Loading…

#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-3; Untuk Bosse @PosCinta

logo-pos-cinta-retouch1Aloa Bosse!
Apa kabar? semoga Tuhan senantiasa melimpahkan segala kebaikan untukmu. Selalu diberikan kesehatan dan anugerah berupa semangat mengirimkan surat-surat mereka yang jatuh cinta setiap hari. Lewat surat ini, saya hanya ingin mengucap sebanyak mungkin terima kasih.

Saya suka menulis, hanya saja masalah terbesar saya adalah inkonsistensi. Terima kasih pertama kali saya berikan pada Bosse @PosCinta karena lewat program #30HariMenulisSuratCinta-nya saya selalu memiliki alasan untuk menulis setiap hari. Disamping itu, selalu ada ide-ide lain terbersit di pikiran ketika menulis sebuah surat pada seseorang. Sekonyong-konyong muncul dari ruang hampa di pikiran benih ide yang harus saya tuliskan pada saat itu juga. Ia tumbuh menjadi kata, menjadi paragraf, menjalin cerita.
Utuh.

Bagi saya, saat ini adalah saat yang menurut orang lain ‘paling malesin’. Bagaimana tidak? Di usia produktif yang seharusnya orang-orang bekerja menghasilkan uang agar berguna minimal untuk dirinya sendiri, yang terjadi pada saya adalah sebaliknya.
Ya, saya menganggur. Pekerjaan saya saat ini adalah mencari pekerjaan dari situs lowongan pekerjaan.

Melalui #30HariMenulisSuratCinta, ada banyak hal yang saya syukuri saat ini. Syukur paling utama adalah saya memiliki kelimpahan waktu untuk memperhatikan orang-orang di sekitar saya yang amat saya sayangi. Syukur berikutnya adalah saya sadar bahwa saya masih memiliki semangat melanjutkan hidup. Setidaknya saya masih bisa menuliskan sesuatu, yang saya yakini itu sangat berguna, meskipun bidang utama yang saya geluti amat jauh dari dunia literasi.
Yap, saya lulusan S1 Sarjana Teknik Geologi yang melulu berurusan dengan gunung, sungai, hutan, dan batu.

Ada yang bilang, menulis itu membuat waras pikiran, menulis itu menyembuhkan, dan puluhan manfaat menulis lainnya. Lalu dengan menulis surat cinta setiap hari, saya menyadari kalau cinta adalah salah satu elemen penting dalam hidup manusia untuk bertahan hidup. Ia memang tak dapat berdiri sendiri. Akan tetapi jika ia tak ada, matilah kita.
Klise? Memang!
Tapi bukankah sangat menyenangkan jika bisa jatuh cinta setiap hari? Menatap hidup penuh kebanggaan, memandang hari ini dengan syukur dan berpanjat doa untuk segala kebaikan di esok harinya?

Karena surat cinta yang dikirimkan selama 30 hari secara kontinyu membuat saya terus bertanya, “Akan saya berikan kepada siapa cinta ini esok hari? Masihkah saya memiliki cinta untuk dibagi-bagi hingga hari esok?” Dan saya tidak rela kehabisan stok rasa untuk dibagi di hari yang akan datang.

Dengan demikian, saya pun tidak memiliki alasan untuk berhenti mencintai. Minimal mencintai diri sendiri.
Ya, saya akan terus-menerus mencintai.

Terima kasih banyak, Bosse.
Karena telah menjaga pikiran saya agar tetap waras.
Salam hangat,
@septyoup

Leave a Reply