Loading…

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-4; Dari Eyang Kakung untuk Kalian Semua

IMG_20150202_091123

Lelaki selisih generasi di sebelah saya adalah Eyang Kakung. 90 tahun, sudah kesulitan berjalan tetapi masih bersemangat mencabut rumput, membantu mengupas bawang merah dagangan Eyang Puteri, dan sesekali menyapu lantai rumah. Waktu itu malahan saya pergoki beliau hampir memanjat pohon pepaya di depan rumah dengan posisi tangga sudah terpasang. Untung pas saya lalu, bersegera mengambilkan pepaya yang sudah matang untuk beliau. Foto di atas saya ambil beberapa minggu yang lalu, ketika iseng-iseng duduk di sebelah beliau pada sebuah pagi, sambil berjemur.

Beliau bercerita banyak pada saya. Oh iya, fungsi pendengaran beliau sudah berkurang. Jadi untuk bercakap-cakap dengan beliau haruslah mengeraskan volume suara, mendekatkan mulut ke telinga, atau dibantu isyarat tangan.

“Le, temanmu yang kemarin itu anak mana?”

“mBantul, Mbah,” jawab saya sambil menebalkan bibir di konsonan ‘mb-‘ dan mengerucutkan bibir pada vokal ‘u’.

“mBantul nya dimana?”

“Kota,” kali ini dengan mulut membulat huruf ‘o’ dan menganga huruf ‘a’ lebar-lebar.

“Oooh, mBantul itu kan Srandakan ngetan, terus Palbapang ngalor tho?”

“Ho’oooh Mbaaaah.”

“Dulu, Mbahmu ini pernah bawa dokar sampai sana Le. Bahkan sampai daerah Gembira Loka.”

Rumah Eyang Kakung ada di Wates, Kulon Progo. Jadi bayangkan saja betapa capek kuda milik Eyang kalau harus jalan menarik pedati berpenumpang sampai Gembira Loka sana.

“Bagaimana kerjaanmu?”

“Minggu depan berangkat, Mbah.”

“Minggu depan? Kerjaanmu sudah tetap kan?”

“Sampun Mbah.”

“Ya sudah kalau begitu. Saranku, jangan terburu-buru menikah kalau pekerjaanmu masih belum jelas.
“Yang terpenting adalah sabar, Le. Dulu Mbahmu menunggu dua tahun untuk melamar Mbah Putrimu karena harus menunggu kakak perempuan Mbah Putri dinikah orang dulu.”

Kemudian saya sadar, pembicaraan ini akan jadi menarik. Tentang sejarah hidup Eyang Kakung dan karuhun-karuhun.

“Apa yang Simbahmu lakukan? Simbah hanya bisa bersabar, berpasrah pada Yang Maha Kuasa kalau jodoh itu ada tempatnya.
“Toh pada akhirnya Simbah jadi juga dengan Eyang Putri, walau jaman dulu yang langganan naik dokar Simbah ini perempuan cantik-cantik.”

Eyang Kakung tertawa.
Saya juga.

***

Beberapa hari berselang Eyang Kakung sakit. Muntah-muntah dan tidak mau makanan masuk ke dalam perut, badannya lemas. Mantri desa dipanggil Bapak untuk menangani Eyang, akan tetapi obat yang diberikan tidak kunjung mendatangkan kesembuhan.

Eyang Kakung kemudian dirujuk ke RSUD Wates diantar Budhe, Bulik, serta Kakak sepupu yang jauh-jauh datang dari Purworejo. Mereka mengamanahkan saya dan Bapak untuk bergantian menunggui Eyang Kakung. Malam pertama di Rumah Sakit jatah saya jaga. Eyang terbangun setiap setengah jam sekali untuk mengeluarkan isi perutnya. Tak melulu makanan, hanya keluar cairan. Muntah demikian berulang membuat perut amat pegal dan menyakitkan, terlebih untuk orang seumur Eyang Kakung.

Pukul 3 pagi, sambil terengah setelah muntah Eyang Kakung berkata pada saya, “Walah Le, kok aku sakit malah jadi kamu yang repot?”

“Yaelah Mbah, orang aku masih ada waktu dan kesempatan dan yang lain juga pada sibuk, siapa lagi yang ngerawat Simbah?” jawab saya.

“Le, aku udah capek. Udah 90 tahun. Aku udah pasrah kalau Yang Maha Kuasa manggil aku deket-deket ini.”

“…”

“Aku minta maaf yo Le, kalau besok aku ndak bisa hadir di pesta pernikahanmu…”

Eyang Kakung melanjutkan tidurnya dengan igauan “Laa ilaaha ilallah..” terus menerus. Saya bengong menanggapi ucapan Eyang Kakung yang sedemikian pasrah dengan keputusan umur. Lebih bengong lagi karena hal tersebut diucapkan pukul 3 pagi buta.

***

Hari ini, Eyang Kakung ada di rumah. Terakhir saya lihat beliau sedang tidur-tiduran di balai-balai depan rumah sambil berjemur menikmati matahari pukul 8 pagi. Eyang Kakung akhirnya sembuh. Selama beberapa hari dirawat, makanan rumah sakit hanya sedikit yang mau masuk ke perut. Selebihnya beliau hanya mau makan cincau yang dibelikan Mbak Diah, kakak sepupu saya. Sehari sebelum kepulangannya Eyang Kakung malah ngidam makan soto.

“Le, belikan aku soto. Kayaknya seger makan soto panas-panas pake nasi.”

***

Leave a Reply