kiyai terkenal, darah bisa keturunan kiyai, kelakuan masa kini yang entahlah.

“Halah, udah ndak ada urusannya sama itu tho? Perempuan yo realistis aja. Gelar depan belakang, janji kehidupan mapan siapa yang ndak mau?” ujar Jaka Tarub Mantenan sembari menggerutu.

“Hahaha, iya yo? Kita ini kaum madesu — masa depan suram. Aku kalau ndak madesu, mana bisa nongkrong di warung angkringan sama kalian-kalian ini.. Hahaha..” sambung Bambang Mardjoko.

“Weh.. weh.. Inget ndak sama Dinar Nurjanah, temen SD-mu Rub yang jadi biduanita cantik kampung sebelah? Inget kan waktu kita kondangan dia rabi bulan Januari dulu. Akhir bulan Agustus atau awal bulan September ini dia mau babaran lho?! Simbokku kemaren ketemu sama simboknya dia?” serobot Karyo Wisanggeni, penyebar gosip paling ampuh. Kalau “Weh.. weh..” di awal kalimat sudah terucap, bersiaplah menyingkir dari semburan gosip yang keluar dari mulutnya.

“Weh.. weh.. kan aku ngitung sama simbokku. Kalau dia rabi bulan Januari, yo lahirannya bulan September tho yo? Bukan akhir Agustus?” lanjut Karyo Wisanggeni.

“Wah! Itu ada dua kemungkinan.. Antara suaminya yang joss gandhos bikinnya atau emang udah nandur duluan dari sebelum mereka nikah,” tanggap Bambang Mardjoko.

Jaka Tarub Mantenan ingin sekali ikut dalam topik pembahasan ini. Tetapi Dinar Nurjanah adalah teman sepermainan mereka selagi kecil, ia ingin angkat bicara sampai pada akhirnya…

“Hei, iki kok malah jadi ngomongin orang sik? Dinar Nurjanah itu kawan kita kan? Ya selayaknya orang lagi meteng dan mau babaran kita doakan saja yang baik-baik lah. Perkara itu siapa yang bikin, dan bagaimana bikinnya itu bukan urusan kita kan?” Ahmad Sutejo mengingatkan. Keturunan kiyai itu bukan mitos.

“Wah iyo bener itu, yang penting siapa Bapaknya. Ya kalau bener Bapaknya itu bener suaminya, ndak ada masalah! Hahaha.. Jangan-jangan malah kamu yang nandur duluan Yo,” seloroh Bambang Mardjoko pada Karyo Wisanggeni.

“Isshh.. ngawur kowe! Kalau aku nandur duluan yo aku tho yang bersanding di pelaminan,” kata Karyo Wisanggeni tak mau kalah.

“Sudah.. sudah.. Malah pada debat.
Kalo secara ilmu, kata pacarku yang bidan dulu itu, itungan minggu orang meteng itu ndak dari tanggal bikin anaknya kok. Itu diitung dari tanggal si cewek hari pertama datang bulan terakhir,” jelas Jaka Tarub Mantenan. Kawan-kawannya manggut-manggut.

“Dan itungan masa subur itu biasanya lima belas hari setelah si perempuan dapet hari pertama. Umur kehamilan itu dihitung minggu, bukan bulan. 38 minggu kalo ndak salah. Yo saiki mikir bagusnya aja, bisa aja pas mereka rabi, pas bininya lagi subur?” lanjut Jaka Tarub Mantenan.

“Sik.. sik.. yo tetep aja ndak masuk itungan tho kalau rabi bulan Januari babaran bulan Agustus?!” bantah Karyo Wisanggeni ndak mau kalah.

“Issh, gini-gini aku udah merguru sama pacarku dulu yang bidan. Bidan ngitung awal minggu orang meteng itu dari hari pertama di periode terakhir perempuan datang bulan. Yo nek hari pertama ia dapet terakhir di bulan Desember njur Januari mereka bikin anak terus jadi jabang bayi, itungannya bidan ya dari bulan Desember Ndhess!”

“Whoo, jadi ndak ada masalah ya kalau lahir bulan Agustus kalau emang udah waktunya?” tanya Bambang Mardjoko.

“Yang masalah itu kalian, yang ribet dan terlalu ngurusin isi rahim orang!” ucap Ahmad Sutejo.

Percakapan malam itu diakhiri dengan bubarnya forum di warung angkringan. Menyisakan tukang bakul angkringan yang manggut-manggut dapat ilmu soal menghitung masa subur perempuan.

***

Sesampainya di rumah, Jaka Tarub Mantenan mengerti setiap orang sudah ada jalannya masing-masing. Ia hanya tinggal ngelakoni, ada sebab ada akibat. Setiap langkah yang ia ambil pasti memiliki konsekuensi. Diam tak melakukan apa-apa pun memiliki konsekuensi tidak akan mendapatkan apa-apa.

Niat ingsun ngelakoni, sabar, ikhlas.
Ikhtiar, tawakal.
Ia teringat apa yang diajarkan Ibunya.

Gemrungsung tak akan membawa hasil, gemrungsung selalu melahirkan pikiran yang tak senonoh macam prasangka terhadap temannya yang sudah rabi, hanya karena gemrungsung ndak rabi-rabi lantas diomong sudah meteng duluan.

“Bismillahirrahmaanirrahiim..” bisik Jaka Tarub Mantenan kepada diri sendiri. Sesungguhnya ia juga sedang berbicara kepada Tuhan Penciptanya.

Ia ambil henpon yang tergeletak di mejanya, menelepon Rara Sekar Melati yang mungkin sekarang masih mecucu. Mengajak ngobrol soal krisis seperempat baya, perencanaan hidup satu dua tahun ke depan, atau mungkin perhitungan masa subur perempuan.

Leave a Reply