Loading…

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-6; Untuk @NiaNoor

Sebelumnya aku harus meminta restu terlebih dulu pada Sang Kekasih untuk menulis surat ini. Surat yang ditujukan pada seseorang yang memberikan kenangan pertemuan pertama denganku menjadi mengesankan, orang itu tak pernah kutemui lagi sekarang. Kekasihku langsung tahu kepada siapa surat ini akan kuberikan. Ia tertawa lebar, meledekku. Kalian mungkin saling mengetahui meskipun tak saling mengenal.

***

Hai, Lady Petrichora.

Siapa yang pernah menyangka dalam hidup aku pernah mendatangi seseorang pada sebuah sore mendung, jauh-jauh dari Purwokerto ke Wonosobo tanpa perencanaan, sembunyi dari kekasih bak pengecut yang pemberani karena waktu itu jengah dengan keadaan, yang dengannya kini sudah berstatus mantan?

Semua itu, KLIK, terjadi begitu saja. Berawal dari surat cinta yang kukirimkan tahun lalu tertuju kekasihku. Tetapi dengan kamu membacanya seolah seperti itu ditujukan padamu. Aku beranggapan semesta seperti mengaturnya, kemudian aku mengambil keputusan, “Kita harus bertemu.”

Meet the strangers. Aku, kamu, sama saja baru pernah melakukannya. Saling mengontak di kali pertama dan bertemu esok harinya. Siapa menduga obrolan sore kita berujung pada santap dua mangkuk mi ongklok khas Wonosobo disambung dengan dua gelas cokelat hangat yang kita nikmati bersama pandang deret cahaya lampu kota di bawah kaki kita?

Ya, kafe di sudut jalan itu ada di ketinggian. Aku bercerita keluhan dan kisah petualangan, kamu bercerita tentang prinsip hidup dan pengalaman. Satu yang kutangkap, kamu amat berbeda dari perempuan kebanyakan. Perempuan penyuka sastra dan puisi, yang mengerti literasi.
Dan mencintai kopi sebagai sebuah kehidupan.

Aku tak ingat betul perselisihan macam apa yang membuat kita kemudian tak saling sapa. Ah iya, kamu menganggapku drama. Baik, aku memang aktor tampan calon pemenang Oscar!

Puas kamu?
🙂

Sudahlah, semua sudah berlalu. Hari ini ada satu hal yang ingin kuucapkan.

Terima kasih banyak.
Terima kasih buatmu yang berkata, “Segala yang kamu alami akan sangat disayangkan kalau didiamkan dalam pikiran. Nanti keburu lupa karena memori manusia sangatlah terbatas untuk mengingat-ingat yang sudah lewat.”

Terima kasih karena telah mencetuskan ide di dalam diriku untuk kembali menulis. Puisi, narasi, pengalaman dan prinsip hidup, pandangan dan kritisi pada dunia, apapun itu.

Terima kasih untuk satu hari hujan dan kita duduk saling membacakan puisi, bersebelahan.

Terima kasih terbesarnya karena kamu telah mempertemukan aku dengan kekasihku @ristinafauzia, entah langsung atau tidak. Tanpa kamu, aku ndak akan pernah memasuki dunia Malam Puisi Purwokerto dan mengenal seisinya. Andai tidak bertemu denganmu, aku takkan pernah sampai di hidupku hari ini yang penuh dengan kebersyukuran dan harapan.

Sehat-sehat kamu disana, dimanapun itu.
Selalu bahagia dengan kekasihmu.

Salam,
@septyoup.