Loading…

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-5; Untuk @ratnaamaliap

IMG_20150203_111921

Hai Un!
Masih cuma aku yang memanggilmu dengan sebutan ‘Un’ kan? Reyno Rivelino tidak cemburu? Tenang, Ristina Fauzia (sepertinya, seharusnya) tidak akan cemburu padamu. Tidak seperti mantanku sebelum ini yang kamu-tahu-sendirilah.

Tertawa? Sepuasnya disilakan.
Eh, kamu ingat ndak kapan terakhir kita bertemu? Lebih setengah tahun lalu sewaktu aku akan berangkat ke Pulau Buru kan? Waktu itu sebelum puasa kalau ndak salah. Waktu melesat cepat ya? Dan aku senang karena kita akan bertemu lagi setelah ini di Kampus LIPI Karangsambung.

Mari kita didik peserta Kuliah Lapangan angkatan 2012 dengan dera siksa yang lebih-lebih-lebih dari Perekrutan Dokter Bumi!
*evil laugh.

Sudahlah, aku ndak akan banyak mengumbar kata. Kamu pun ndak akan mempan kugombal macam-macam. Lagipula buat apa aku menggombal?

Aku-kamu-mati rasa, adalah segitiga AFM yang terjadi di antara kita dari dulu. Ya, waktu sudah melebur semua. Lebih dari apa yang bisa kita rasakan, jauh dari apa yang kita bayangkan. Hingga masing-masing dari kita tak pernah merasa saling menghilangkan atau kehilangan.

Kecuali kamu yang selalu bilang sama aku, “Jahat kamu ya? Ke Bandung gak bilang-bilang.”

Baik, statement di atas adalah jawaban untuk pertanyaan dari wartawan infotainment, “Jadi ada hubungan apa antara Saudara dengan Ratna?”

Dikatakan kalau mereka mengharapkan jawaban lebih dari, “Kita cuman temenan aja kok.”

Un, aku senang lihat fotomu sama Reyno di foto booth kondangan entah nikahannya siapa. Kupikir itu foto studio. Ristina lebih dulu tahu itu foto booth kondangan. Sudahlah, Ristina memang tahu segalanya. Apalah aku ini, bahkan kode-kode yang ia tebarkan aku tak pernah mengerti.

Aku ingat betul, jauh bulan sebelumnya kamu masih terdampar di dimensi antah berantah. Kuajak bicara kamu melamun entah kemana, begitupun dengan semua teman-teman. Kamu kurus, pucat, dan tidak seksi. Lawan bicaramu tak bisa menyeretmu keluar dari dimensi yang kamu ciptakan di kepalamu. Aku tak pernah menyalahkanmu Un, ndak seorangpun bisa menyalahkan. Justru semuanya merasa bersalah karena ndak bisa melakukan apa-apa buatmu.

Semua merasa kehilangan, tapi ndak ada yang sebesar rasa kehilanganmu waktu itu. Semua merasa sedih, hingga tak ada yang kuasa mengucapkan penghiburan untuk diri sendiri, apalagi buatmu. Semua ingin sekali memelukmu, mengajakmu bermain-main dan ceria kembali. Tetapi seperti tidak ada yang berani karena takut hanya akan membuat kamu makin sedih dan kehilangan.

Allah Yang Maha Besar masih memelukmu, menyayangimu lebih dari yang kita bisa lakukan dan bisa kita bagi. Dan aku bersyukur kamu menyadarinya sepenuh jiwa, aku bersyukur kamu yang menemukan dirimu sendiri bersama Allah yang menuntunmu.

Ah! Demi apapun, aku bahagia untuk kebahagiaanmu. Semua sahabat dan kawan kurasakan merasakan hal yang demikian.

Un, besok kita ketemu di Karangsambung ya. Kita sambung cerita-cerita lagi tentang hal absurd melebihi abjad, cerita tentang hal yang entah berantah yang tak tentu dimana pangkal dan muaranya.

Sampai ketemu.
Tetap sehat, jangan lupa bahagia dan bersyukur.

Salam hangat,
@septyoup.

P.S : Surat ini ndak cukup mewakili apa yang ingin aku bilang tentang kebahagiaanku karena kamu bahagia. Di dalam sini *nunjuk ke dada, udah meluap kemana-mana melebihi banjir kota Jakarta. You always know me as a lebay person, but you trust me, kan?
🙂

P.S.S : 4×4 = 16. s4 g s4 KUDU dbls.
:))

Leave a Reply